Rabu, 23 November 2011

Geguritan

Gegurutan kuwi prinsipe pada karo puisi Indonesia modern. Ana geguritan kang sifate peteng (prismatis) ana uga kang asifat padhang (transparan). Kuwi manut angel lan gampange anggone maca nganti mudheng (pemahaman).
Nanging kudu dingerteni yen prinsip nulis geguritan kuwi ya ora beda karo nulis karya sastra liyane, kayata prosa. Kudu disiyagakae saka ngarep: (1) gagasan apa kang arep diwedharake (tema lan amanat), (2) terus ditata nganggo alur sing runtut, dadi ora mencolot mrana mrene, (3)dilakoke nganggo tokoh sapa, aku lirik apa wong liya (aku lirik ora kudu pada karo aku penulis), (4) sukur ana pidakane setting wektu lan panggunan sing cetha, (5)terus disimpen ing gaya bunyi, gaya kata, gaya kalimat, lan majas kayadene metafora lan personifikasi. Sing banget mbedakake antarane geguritan lan prosa, punjere mung ana ing tembung SINIMPEN, tegese ora blaka.

Bonari Nabonenar:

G U R I T
gurit mung papan kanggo istirah
kayadene gubug cilik
ing tengah sawah ing antarane kemreceke manuk emprit ngonceki gabah

gurit mung papan kanggo istirah
kanggo sayah apa kanggo kang makarya wegah

gurit mung papan kanggo istirah
kayadene gubug cilik ing tengah sawah
ramerame mbakar jagung nyadhong wangsit
gendhakan dhedhemitan
gendhakan karo dhemit
dhemit gendhakan
ing gubug cilik ing tengah sawah

gurit mung papan kanggo istirah
tembungtembug ukaraukara padha sayah
sawise dirodhapeksa diajak nyebarake dora
apuskrama lan pitenah

gurit mung papan kanggo istirah

17 januari 1988


RAMA SHINTA
Uripna uripe damar ing telenging jiwa
Shinta, jalaran aku asipat langit
Lan sliramu iku critane bumi
Awan lan wengi pinesthi
Manunggal ing donya langit
Ngrukti wiji wijiling rasa

Katresnan ora bakal pinisah
Samodra bawera lan alas gung
Shinta, dheweke mardika
Menyang endi kudu tumiba
Kaya lumepase warastra
Ngaras akasa

Dening: Widodo Basuki
Meditasi Alang- Alang, Kumpulan Geguritan 2004

Tugas:
Silakan tulis komentar berupa ulasan dalam bahasa Indonesia tentang nilai estetis satu geguritan yang dimuat di majalah berbahasa Jawa, lengkap dengan teks geguritan, nama pengarang, nama majalah, nomor edisi, dan tanggal terbit.

28 komentar:

  1. FARAH NUR AFINI
    NIM. 2611411018
    GEGURITAN
    Yen Rembulane Moblong, Paman
    Dening I. Kunpriyatno
    yen rembulane moblong, paman
    aku kangen sanja menyang plataranmu
    nggelar klasa sangisore wit gayam
    jejadhuman karo ngematke swarane
    bocah – bocah sing padha dolanan
    yen rembulane moblong, paman
    aku kangen ngrungokake gumelegere guyumu
    sanadyan sawah lan tegal siji mbaka
    siji ilang. Sanadyan anak lanang
    milih ngumbara ing paran
    suthik ngopeni lemah warisan
    yen rembulane moblong, paman
    aku kangen nyekseni marang keteguhanmu
    nggegem sawijining kapitayan. Ngadhepi
    owah – owahane jaman. Kaya watu karang
    sing ora nate gigrig nantang jumlegure
    alun ing satengahe wahudayan
    Penjebar Semangat;Nomor 50. 12 Desember 2009


    NILAI ESTETIKA GEGURITAN
    Nilai estetika dalam suatu geguritan dapat dilihat dari berbagai sisi. Dari aspek maknanya sendiri, geguritan berjudul “Yen rembulane mbolong, paman” memiliki nilai estetika dalam makna tersurat yang menggambarkan mengenai kerinduan “aku liris” kepada sosok “paman”. Kerinduan yang memunculkan paradigma bahwa sosok “paman” dalam geguritan adalah sosok yang mengagumkan sehingga membuat “aku liris” begitu menyukainya karena sifatnya yang luhur, humoris, penyayang, teguh pendirian, kuat, dan sabar.
    Sedangkan dalam makna tersiratnya, geguritan ini menggambarkan bahwa orang yang baik akan selalu indah dalam kenangan seseorang, begitu juga bahwa dalam menjalani hidup, setiap orang hendaknya selalu sabar dalam menghadapi segala cobaan dan teguh pendirian. Nilai estetika yang lain yaitu dari aspek bunyi dalam geguritan. Dari aspek bunyi, dapat kita temukan rima akhir baris yaitu:
    • milih ngumbara ing paran
    • suthik ngopeni lemah warisan
    Selain itu, dalam aspek bentuk ditemukan majas hiperbola dalam geguritan diatas seperti dalam baris yang berbunyi :
    • aku kangen ngrungokake gumelegere guyumu
    Kemudian terdapat pula majas simile yang membandingkan keadaan penyifatan paman yang kuat dan teguh pendirian dengan gambaran batu karang, yaitu :
    • aku kangen nyekseni marang keteguhanmu
    nggegem sawijining kapitayan. Ngadhepi
    owah – owahane jaman. Kaya watu karang
    sing ora nate gigrig nantang jumlegure
    alun ing satengahe wahudayan
    Setelah kita melihat beberapa aspek diatas, dapat pula kita melihat nilai estetika dari geguritan diatas yang berupa diksi/pilihan kata. Dalam hal ini, geguritan menggunakan diksi berupa bahasa jawa ngoko disertai dengan bahasa-bahasa kias lain yang menimbulkan keapikan dari segi irama dalam membaca geguritan tersebut. Disamping itu jika kita lihat dari pengulangan kata “aku kangen” disetiap baitnya, penulis sepertinya ingin menunjukkan sesuatu kepada pembaca. Penonjolan kata tersebut dapat kita maknai bahwa sosok “paman” yang dirindukan “aku liris” sudah tidak ada lagi raganya/meninggal, sehingga penulis akhirnya menonjolkan kata “aku kangen” dengan menulisnya secara berulang karena sudah tidak mungkin untuk menemuinya lagi. Dari segala nilai estetis yang ada inilah, dapat kita ambil kesimpulan bahwa geguritan karya I. Kunpriyatno ini bersifat penggambaran mengenai kekaguman dan kerinduan pada sosok orang pada masa lalu yang telah mengisi memori “aku liris” dan memang pantas untuk di kagumi olehnya, yaitu sang paman.

    BalasHapus
  2. URIPATUL AENI
    2611411005

    ANALISIS GEGURITAN

    KELINGAN

    Dening : Fitri Nurhayati

    Tansah ngumbara wira-wiri
    Ketar-ketir nggoleki jati dhiri
    Umpama prau kang lumaku :
    Oling
    Kasempyok ombak segara.
    Banjur kelingan ngendikane bapak
    “Nduk, lakonana uripmu kanthi esthi
    Aja mengo,
    Sadurunge methik gegayuhanmu.
    Mengo lan manthuka,
    Yen kabeh pangajabmu,
    Antuk ijabah Gusti Kang Murbeng dumadi.
    Aja nganti lena,
    Kang kudu koklakoni kanggo nggayuh urip kang sejati,
    Lakonana !
    Aja sulap nyawang donya.”

