Rabu, 23 November 2011

Sejarah Perkembangan Estetika

Secara umum perkembangan pemikiran estetika terbagi dalam lima periode yang terdiri dari : (1)periode klasik, (2)periode kritik, (3)periode positivisme atau ilmiah, (4)periode modernisme, (5)periode postmodernisme.
Tugas anda adalah mengirimkan salah satu gagasan para tokoh filsafat estetika dari kelima periode perkembangan pemikiran estetika.
1. Periode klasik,
Para pemikir periode ini adalah Socrates, Plato, dan Aristoteles.
Gagasan yang dapat anda kembangkan di antaranya: apriori, mimesis, khatarsis, alur dramatik Aristoteles.
2. Periode Kritik,
Para pemikir periode ini adalah Baumgarten, Imanuel Kant, Friedrick Heger, Arthur Schopenhuer.
Gagasan yang dapat anda kembangkan di antaranya: Relativisme, Subjektivisme,
3. Periode Positivisme,
Para pemikir periode ini adalah Gustav Theodor Fechner, Friedrich Nietzsche, Leo Tolstoy, dan George Santayana.
Gagasan yang dapat anda kembangkan: Estetika eksperimental, Estetika Induktif, Apollonian dan Dionysian,
4. Periode Modernisme,
Para pemikir periode ini adalah Beneditto Crose, Susanne K Langer, dan Robin Collingwood.
Gagasan yang dapat anda kembangkan di antaranya: oposisi binner,
5. Periode Postmodernisme,
Para pemikir periode ini adalah Charles Sanders Pierce, Roman Jacobson, Jan Mukarovsky, Hans Robert Jauss,
Lotman, Roland Barthes, Umberto Eco, Michel Foucault, Julia Cristiva, Jacques Derrida.
Gagasan yang dapat anda kembangkan di antaranya: Teori ekspresi dan Intuisi, animal symbolicum, semiotika,
petanda & penanda, ikon-indeks-simbol, meaning & significance, litterariness, horizon harapan, dekonstruksi.

54 komentar:

  1. Komentar ini telah dihapus oleh penulis.

    BalasHapus
  2. Nama : Candi Asri Dewi
    NIM : 2611411011

    ESTETIKA PERIODE POSITIVISME
    GAGASAN EKSPERIMENTAL MENURUT LEO TOLSTOY

    Estetika secara sederhana adalah ilmu yang membahas 'keindahan', bagaimana ia bisa terbentuk, dan bagaimana seseorang bisa merasakannya. Lebih lanjut mengenai estetika adalah pendalaman dari sebuah filosofi yang mempelajari nilai-nilai sensoris, yang kadang dianggap sebagai penilaian terhadap sentimen dan rasa. Estetika merupakan cabang yang sangat dekat dengan falsafah seni.
    Sedangkan interpretasi terhadap ”Seni” menurut Leo Tolstoy adalah suatu estetika yang dipengaruhi oleh adanya intelektual dan pengalaman (experience). Artinya jika dikaitkan dengan interpretasi seni dalam perkerisan, apa yang disebut ‘estetika keris’ sudah tentu melibatkan pengalaman (atau wawasan) pada penghayatannya terhadap nilai keris. Seperti pakem (pedoman pokok) Yo Mor Jo Si Ngun misalnya; kita dapat menangkap maksud kata-kata itu yakni Guwoyo Pamor, Wojo, Besi, Wangun yang bagus, namun jika diperdalam lagi aspek Yo atau Guwoyo dari Yo Mor Jo Si Ngun yang bagaimana yang dianggap bagus, tentu ada pendalaman pada obyek tersebut. Begitu pula Mor atau Pamor yang bagaimana yang dianggap baik, Jo atau Wojo yang dianggap baik dan terutama garap atau Wangun pada Ngun sangat berkait dengan harmonisasi, maka untuk menjadi “mengerti keris” dibutuhkan pengalaman analisis yang melatari wawasannya.
    Masalah ini memang subyektif tetapi jika pemahamannya tepat, maka nilai-nilai itu ternyata universal, dapat dipertanggung jawabkan secara umum, dan bukan ‘tik gotak gatik gatuk’ (dicari-cari dan dihubung-hubungkan; bhs. Jw).
    Pada masa kini estetika bisa berarti tiga hal, yaitu:
    1. Studi mengenai fenomena estetika.
    2. Studi mengenai fenomena persepsi.
    3. Studi mengenai seni sebagai hasil pengalaman estetis.
    Meskipun awalnya sesuatu yang indah dinilai dari aspek teknis dalam bentuk suatu karya, namun perubahan pola pikir dalam masyarakat akan turut mempengaruhi pernilaian terhadap keindahan. Misalnya dalam sejarah seni pada masa romantisme di Perancis, keindahan berarti kemampuan menyajikan sebuah ke’agungan’. Pada masa realisme, keindahan berarti kemampuan menyajikan sesuatu dalam keadaan apa adanya (menuruti realitas visual yang ada). Pada masa modern, maraknya de Stijl di Belanda, keindahan berarti kemampuan mengkomposisikan warna dan ruang serta kemampuan mengabstraksi benda (dalam senirupa). Pada sekitar abad 19 inilah munculnya aliran seni lukis abstrak.