    (Kapethik saka : Antologi Geguritan Paguyuban SLENK)



     Tema : kekarepan
     Amanat : jikalau kita ingin meraih cita-cita pandanglah ke depan, jangan menengok ke belakang. Dan jika keinginan kita telah tercapai, jangan sampai kita terlena oleh harta.
     Point of view : Orang pertama tunggal (aku) tapi bukan aku lirik.
    Analisis geguritan bisa dilakukan dengan menganalisis gaya bahasa. Gaya bahasa meliputi gaya kata dan gaya kalimat. Dalam analisis gaya bahasa yang dibahas adalah diksi, fonologi, morfologi, fraseologi, dan sintaksis.

    A. Gaya Bahasa

    1. Diksi

    Kajian diksi dilakukan dengan memperhatikan aspek etimologi dan semantik. Diksi pada geguritan ini pastinya memanfaatkan diksi bahasa daerah, terutama bahasa Jawa. Baik diksi bahasa Jawa kuno ataupun bahasa Jawa yang baru. Beberapa kata Jawa Kuno Pada geguritan di atas salah satunya kata lumaku. kata ini berasal dari kata laku dan mendapat seselan um. Kata lumaku sendiri berarti berjalan. Kata selanjutnya adalah kata kasempyok , dimana kata itu merupakan kata yang berasal dari bahasa Jawa kuno yang berarti “kena” (dalam bahasa Jawa). Ataupun terkena sesuatu yang menyebabkan benda tersebut bergerak, dalam hal ini biasanya dikaitkan dengan gerakan angin.

    2. Fonologi
    Tataran bahasa yang kedua adalah fonologi. Fonologi itu sendiri adalah cabang ilmu linguistik yang mempelajari bunyi bahasa. Tataran fonologi pada geguritan ini ditekankan pada perulangan bunyi. Kemudian Perulangan bunyi ditekankan pada pada perulangan bunyi seperti asonansi dan aliterasi. Asonansi adalah perulangan bunyi hidup. Sedangkan aliterasi adalah perulangan bunyi mati. Ketar-ketir nggoleki jati dhiri. Kata yang bergaris bawah merupakan bunyi asonasi. Karena mengulang bunyi i di akhir kalimatnya. Perulangan ini menimbulkan nilai estetik tersendiri.

    BalasHapus
  3. URIPATUL AENI
    2611411005

    3. Morfologi
    Tataran morfologi yang dibahas adalah beberapa morfologis. Pertama adalah penggunaan afiksasi yang ditemukan dalam geguritan tersebut. Adapun contoh kata-kata tersebut diantaranya adalah kata lumaku yang terdiri dari kata laku yang mendapat seselan um dan kata Koklakoni yang berasal dari kata lakoni yang mendapat prefiks kok.

    Yang selanjutnya adalah penggunaan bentuk ulang, salah satunya kata wira-wiri dan ketar-ketir. Bentuk perulangan ini menggunakan cara perubahan vokal. Perulangan kata tersebut dipilih untuk memberi makna usaha mencari jati diri.
    Yang terakhir adalah pemanfaatan kata majemuk. Contohnya kata jati dhiri. Kata jati dhiri merupakan kata majemuk karena terdiri dari dua unsur, yaitu unsur kata jati dan kata dhiri.
    4. Fraseologi
    Menurut Kridalaksana, fraseologi membahas masalah cara memahami kata atau frasa dalam tulisan atau ujaran, gaya bahasa, perangkat ungkapan yang dipakai oleh orang atau kelompok tertentu.
    Dalam fraseologi ini, yang dibahas adalah persoalan ungkapan khas sebagaimana definisi Kridalaksana di atas. Dalam geguritan ini pastinya menggunakan ungkapan khas yang berasal dari bahasa Jawa, karena definisi geguritan itu sendiri adalah puisi Jawa. Kita analisis salah satu ungkapan khas tersebut. Yakni ungkapan antuk ijabah Gusti Kang Murbeng Dumadi Ungkapan khas tersebut digunakan oleh pengarang sebagai sarana pengungkap ajaran moral yang bersifat religius.
    Pembahasan mengenai fraseologi yang kedua adalah gaya kalimat.
    struktur kalimat sebagai suatu gaya dalam geguritan kelingan. Adapun struktur kalimat yang terdapat dalam geguritan tersebut adalah dalam kalimat pendek.
    Kalimat pendek merupakan kebalikan kalimat panjang. Dimana kalimat panjang adalah rangkaian sejumlah kata yang tak terbatas yang berhubungan secara sintagmantik (Nurgiantoro, 1995 : 293). Pemilihan kalimat pendek dalam geguritan ini tampak pada kalimat berikut :
    Lakonana !
    Kata lakonana sebagai salah satu kalimat yang terdapat dalam geguritan itu mempunyai makna memerintah mengerjakan pekerjaan pada kalimat sebelumnya, yakni kalimat ...aja nganti lena, kang kudu koklakoni kanggo nggayuh uripmu kang sejati.
    5. Majas
    Majas yang dipakai pada gerguritan di atas salah satunya adalah majas simile. Majas tersebut terdapat dalam baris ke tiga yakni : Umpama prau kang lumaku...
    kalimat tersebut diumpamakan pada mereka yang sedang mencari jati diri ataupun mencari keinginan mereka.

    B. ESTETIKA
    Dari segi estetika, geguritan ini mengandung begitu banyak nilai estetika, dari segi bahasa dan makna. Dari segi bahasa telah kita analisis di atas. Sedangkan dari segi makna bisa kita cari maknanya. Sebelum mencari makna secara keseluruhan (isi) geguritan tersebut, kita mencari beberapa makna kata kunci terlebih dahulu :

    Ngumbara : lunga sebaran-baran
    Kasempyok : kena
    Pangajab : kekarepan
    Ijabah : kaleksanan
    Sulap : silau

    Makna isi yang terkandung dalam geguritan itu adalah ketika kita mempunyai suatu keniatan jangan sampai kita melihat masa lalu sebelum mencapai keniatan (keinginan) kita tadi. Setelah keniatan (keinginan) kita terkabulkan oleh yang maha kuasa, hendaknya kita jangan sampai terlena oleh harta yang telah kita dapat dari hasil pencapaian keinginan kita tersebut.

    BalasHapus
  4. Nama : Wahyu Dwi kismawarni
    Nim : 2611411007
    Karya :Nining riyadi
    Di ambil di majalah panjebar semangat
    Tanggal 15 april 2009
    Dzikir
    Nalika tengah wengi
    Ing sepining wanci
    Lelangon iku daktembangake
    Nalika bagaskara
    Tumapak ing angkasa
    Lelangon iku daktembangake
    Nalika pawongan padha balapan
    Ing rodane wektu
    Lelangon iku daktembangake
    Nalika wayah surup
    Sregege wis angslup
    Lelangon iku daktembangake
    Nalika jagat salin pakeliran
    Sang kresna nasab buana
    Lelangon iku daktembangake
    Hasbunallah wa nikmal wakil
    Nikmal maulana waa nikman nashir
    Kanthi lelangon iku
    Muga
    Jiwa lan kalbuku
    Ora gothang saka
    Tresna lan asih
    Marang sapepadha


    Analisis Geguritan
    Geguritan di atas berjudul dzikir,Tema geguritan di atas adalah berdoa dan rasa bersyukur,sudut pandang geguritan adalah aku. Nilai estetika pada aspek bunyi dalam geguritan yaitu, aspek bunyi di temukan di akhir baris yaitu :
    Nalika tengah wengi
    Ing sepining wanci
    Dari geguritan
    Setelah itu kita dapat melihat aspek lain yaitu dari segi pilihan kata atau diksi, kata yang digunakan geguritan di atas yaitu menggunakan bahasa jawa krama inggil dan krama alus. Dan diksi yang lain menggunakan salah satu bahasa asing, yaitu Bahasa Arab dari contoh geguritan di atas ada beberapa kata yang dapat ditemukan adalah kata dzikir dan Hasbunallah wa nikmal wakil Nikmal maulana waa nikman nashir, kata-kata ini berasal dari Bahasa Arab. Di dalam geguritan di atas terdapat beberapa kata yang dikajji dalam morfologi, sebagai contoh dari geguritan di atas adalah kata-kata balapan (balap+an), daktembangake(dak+tembang+ake). Geguritan di atas bermajas simile.Amanat dari geguritan di atas adalah kita harus selalu bersyukur, dan selalu ingat kepada yang Maha Kuasa.

    BalasHapus
  5. KIDUNG KASEPEN
    Adheming wengi
    Kaya dene adheming kalbu iki
    Ngalamun tanpa nyata
    Nyawang petenging mega
    Dhewe ing kene
    Tansah setya ngenteni
    Tekane sliramu sing dak tresnani
    Bebarengan lumunturing maruta
    Aku titip salam tresna
    Kanggo sliramu sing dak anti
    Saben wengi mung bisa ngenteni
    Tanpa ngerti kapan tekane sliramu
    Ing kene papan iki
    Sing wis dadi saksi
    Yen sliramu bakal bali
    Dadi panglipuring ati

    (Putri Jati Nur Intan)
    Penjebar Semangat No. 11-12 Maret 2011

    terjemahan bahasa indonesia

    CERITA KESEPIAN
    Dinginnya malam ini
    Sedingin hatiku saat ini
    Melamun tanpa nyata
    Memandang gelapnya malam ini
    Sendiri disini
    Selalu setia menunggu
    Menunggu dirimu yang kusayang
    Bersama hembusan angin
    Aku titip salam sayang
    Untuk dirimu yang ku tunggu
    Setiap malam hanya bisa menanti
    Tanpa tahu kapan dirimu kan datang
    Datang disini, ditempat ini
    Yang telah menjadi saksi
    Jika nanti dirimu kembali
    Menjadi penyejuk hati

    BalasHapus
  6. FITRI FEBRIYANTI
    2611411023

    ANALISIS GEGURITAN
    Geguritan diatas menceritakan tentang kerinduan seseorang terhadap kekasihnya. Geguritan tersebut seolah-olah menjadi nyata ketika pengambilan setting waktu berada dimalam hari dan penokohan menggunakan kata ‘aku’, kata ‘aku’ bukan hanya dialami oleh sang pengarang namun juga bisa dialami oleh sang pembaca.
    Selain setting waktu, setting tempat ‘ing kene, ing papan iki’ juga menjadi bagian yang bermakna puitis, setting tempat ini menggambarkan seolah-olah telah terjadi peristiwa atau kejadian khusus diantara pasangan tersebut.
    Dalam geguritan diatas memiliki alur cerita yang runtut, pertama dari perkenalan yaitu Adheming wengi, Kaya dene adheming kalbu iki, Ngalamun tanpa nyata, Nyawang petenging mega, Dhewe ing kene. Selanjutnya, inti permasalahan yaitu Tansah setya ngenteni, Tekane sliramu sing dak tresnani, Bebarengan lumunturing maruta, Aku titip salam tresna, Kanggo sliramu sing dak anti, Saben wengi mung bisa ngenteni, Tanpa ngerti kapan tekane sliramu. Yang terakhir bagian penyelesaian yaitu Ing kene papan iki, Sing wis dadi saksi, Yen sliramu bakal bali, Dadi panglipuring ati.
    Tokoh yang diceritakan geguritan diatas adalah seseorang yang memiliki rasa sabar, serta setia menunggu datangnya kekasih, walaupun tidak tahu kapan kekasihnya datang, tokoh tersebut akan tetap menunggu karena mereka telah membuat janji di tempat mereka bertemu.
    Gaya bahasa yang digunakan dalam pembuatan geguritan diatas diambil dari bahasa sehari-sehari masyarakat jawa. Hanya terdapat beberapa majas personifikasi Bebarengan lumunturing maruta, Aku titip salam tresna, arti kata tersebut seolah-olah angin mampu mengantarkan salam saying kepada kekasihnya. Selain kata itu juga ada kata Ing kene papan iki, Sing wis dadi saksi, artinya tempat seolah-olah mampu menjadi saksi bertemunya sepasang kekasih tersebut.
    Geguritan diatas juga menggunakan majas perbandingan, terdapat dalam kalimat Adheming wengi, Kaya dene adheming kalbu iki, kata yang ditebalkan tersebut sebagai pertanda adanya perbandingan antara dinginnya malam dan dinginnya hatiku.
    Dari segi gaya bunyi, geguritan diatas memiliki rima akhir dalam baris, yakni:
    Ing kene papan iki
    Sing wis dadi saksi
    Yen sliramu bakal bali
    Dadi panglipuring ati
    Kalimat diatas sudah jelas rima yng dimaksud adalah sama-sama berakhiran ‘I’.
    Setelah kita mengetahui makna geguritan diatas, amanat yang kita ambil adalah sabarlah menunggu kedatangan seseorang dan jadilah orang setia terhadap pasangan.

    BalasHapus
  7. Lilis Nawati
    2611411013
    Sastra Jawa

    GEGURITAN
    LAYANG KAGEM IBU

    Ibu
    Saka lemah pangulandaran kene
    Anakmu kirim layang
    Nyuwun donga pangestu
    Bakal methik kembang
    Susumping sotya
    Bakal lungguh dhampar kencana
    Linambaran babut sutra
    Ibu
    Kanthi dlancang seta kiyi
    Anakmu ngantu rawuhmu
    Ngasta sasuwek pangapura
    Pinangka nambal kaluputan
    Anakmu kang wus kesupen
    Sega thiwul sambel korek ndesa
    Dangdangane ibu sewengimuput
    Datan sare kanggo aku
    Biyen kae
    Ibu
    Estu dakantu rawuhmu
    Ing dina pahargyan tembe
    Nyuwun uga ibu ngasta
    Sega thiwul sambel sagodhan
    Binungkus godhong gedang
    Anakmu kangen
    Kapethik saka : antologi gegurut ( sewindu pustaka candra)

    Analisis
    Geguritan " Layang Kagem Ibu “ mempunyai nilai estetis yang dapat dilihat dari unsur-unsur intrinsik yang terdapat dalam geguritan tersebut.
    • Tema : meminta do’a restu
    • Amanat : jangan pernah melupakan orang tua karena pengorbanannya sangat besar.

    Pada umumnya aspek keindahan sastra didominasi oleh gaya bahasa.
    Di dalam karya sastra aspek – aspek keindahan itu dapat ditinjau melalui dua segi yang berbeda, yaitu segi kebahasaan dan keindahan itu sendiri. Dalam bidang sastra yang diperhatikan adalah aspek yang pertama karena bahasa merupakan medium dalam karya sastra.

    Pendapat saya tentang nilai estetis yang terkandung dalam geguritan yang berjudul ” Layang Kagem Ibu” ini memiliki nilai estetis dalam segi kebahasaan yaitu adanya diksi, dan penggunaan bahasa kiasan seperti pada kata “ bakal methik kembang ” dan “ ngasta sasuwek pangapura ”. Selain itu dari sisi isinya geguritan ini memiliki makna yang berupa nasehat untuk para pembaca agar selalu ingat kepada orang tua karena pengorbanan orang tua sangat besar .