    BalasHapus
  3. Perkembangan selanjutnya menyadarkan kita bahwa keindahan tidak selalu memiliki rumusan tertentu. Ia berkembang sesuai penerimaan masyarakat terhadap ide dan gagasan yang dimunculkan oleh pembuat karya. Karena itulah, selalu dikenal dua hal dalam penilaian keindahan, yaitu the beauty, suatu karya yang memang diakui banyak pihak memenuhi standar. Serta the ugly adalah suatu karya yang memang tidak dianggap memiliki standar secara umum, justru menampilkan keburukan, seronok namun kenyataannya itu merupakan sebuah ekspresi dari realita yang ada.
    Positivisme adalah suatu aliran filsafat yang menyatakan ilmu alam sebagai satu-satunya sumber pengetahuan yang benar dan menolak aktifitas yang berkenaan dengan metafisik. Tidak mengenal adanya spekulasi, semua didasarkan pada data empiris. Sesungguhnya aliran ini menolak adanya spekulasi teoritis sebagai suatu sarana untuk memperoleh pengetahuan (seperti yang diusung oleh kaum idealisme khususnya idealisme Jerman Klasik).
    Positivisme merupakan empirisme, yang dalam segi-segi tertentu sampai kepada kesimpulan logis ekstrim karena pengetahuan apa saja merupakan pengetahuan empiris dalam satu atau lain bentuk, maka tidak ada spekulasi dapat menjadi pengetahuan. Terdapat tiga tahap dalam perkembangan positivisme, yaitu:
    1. Tempat utama dalam positivisme pertama diberikan pada Sosiologi, walaupun perhatiannya juga diberikan pada teori pengetahuan yang diungkapkan oleh Comte dan tentang Logika yang dikemukakan oleh Mill. Tokoh-tokohnya Auguste Comte, E. Littre, P. Laffitte, JS. Mill dan Spencer.
    2. Munculnya tahap kedua dalam positivisme – empirio-positivisme – berawal pada tahun 1870-1890-an dan berpautan dengan Mach dan Avenarius. Keduanya meninggalkan pengetahuan formal tentang obyek-obyek nyata obyektif, yang merupakan suatu ciri positivisme awal. Dalam Machisme, masalah-masalah pengenalan ditafsirkan dari sudut pandang psikologisme ekstrim, yang bergabung dengan subyektivisme.
    3. Perkembangan positivisme tahap terakhir berkaitan dengan lingkaran Wina dengan tokoh-tokohnya O.Neurath, Carnap, Schlick, Frank, dan lain-lain. Serta kelompok yang turut berpengaruh pada perkembangan tahap ketiga ini adalah Masyarakat Filsafat Ilmiah Berlin. Kedua kelompok ini menggabungkan sejumlah aliran seperti atomisme logis, positivisme logis, serta semantika. Pokok bahasan positivisme tahap ketiga ini diantaranya tentang bahasa, logika simbolis, struktur penyelidikan ilmiah dan lain-lain.

    Positivisme berusaha menjelaskan pengetahuan ilmiah berkenaan dengan tiga komponen yaitu bahasa teoritis, bahasa observasional dan kaidah-kaidah korespondensi yang mengakaitkan keduanya. Tekanan positivistik menggarisbawahi penegasannya bahwa hanya bahasa observasional yang menyatakan informasi faktual, sementara pernyataan-pernyataan dalam bahasa teoritis tidak mempunyai arti faktual sampai pernyataan-pernyataan itu diterjemahkan ke dalam bahasa observasional dengan kaidah-kaidah korespondensi.