    BalasHapus
  8. ARIFUDIN
    2611411009
    SASTRA JAWA

    ANALISIS GEGURITAN

    Sepi
    yen aku dhong lungguhan
    dheke kang dadi seksi
    yen aku dhong miwir lintang
    dheke iku kang ngancani
    yen aku dhong takon werdine urip
    dheke kang ngewangi ngudharai
    yen aku dhong tak tik tak tik
    dheweke ora lungsi ngguyoni
    lan setia ngandhani terusna kang
    menawa ana asile kena nggo tuku kotang
    ora ana wong cubriya.
    Karya : Yono Hs
    Semarang, 20 Mei 1996
    (Pustaka Candra. Edisi 197 1996/1997)

    BalasHapus
  9. Setelah membaca geguritan ini menurut saya nilai estetika yang ada Pada geguritan ini cenderung menggunakan makna-makna kiasan dan gaya-gaya bahasa, sehingga geguritan karyanya tersebut terasa lebih indah dan menarik. Dilihat dari pilihan katanya, geguritan ini mengggunakan makna-makna konotasi. Biasanya seorang penulis dalam membuat karyanya cenderung menggunakan makna kiasan karena penggunaan makna kiasan tersebut digunakan oleh penulis untuk memperindah bahasa dan kata-kata dalam karya tersebut
    Pada geguritan karya Yono Hs yang berjudul Sepi ini, pengulangan juga terjadi berkali-kali. Pengulangan tersebut disebut rima awal, karena pengulangan terjadi pada awal baris. Pada geguritan ini, pengulangan sangat penting sekali dan merupakan aspek yang ditonjolkan untuk memperindah dan memperjelas geguritan ini.
    Geguritan ini juga menggunakan gaya bahasa, yaitu metafora. Contohnya pada kalimat, yen aku dhong miwir lintang. Gaya bahasa metafora digunakan dimaksudkan untuk melukiskan atau mengatakan sesuatu dengan membandingkannya dengan sesuatu yang lain sehingga dengan cara tersebut, pembaca akan lebih dapat menangkap maksud yang diharapkan penulis. Dalam kaitannya dengan hal tersebut, geguritan ini akan menjadi lebih menarik dan lebih indah.
    Selain itu, geguritannya juga cenderung berisi keluhan-keluhannya ketika menghadapi hidup, kejadian-kejadian yang terjadi pada kehidupan sehari-hari serta pesan-pesan yang disampaikannya ketika melihat dan menghadapi fenomena yang seperti itu. Hal tersebut disampaikannya melalui sebuah karyanya yang berbentuk geguritan.

    BalasHapus
  10. Dwi Haryadi
    2611411024

    Kalungse
    Nggagas rumeksa cangkriman
    Jroning ati sadawane laku
    Tan kena sinasap pepenginan
    Labuh marang angen – angen
    Kaya during nate wanuh
    Marang lurung dawa tanpa wates iki
    Kangmangka saben mlebu metune napas
    Tansah binundhel lan terus ginagas
    Nganti linu sumeleh ati
    Rantas lembaraning rasa
    Lan lintang panjer rina sing sayah ngumbara
    Layone kumampul ing tengahing segara
    Bokmenawa pancen kudu ngendhang iline angin
    Kapitayan tumangsang ing pangpang mega
    Kekendelan sing mung kari samenir
    Musna kabuncang gilir gumantine mangsa
    Turiya Ragilputra
    Ambal Kebumen, Februari 2009

    Analisis
    Geguritan ini bertenakan sebuah penyesalan seseorang. Amanat yang dapat kita ambil untuk kedepanya jika akan melakukan sesuatu segeralah laksanakan. terjadi pada suasana malam hari. Penulis banyak menggunakan bahasa kiasan dalam menulis geguritan ini. Dibuktikan dengan Rantas lembaraning rasa merupakan majas personifikasi.

    BalasHapus
  11. NAMA : ANA SHOFIANA
    NIM : 2611411020
    PRODI : SASTRA JAWA

    Wus mesthine

    Wus mesthine,
    Gusti Allah nora salah nulis skenario,
    Lakon-lakon kang padha playon,
    Angoyak samubarang wektu!
    Wus mesthine,
    Gusti Allah nora salah nulis skenario,
    Lakon-lakon kang padha ngadeg,
    Anyangga abote urip nang donya!
    Wus mesthine,
    Gusti Allah nora salah nulis skenario,
    Lakon-lakon kang padha ngglundung,
    Ngiteri jagad golek upa!
    Wus mesthine,
    Gusti Allah nora salah nulis skenario,
    Lakon-lakon kang padha nyenyadhong,
    Nyuwun panduming pangupajiwa...
    Nganti tumekane titi wanci
    Lakon-lakon padha dadya layon

    Rinda Asy Syifa
    PANJEBAR SEMANGAT EDISI 11 JUNI 2011

    Analisis
     Gagasan
    Tema ( sebuah keadilan dari Allah S.A.W)
    Amanat (Setiap uasaha dari seseorang yang diniati dengan ikhlas, pasti mendapat berkah dari Yang Maha Kuasa, dan setiap kehidupan pasti akan berakhir yaitu dengan kematian, namun dalam kehidupan kita harus berusaha untuk mencapai kehidupan yang sebenarnya)

     Alur yang digunakan dalam geguritan “Wus Mesthine” menggunakan alur maju, karena disini menceritakan sebuah kehidupan yang berakhir dengan sebuah kematian.

     Tokoh yang digunakan dalam geguritan “Wus Mesthine” tersebut menggunakan sudut pandang orang pertama dan ketiga, karena disini disebutkan seorang pengarang menceritakan kehidupan seorang tokoh atau orang lain, namun disini pengarang juga menyebutkan sebuah kehidupan dari kehidupannya sendiri.

     Setting dari geguritan tersebut memang tidak terlihat secara jelas, namun jika kita pahami bersama didalamnya mengandung suatu tempat yaitu pada semua tempat dari suatu kehidupannya.

    Waktu yang diperlihatkan dari geguritan diatas pada siang maupun malam.

     Gaya bunyi terlihat dari cara penulisan pengarang yang memakai tanda seru (!), koma (,), maupun titik-titik (...)
    Gaya bahasa yang dipakai dalam geguritan diatas sangat dalam sehingga mengandung makna yang sangat tinggi.
    Majas yang digunakan dalam geguritan tersebut adalah majas hiperbola ringan.

    BalasHapus
  12. Komentar ini telah dihapus oleh penulis.

    BalasHapus
  13. Nama :Ika Setiyawati
    NIM :2611411006
    Prodi:Sastra Jawa

    GEGURITAN

    BAYI
    (Dewi soeprobo)

    Lairmu babarmu
    Tinuntun kawah
    Abantal embing-embing
    Ora sepiraa alambar ludira

    Totohane nyawa awit wohing sutresna
    Ora sepiraa kowe mulya
    Gempilaning jiwa raga
    Sing ana kuwasa

    Sajerone lantarane kowe ana
    Wong tuwa
    Kowe dakgegadhang
    Kowe dakkudang

    Supaya kendel perang
    Merangi sakaliring hawa
    Amrih bedhamen kang ana
    Wisma lan nagara

    Pusaka candra no 113 1989-1990
    Kapetik buku “Aku seneng Basa Jawa 5” kelas 5 SD
    Penyusun: Dr.Sudi Yatmana, dkk.
    Penerbit :Erlangga

    Analisis Geguritan
    1.Tema
    Tema adalah landasan atau dasar pijakan bagi penyair untuk mengembangkan geguritan. Tema juga merupakan gagasan pokok yang diungkapkan dalam sebuah geguritan.
    Dalam geguritan yang berjudul “Bayi” bertemakan pengorbanan/ perjuangan seorang Ibu kepada sang buah hati.

    2.Alur
    Alur adalah cerita secara runtut dari geguritan yang dapat disimpulkan
    Dalam geguritan yang berjudul “Bayi” dapat diceritakan setelah 9 bulan hidup dari seorang ibu kini tubuhnya harus hidup sendiri dari sel telur menjadi embrio menjadi janin menjadi triyulnan sel dan menjadi seorang bayi.Perjuangan ibu saat ia mendesak untuk keluar.Perjuangan ibu yang sangat mulia walaupun nyawa taruhannya.

    BalasHapus
  14. 3.Gaya kata, gaya bunyi, gaya kalimat, majas
    Kata-kata dalam geguritan bersifat padat, selain itu juga bersifat konotatif sehingga memiliki banyak penafsiran makna. Kata-kata yang dituangkan dalam geguritan merupakan kata-kata pilihan peyair dengan maksud penyair tersebut dapat mengungkapkan ide dan perasaannya secara tepat. Di samping itu, pemilihan kata kata ditujukan juga untuk member unsure estetis (keindahan) dalam geguritan
    Dalam geguritan yang berjudul “Bayi” mempunyai banyak gaya kata diantaranya:
    •Penyimpangan dala bentuk morfologi sering dilakukan untuk tujuan tertentu seperti ingin menimbulkan kesan estetik.Pada kalimat
    Kowe dakgegadhang
    Pada kutipan geguritan tersebut berasal dari kata gegadhang yang mendapat prefiks Bahasa Jawa / awalan dak-. Kata itu dipilih untuk menimbulkan efek estetik.
    •Pada kutipan ora sepiraa kowe mulya . Pilihan kata sepiraa menimbulkan kesan yang mengandung makna menegaskan sehingga penggunaan kata itu justru mempunyai efek menghidupkan cerita.
    •Penggunaan bentuk ulang / reduplikasi pada kata embig-embing, bentuk perulangan ini menggunakan persamaan bunyi vocal atau dalam Bahasa Jawa disebut dwilingga.
    •Dalam kutipan Kowe dakgegadhang , pada kata kowe menggunakan pemanfaatan sinonim untuk sebutan persona kedua.
    •Penggunaan kata jiwa raga merupakan kata majemuk karena terdiri dari 2 unsur, yaitu kata jiwa dan kata raga. Pilihan kata mejemuk itu menimbulkan kesan suatu perjuangan dengan seluruh jiwa raga.
    •Ungkapan wohing sutresna yang mempunyai makna “buah kasih sayang” dimana orang tua memberikan kasih sayang kepada seorang anak walaupun masih didalam kandungan maupun sudah lahir.
    •Ungkapan memerangi sekaliring hawa berarti dimana manusia yang hidup maupun yang baru lahirpun dianugerahi berbagai hawa nafsu. Dan sebagaimana kita menjadi manusia dapat memerangi dan menahan hawa nafsu tersebut.

    Majas / gaya bahasa
    Majas adalah bahasa kias yang dipergunakan untuk menimbulkan kesan imajinatif atau menciptakan efek-efek tertentu bagi pembaca/ pendengar.
    Dalam geguritan yang berjudul “Bayi” mempunyai banyak majas diantarannya adalah
    •Majas Paralelisme ini merupakan majas perulangan bunyi yang biasanya ada di dalm geguritan. Tampak dalam kutipan
    Kowe dakgegadhang
    Kowe dakkudang
    Pada kutipan di atas mengandung perulangan diawal baris disebut anaphora.
    •Majas metafora adalah majas perbandingan yang diungkapkan secara singakt dan padat.
    Tampak dalam kutipan wohing sutresna yang mempunyai makna “buah kasih sayang”
    •Majas tautology adalah majas penegasan/ perulangan menggunakan kata bersinonim. Tampak dalam kutipan lairmu babarmu
    Kata di atas termasuk kata yang bersinonim
    •Majas personifikasi adalah majas yang membandingkan benda-benda tak bernyawa seolah-olah mempunyai sifat seperti manusia.Tampak dalam kutipan
    Tinuntun kawah

    BalasHapus
  15. Gaya bunyi
    1.Nada
    Nada adalah bentuk sikap / penyair terhadap pembaca yang menyangkut tinggi rendahnya bunyi. Nada di dalam geguritan yang berjudul “Bayi” bersifat keharuan yang membuat pembaca merasa terharu.

    2.Rima dan irama
    Rima adalah persamaan sajak pada baris-baris geguritan.Persamaan dalam hal vocal disebut asonansi sedangkan konsonan disebut aliterasi. Persamaan pada awal baris disebut anafora,dan di akhir baris disebut epifora
    Dalam geguritan berjudul “Bayi”terdiri dari 4 bait yang masing-masing terdiri dari 4 baris
    Bait kedua bersajak vocal a di akhir baris yang disebut asonansi.
    Bait ketiga baris 1 dan baris 2 bersajak vocal a diakhir baris disebut asonansi
    Bait ketiga baris 3 dan baris 4 bersajak vocal e diawal baris disebut anafora
    Bait keempat baris 2 sampai baris 4 bersajak vocal a diakhir baris disebut asonansi

    Pesan/ Amanat
    Pesan / amanat adalah hal yang ingin disampaikan oleh penyair kepada pembaca lewat kata-kata dalam geguritan. Makna dapat ditelaah setelah pembaca memahami tema, nada, dan suasana. Amanat juga dapat tersirat dari susunan kata-kata yang dibuat oleh penyair.
    Amanat yang dapat dipetik pada geguritanyang berjudul “Bayi” adalah Sebagai anak harus menghormati dan berbakti kepada orang tua yang sudah merawat dan membesarkan dari kita masih dalam kandungan sampai hidup di dunia hingga sampai sekarang ini. Dan bisa menjadi anak yang berguna bagi diri sendiri, keluarga, bangsa dan agama.Terutama seorang ibu yang telah melahirkan kita. Betapa besar pengorbanan ibu.

    BalasHapus
  16. Candi Asri Dewi
    2611411011
    GEGURITAN
    Gayus

    Jenengmu misuwur
    Ngungkuli pejabat dhuwur
    Kabarmu ngetern, ngluwihi presiden
    Bandha donyamu mubra mubru
    Ngasi bisa kasembadan apa sing kok luru
    Neng tahanan, kanggomu kaya neng swarga
    Bisa nglencer mrana-mrana
    Pasang aksi, mlebu TV
    Kaya plesirmu neng Bali
    Lan sadhengah papan kang asri
    Ah… kapan aku bisa dadi Gayus…?
    Dhuwite milyardan
    Kena kanggo urip foya-foya pitung turunan
    Banjur…. dhuwit saka ngendi?
    Wong uripku trima dadi kuli
    Ora bisa ngakali
    Lan ya ora ana sing aweh upeti
    Mbuh ah… nalarku ora gaduk
    Ya wis ben, aku trima urip rakasa
    Saben dina ngendelke tenaga
    Nanging ora dadi klilipe
    Bangsa lan Negara
    TERJEMAHAN GEGURITAN
    Gayus

    Namamu terkenal
    Melebihi pejabat tinggi
    Kabarmu terkenal, melebihi presiden
    Benda duniamu dimana-mana
    Sampai tercapai apa yang kamu cari
    Di tahanan, bagimu seperti di surga
    Bisa pergi kemana-mana
    Pasang aksi, masuk TV
    Seperti perjalananmu di Bali
    Dan tempat indah yang lain
    Ah… kapan aku bisa menjadi Gayus
    Uangnya milyardan
    Bisa untuk berfoya-foya sampai tujuh turunan
    Lalu…. uang darimana?
    Sedangkan hidupku hanya terima menjadi kuli
    Tidak bisa menipu
    Dan juga tidak ada yang member upeti
    Tau lah… nalarku tidak sampai
    Biarlah, aku terima hidup susah
    Setiap hari mengandalkan tenaga
    Akan tetapi tidak menjadi klilip
    Bangsa dan Negara

    BalasHapus
  17. ANALISIS GEGURITAN

    1. Tema dan amanat
    • Tema
    Tema yang diceritakan dalam geguritan tersebut adalah seorang koruptor yang hidupnya sangat mewah, bergelimang harta, sampai di penjara pun dia tetap bisa foya-foya.
    • Amanat
    Kita harus dapat menerima ap yang sudah kita terima, dan jika kita menginginkan sesuatu untuk kebahagiaan kita, kita harus berlaku jujur, karena suatu hal yang didapatkan dengan cara tidak jujur pun hasilnya akan mengecewakan.


    2. Alur
    Alur yang digunakan dalam geguritan tersebut adalah alur maju, karena oenulis meneritakan secara berurutan.


    3. Penokohan
    Tokoh di dalam geguritan itu adalah Gayus, yang berwatak liik, tidak punya hati nurani, dan suka berfoya-foya.


    4. Setting
    • Tempat : tempat yang digunakan dalam geguritan tersebut yaitu Bali dan Penjara.


    5. Gaya bahasa
    • Majas perumpamaan : nanging ora dadi klilipe bangsa lan Negara.

    (Kapethik saka: Panjebar Semangat No. 11 tahun 2011, Tutik Suprapti)

    BalasHapus
  18. Nama : Afiliasi Ilafi
    Nim : 2611411001
    Prodi : Sastra jawa,S1


    NGAMPURANEN AKU
    Dening : Idhamsumirat
    Sayahing ati iki
    Karasa abot . . .
    Ngabot-ngaboti jejeging ati

    Ngoyak sakemper kang durung mesthi
    Kaya ngenteni tibaning udan ing mangsa katiga

    Kowe iki kepriye utawa aku kang mesthi kepiye
    Wis dakcoba
    Dakcoba ngowahi lakuku marang sliramu

    Nanging kepiye maneh
    Kowe iki ora tau ngrasa tekaning atiku
    Ati kang banget tresna marang sliramu

    Kaya-kaya iki pancen nasibku kaya mangkene
    Nasibing rasa karana-rana katerak maruta

    Nimas, ngapurane aku
    Ngapura menawa aku tresna marang sliramu

    Pajebar semangat No 24-11juni2011
    Halaman 40

    Analis Geguritan “Ngapuranen aku” Karya dari Idhamsumirat.
    Maksud dari geguritan di atas adalah : Seorang lelaki sedang merasakan panah-panah asmara kepada seorang wanita, akan tetapi wanita tersebut tidak tahu dan tak mau tahu apa yang dirasakan sang lelaki tersebut. Lelaki dan wanita tersebut merasa bingung apa yang harus dilakukan, akhirnya sang lelaki tersebut hanya bisa mengutarakannya lewat kata-kata dalam sebuah geguritan.
    Dalam geguritan yang berjudul “Ngapuranen aku” , pengarang menggunakan diksi yang bisa mewakili makna-makna yang sebenarnya. Setiap kata yang ditulis oleh pengarang,kata yang digunakan mengandung nilai estetika, akan tetapi totalitas nilai-nilai estetika itu sendiri berada pada isi geguritan tersebut. Ciri khas karya sastra adalah model bahasa,yang artinya aspek-aspek keindahan karya sastra sebagian terbesar ditampilkan melalui medium bahasanya geguritan tersebut. Dalam karya sastra gaya bahasa memang memegangperanan yang sangat penting. Bahasa terdiri dari bahasa lisan atau bahasa tulisan. Bahasa lisan itu digunakan dalam tradisi sastra tulis. Gaya bahasa terkandung unsur-unsur keindahan dengan berbagai bentuk,tetapi perlu disadari bahwa untuk memahami gaya bahasa yang diperlukan pemahaman dasar stilistika sastra yang sangat teramat beragam bentuknya. Kualitas dari sebuah geguritan akan berubah sesuai dengan ruang dan waktu, artinya dalam nilai suatu geguritan ditentukan melalui hubungan antara karya sastra dengan pengarang disatu pihak. Karya sastra dengan para pembaca sebagai proses dimana resepsi dipihak yang lain. Keberhasilan karya sastra didasarkan atas bagaimana cara menciptakan,cara membuatnya,cara merangkai kata-katanya,bukan pada bahan utuk menciptakan geguritan atau karya sastra lainnya.

    BalasHapus
  19. Adi Tyas Angga Rini
    2151407016
    Estetika

    Menganalisis Geguritan

    Nalika Bengawan Asat
    Rinoncening mega wus dadi udan liris liris
    Tumetes ing agemanmu selendang kembang danliris
    Ana ing pinggir bengawan kang asat
    Sliramu jumeneng ana ing ngisor pringgading
    Kasepen ing wingking gedung RRI
    Tembang Setyatuhu sajroning manahmu wus layu
    Branta tumekaning lathi kepengin ngeli
    Nanging taya bengawan dumugi cethik sukumu
    Hamung kembang ceplok ungu sing satipis kembenmu ngrembuyung ana siti bengawan
    Iki Desember kang asat, nanging kembang Desember tetep tuwuh abang mbranang
    kaya semangka, kadadehan saka sewune dom lancip lancip, sanadyan mung kembang siji
    Iki Desember kang asat, celathune wot saka kayu randu
    Mugi kersa ngenteni nganti lali, kembang kangkung nganti wangi
    Branta kuwi titipna ing witing kemangi

    Puitri Hati Ningsih, penyair yang aktif di buletin sastra Pawon. Buku kumpulan puisi pertamanya, Kitab Diri telah diterbitkan.



    1. Tema :
    Manusia (kesepian)
    Isi :
    Menceritakan seseorang yang kesepian, menyendiri di tengah keramaian manusia

    Amanat :
    Bahwa apapun kondisi yang sedang terjadi pada kita, tetaplah semangat seperti bunga Desember yang tetap mekar walaupun pada bulan Desember sendiri sedang tidak ada air (asat).

    2. Tokoh :
    Dilakukan oleh aku orang lain, yaitu seorang perempuan yang digambarkan memakai kemben dengan selendang kembang danliris.

    3. Setting latar :
    Rinoncening mega wus dadi udan liris liris
    Tumetes ing agemanmu selendang kembang danliris
    Digambarkan bahwa pada saat itu awan mendung telah berubah menjadi hujan gerimis yang membasahi selendang bunganya.

    Setting tempat :
    Ana ing pinggir bengawan kang asat
    Sliramu jumeneng ana ing ngisor pringgading
    Kasepen ing wingking gedung RRI
    Digambarkan berada di tepi sungai yang kering, dia (pelaku) berada di bawah pohon bambu Gading menyepi di belakang gedung RRI

    Setting waktu :
    Iki Desember kang asat, nanging kembang Desember tetep tuwuh abang mbranang
    kaya semangka
    Digambarkan ini adalah bulan Desember yang kering, namun bunga Desember tetap mekar merona seperti semangka

    4. Gaya bunyi (guru lagu):
    Terdapat persamaan bunyi vokal i pada beberapa akhir kata :
    Rinoncening mega wus dadi udan liris liris
    Tumetes ing agemanmu selendang kembang danliris
    Sliramu jumeneng ana ing ngisor pringgading
    Kasepen ing wingking gedung RRI
    Mugi kersa ngenteni nganti lali, kembang kangkung nganti wangi
    Branta kuwi titipna ing witing kemangi



    Terdapat persamaan bunyi vokal a pada akhir kata :
    Hamung kembang ceplok ungu sing satipis kembenmu ngrembuyung ana siti bengawan
    Iki Desember kang asat, nanging kembang Desember tetep tuwuh abang mbranang
    kaya semangka


    Majas :
    Menggunakan Majas Personifikasi (Memanusiakan benda benda yang bukan manusia)
    Majas ini terdapat dalam kalimat :
    Branta tumekaning lathi kepengin ngeli
    Iki Desember kang asat, celathune wot saka kayu randu
    Branta kuwi titipna ing witing kemangi

    Menggunakan Majas Alegori (menggambarkan)
    Majas ini terdapat dalam kalimat :
    Rinoncening mega wus dadi udan liris liris
    Tumetes ing agemanmu selendang kembang danliris
    Tembang Setyatuhu sajroning manahmu wus layu
    Nanging taya bengawan dumugi cethik sukumu

    Menggunakan Majas Hiperbola (melebih-lebihkan)
    Majas ini terdapat dalam kalimat :
    Mugi kersa ngenteni nganti lali, kembang kangkung nganti wangi

    BalasHapus
  20. sumber :
    jurnal jawa TEMPE BOSOK
    edisi 1 tahun 2010

    BalasHapus
  21. Nama : Siti Fatimah
    NIM : 2611411010

    RON GARING
    Wengi sansaya atis
    nalika aku sesingidan ing sajroning swara gamelan
    kang digawa dening angin
    prasasat tan kendhat
    anggonku kulak warta adol prungu
    ananging isih mamring
    aku wis pingin cecaketan
    obormu kang makantar-kantar
    madhangi jangkah lan jagatku
    ana ngendi papanmu
    lelana tapa brata
    tanpa pawarta tanpa swara
    aku kadya ron garing
    kumleyang kabur kanginan
    ing jagat peteng lelimengan
    krasa luwih abot
    anggonku ngadhepi dina-dina ing ngarep
    mlakuku ora mantep
    kagubet ribet lan ruwet
    adoh saka cahyamu
    pedhut ing sakindering pandulu
    panjenengan
    guruku, sihku, oborku
    kancanana sukmaku sinau bab katresnan sajroning ati.

    Pengarang: Budhi setyawan
    Penjebar Semangat edisi 4, tahun 2008

    BalasHapus
  22. Analisis

    Dengan tema kesedihan geguritan diatas menceritakan seseorang yang sedang merasakan kehilangan orang yang selalu ada dikesehariannya namun sekarang tidak tau entah kemana perginya. Terasa nyata bagi pembaca dengan dukungan setting waktu malam hari menggunakan kata “ aku “ yang seolah – olah dia juga mengalami hal yang sama. Adapun pesan yang dapat kita ambil dari geguritan diatas, sayangi, hargai, dan hormati orang yang ada disampingmu sebelum ia akan meningalkanmu untuk selama – lamanya.
    Karya ini cenderung menggunakan makna – makna kiasan dan gaya – gaya bahasa, sehingga karya tersebut terasa lebih indah dan menarik untuk diaca. Seperti pada geguritan yang berjudul Ron Garing ini jika dilihat dari pilihan katanya bermakna konotatif karena pada penggunaan makna kiasan sangat berperan penting dalam menambah keindahan geguritan tersebut. Dengan penggunaan kata-kata tersebut mampu menghasilkan imaji tambahan sehingga yang abstrak menjadi konkret dan menjadikan puisi lebih indah dan nikmat untuk dibaca.
    Geguritan ini juga menggunakan gaya bahasa, yaitu personifikasi. Contohnya pada kalimat, kang digawa dening angin. Gaya bahasa persoifikasi digunakan dimaksudkan untuk melukiskan atau mengatakan benda mati seoalah – oleh hidup layaknya seorang manusia, sehingga dengan cara tersebut, pembaca akan lebih dapat menangkap maksud yang diharapkan penulis.

    BalasHapus
  23. Komentar ini telah dihapus oleh penulis.

    BalasHapus
  24. Komentar ini telah dihapus oleh penulis.

    BalasHapus
  25. YUSUF SAPUTRA 2611411016

    Aku lan sliramu

    Aku lan sliramu
    kaya ril, kiwa lan tengene
    bebarengan lumaku
    gandhengan tangan saben wektu
    ora bakal ketemu
    salawase

    marga aku lan sliramu
    kaya ril kiwa lan tengene
    mesthine nglenggana
    marang wajib kang ginaris
    marang kodrat kang tinakdir
    kiwa lan tengen
    kosok balen kang ora bisa kapisahake
    awit jejere njangkepi siji lan sijine
    kaya aku lan sliramu
    kang bebarengan lumaku
    gandhengan tangan saben wektu
    nanging ora bakal ketemu

    2003
    KIDUNG SAKA BANDUNGAN
    Rini Tri Puspohardini
    Cetakan Pertama Oktober2011
    Penerbit Elmatera Publishing

    Tema : dua insan yang saling melengkapi tak mungkin terpisahkan tapi tak bisa bersatu
    Amanat : bahwa kodrat tak kan pernah bisa dan tak kan bisa dirubah
    Alur : dua orang kekasih yang berjalan bersama setiap waktu dan tak mungkin bisa bersatu tetapi keduanya saling melengkapi dan sudah menjadi kodrat
    Sudut pandang : orang pertama tunggal
    orang ketiga tunggal
    waktu : sepanjang masa
    gaya bunyi : terdiri dari dua bait dan delapan belas baris
    bait pertama baris pertama berakhiran bunyi U
    bait pertama baris kedua berakhiran bunyi E
    bait pertama baris ketiga berakhiran bunyi U
    bait pertama baris keempat berakhiran bunyi U
    bait pertama baris kelima berakhiran bunyi U
    bait pertama baris keenam berakhiran bunyi E
    bait kedua baris pertama berakhiran bunyi U
    bait kedua baris kedua berakhiran bunyi E
    bait kedua baris ketiga berakhiran bunyi A
    bait kedua baris keempat berakhiran bunyi I
    bait kedua baris kelima berakhiran bunyi I
    bait kedua baris keenam berakhiran bunyi E
    bait kedua baris ketujuh berakhiran bunyi E
    bait kedua baris kedelapan berakhiran bunyi E
    bait kedua baris kesembilan berakhiran bunyi U
    bait kedua baris kesepuluh berakhiran bunyi U
    bait kedua baris kesebelas berakhiran bunyi U
    bait kedua baris keduabelas berakhiran bunyi U
    Majas : majas personifikasi

    BalasHapus
  26. TUGAS ESTETIKA
    Nama : Dzulfiqar Ade Fadjri
    NIM : 2611411015

    LEBARAN

    Bali mulih ing susuhe dhewe-dhewe kaya
    Manuk-manuk sing wis mabur lunga
    Ing benua liya
    Mulih bali ana asale
    Nyuwun berkah pangestu karo simboke
    Kebak dosa lan salahe
    Sakwise siyam ing wulan Ramadhan

    Mulih bali ing fitrah
    Suci maneh tanpa dosa
    Mbukak lembaran anyar
    Kaya kain mori putih
    Wonten ing taubatan Nasuha
    Gusti nyuwun ngapura
    Sedaya dosa ingkang disengaja lan mboten sengaja

    Tasbih lan dzikir kagunganMu
    Sedaya jagat khidmat memuji asmaMu
    Takbir lan tahmid ing ArsyMu
    Sujud lan syukur kagem paduka

    Lapangan, mesjid, sujud
    Ing dina fitri
    Resik kaya kapas
    Jembare ati segara
    Jerone pangapura
    Zakat fitrah tindakna
    Fakir miskin lan dhuaafa
    Ngresiki Rezeki sing maringi Gusti
    Aja lali sega thiwul jangan kara
    Bali ana desa

    -Tema : Arti Bulan Ramadhan
    -Amanat : Jika kita mempunyai banyak salah segeralah meminta ampunan kepada Yang Kuasa, Orang yang kurang mampu wajib jika kasihi
    Geguritan dengan judul “LEBARAN” diatas menceritakan tentang arti di Bulan Ramadhan sangat berarti bagi kita, suasananya saat Bulan Ramadhan dan menuju kesucian yaitu Hari Raya. Geguritan itu memaparkan tentang jika kita mempunyai banyak kesalahan kepada orang lain, kita wajib meminta maaf, apalagi saat Bulan Ramadhan adalah waktu yang tepat, meminta berkah di Bulan Suci. Serta kita wajib mengasihi orang yang kurang mampu, kemudian kita harus meminta ampunan yang sebesar-besarnya kepada Yang Maha Kuasa.
    Pada geguritan itu makna tersiratnya adalah kembali pada kesucian/ kembali pada fitrah. Aspek bunyi yang ada didalam geguritan tersebut terletak pada rima akhir, seperti:
    -Bali mulih ing susuhe dhewe-dhewe kaya
    Manuk-manuk sing wis mabur lunga
    Ing benua liya
    Ada juga Asonansinya, adalah gaya bahasa berupa perulangan bunyi vokal yang sama:
    - jagat khidmat
    - mesjid, sujud
    Majas yang ada dalam geguritan tersebut adalah Asosiasi/Simile, yaitu “Resik kaya kapas, Jembare ati segara”, bahasa yang di gunakan adalah Bahasa Jawa ngoko lan krama. Kemudian dihiasi dengan bahasa-bahasa kiasan yang menambah keindahan geguritan tersebut. Makna yang terkandung adalah jika kita mempunyai salah kepada orang lain baik itu disengaja atau tidak disengaja kita wajib meminta maaf, kembali pada yang fitri. Setting geguritan saat Bulan Ramadhan, menjelang Hari Raya.
    Sumber : Panjebar Semangat no.44/ 3 November 2007
    Karya : Sus S. Hardjono

    BalasHapus
  27. 1. Geguritan
    Daktitipake Sakabehe

    Daktitipake dina-dina tembe
    Marang lakune srengenge
    Tumrap pakulinan-pakulinan
    Kang wis kadhung dadi kabudayan
    Muga ora Poyang-payingan
    Benteyongan kabotan sanggan

    Marang girise kahanan
    Mesthine ora kena kanggo titikan
    Saben jaman nggawa owah-owahan
    Saben kahanan ngusung jalaran

    Daktitipake wengi marang rembulan
    Nalika panglong mung sauntara
    Daktitipake wengi marang lintang-lintang
    Iku tandha langit
    During kaling-kalingan

    2. Estetika Geguritan

    A. Tema
    Geguritan ini bertemakan keprihatinan tentang apa yang terjadi dijaman sekarang ini khususnya “kebudayaan”

    B. Amanat
    Walaupun jaman sudah berkembang sangat maju jangan lupakan kebudayaan kita dan jagalah kebudayaan itu agar tidak hilang ataupun dicuri orang lain
    C. Tokoh
    “Daktitipake dina-dina tembe”
    Dari penggalan diatas imbuhan “Dak” berarti kepunyaanku. Jadi, tokoh yang digunakan adalah “aku” atau sudut pandang orang pertama


    D. Gaya Bahasa
    1. Bahasa kiasan
    Pada geguritan ini banyak sekali bahasa kiasan yang dituliskan sehingga perlu cara ekstra untuk memahami.
    Contoh:
    Marang girise kahanan
    Mesthine ora kena kanggo titikan
    Saben jaman nggawa owah-owahan
    Saben kahanan ngusung jalaran
    2. Majas
    Pada geguritan ini majas yang sering digunakan adalah majas personifikasi.
    Contoh:
    - Daktitipake dina-dina tembe
    - Marang lakune srengenge
    - Marang girise kahanan
    - Saben kahanan ngusung jalaran
    - Daktitipake wengi marang lintang-lintang
    - Daktitipake wengi marang rembulan
    - Saben jaman nggawa owah-owahan
    E. Gaya Bunyi
    Geguritan ini jika dibaca, akan berintonasikan datar dan rendah, intonasi tinggi jarang digunakan.
    F. Gaya Kalimat
    Gaya akhiran (-an) pada sebagian besar kalimat di geguritan ini membuat serasi dan enak didengarnya

    BalasHapus
  28. Aini Machmudah
    2611411004

    ANALISIS GEGURITAN

    Malem Ganjil
    Dening: Joko HN
    Kabeh padha manenggkung ing punjering urip
    Embuh apa sing diucapke ing sajroning ati
    Malem ganjil sing dadi saksine alam
    Aja selak apa kandhanane suwara-suwara

    Pilih sugih apa mlarat, pilih luwe apa wareg
    Pilih susah apa mulya, pilih ayu apa ala
    Pilih pangkat apa drajat, pilih mati apa urip
    Pilih donya apa akherat

    Kabeh suwara-suwara keprungu ing langit
    Ora ana kang bisa nutup-nutupi
    Ora ana kang ngalang-ngalangi
    Ora ana kang nggandholi

    Ngucapa, ngucapa, ngucapa
    Jujura, jujura, jujura
    Elinga, elinga, elinga
    Apa sejatine sira
    Panjebar Semangat (PS) edisi 37, 12 September 2009.

    Geguritan merupakan salah satu hasil cipta karya dari pemikiran serta imajinasi yang tertuang menggunakan kata yang telah dipilih dan diolah dengan sedemikian rupa (endhah), demikian pula dengan geguritan yang berjudul “Malem Ganjil” diatas merupakan suatu kesatuan utuh yang mampu membangun tatanan makna dengan nilai estetika yang nampak dari unsur kebahasaan.
    Didalam geguritan “Malam Ganjil” gagasan yang coba disampaikan penggarang kepada pembaca ialah mengenai piweling/ nasehat bahwa Tuhan Yang Maha Bijaksana (Hyang Sukma Kawekas) memberikan pilihan kepada kita untuk memilih diantara dua pilihan hidup yang saling bertolak belakang, tergantung mana yang ingin kita ambil dan kita jalani.
    Geguritan dengan judul “Malem Ganjil” karya Joko HN diatas disajikan dengan alur yang runtut mulai dari pengenalan awal berupa setting keadaan (Kabeh padha manenggkung ing punjering urip) dilanjutkan dengan kalimat-kalimat lain yang menimbulkan suatu kesatuan makna tanpa mengabaikan unsur estetis (keindahan).
    Tokoh yang dijadikan objek oleh pengarang adalah manusia yang merupakan hamba Sang pencipta, yang hendaknya mau dan mampu memantapkan hati menggapai kemulyaan diri.
    Unsur estetis pembangun keindahan yang lain ialah gaya bahasa, dalam geguritan ini pengarang banyak menggunakan majas yang berupa majas personofikasi dan repetisi.
    Majas personofikasi nampak pada pilihan kata “Malem ganjil sing dadi saksine alam dan Aja selak apa kandhanane suwara-suwara” yang mencoba memberiakn sifat manusia kepada benda mati atau alam. Majas yang paling menonjol dalam geguritan ini adalah majas repetisi yakni terletak pada 3 bait terakhir yang mengulang kata-kata yang sama sebagai penegasan. Keindahan gaya bahasa inilah yang menjadikan geguritan ini nampak spesial.
    Dalam geguritan ini diksi (pilihan kata ) yang digunakan menggunakan rima yang menimbulkan kesan estetis misalnya pada bait terakhir yang menggunakan akhiran “a”
    Ngucapa, ngucapa, ngucapa
    Jujura, jujura, jujura
    Elinga, elinga, elinga
    Apa sejatine sir
    Amanat yang coba disampaikan pengarang dalam geguritan “Malem Ganjil” ialah bahwasannya hidup dalah pilihan, pilihan antara dua hal yang bertolak belakang ,maka diantara semua pilihan yang ada pilih dan ambil yang mengarah pada pengabdian kepada yang pencipta yaitu kebajikan yang hakiki.

    BalasHapus