    BalasHapus
  4. Nama : Yusuf Saputra
    NIM : 2611411016



    RG Collingwood (1889-1943) adalah seorang multitalenta intelektual: baik seorang arkeolog dan seorang profesor filsafat di Universitas Oxford. Selain berpengaruh The Principles of Art, (1938) dia terkenal karena filsafat sejarah. Di bidang filsafat sejarah, Collingwood terkenal memegang doktrin 'Re-enatchment’. Demikian pula, prosedur estetika adalah salah satu di mana artis dan penonton bersama-sama menyadari, untuk mengetahui, keadaan mental tertentu. Seni adalah ekspresi fundamental. Collingwood melihat dua hambatan utama dalam pemahaman dan penerimaan umum ini:

    Pertama, kata 'seni' memiliki makna ganda, diperoleh diam-diam dari kalangan rakyat biasa yang harus mengurai,

    Kedua, teori filosofis fenomena ekspresi diperlukan untuk menunjukkan bahwa bagian penting dari kehidupan pikiran, bukan hanya kegiatan khusus yang masuk untuk penyair.

    Macam-macam teori yang di ungkapkan COLLINGWOOD :
    » Seni sebagai Craft, Magic, Representasi dan Hiburan
    » Seni sebagai Ekspresi
    » Seni sebagai imajinatif Penciptaan
    » Bahasa
    » Praktis Konsekuensi: Seni dan Seniman
    » Praktis Konsekuensi: The Artist dan Masyarakat
    » Seni sebagai Craft, Magic, Representasi dan Hiburan

    Ada empat konsep aktivitas manusia yang lazim disebut 'seni', tetapi yang menurut Collingwood, harus tajam dibedakan dari apa yang dia sebut "seni yang benar '.

    BalasHapus
  5. a)Seni sebagai kerajinan/Craft
    Ini adalah 'teknis' teori seni, sepenuhnya berasal dari teori kerajinan seperti pembuatan jam,barang dari kayu, pertukangan dan atau teori bahwa seni kerajinan, dengan yang kita maksudkan sebagainya. Bahkan, teori kerajinan bahwa seni bukan kerajinan, Istilah 'kerajinan' merujuk pada contoh kegiatan yang biasanya memiliki 6 sifat sebagai berikut;

    (1) penerapan perbedaan antara tindakan-tindakan sebagai sarana dan tindakan-tindakan sebagai tujuan.

    (2) Perbedaan yang terlibat antara perencanaan dan pelaksanaan.

    (3) Dalam perencanaan, cara di akhir. tetapi dalam pelaksanaan cara yang mendahului.

    (4) Kita biasanya dapat membedakan antara bahan baku dan produk jadi.

    (5) Perbedaan itu dapat diambil bentuk dan materi: yang kerajinan adalah transformasi bahan baku ke produk jadi



    (6) Kerajinan berdiri di tiga macam :

    a. bahan baku kerajinan merupakan salah satu produk jadi

    b. suatu kerajinan sebagai produk akhir, yang dapat digunakan sebagai sarana yang lain.

    c. Beberapa perdagangan bekerja sama untuk menghasilkan produk jadi. Seni itu adalah kerajinan (atau 'teknik') untuk memanipulasi objek tertentu (cat, suara, kata-kata dan seterusnya).
    b) Seni sebagai Representasi
    Collingwood menghadapi kemajuan gagasan yang sangat liberal tentang representasi. Yaitu benda seni direpresentasikan mewakili perasaan seseorang.
    • Yang pertama adalah bahwa dari foto biasa, atau lukisan.
    • Yang kedua adalah bahwa di mana pelukis - ia menyebut van Gogh – meninggalkan beberapa hal yang ia lihat, mengubah orang lain, dan memperkenalkan. ia mungkin hanya melukis pola.
    • Yang ketiga adalah 'representasi emosional', yang mewakili aspek batin emosi, tetapi tetap berbeda dari ekspresi. seperti perasaan 'berbaring di rumput yang mendalam pada suatu hari di musim panas menonton awan melayang di langit'.

    Collingwood tidak mengatakan persis apa perbedaan antara representasi dan ekspresi.

    BalasHapus
  6. c) Seni sebagai Magic
    Sihir adalah representasi ritual yang berguna emosi, bukan demi katarsis, tetapi untuk nilai praktis emosi. Perang-tarian, misalnya, menanamkan keberanian berkat genderang dan tombak, dan hanya sekilas memiliki rasa tahut.Tentu saja keyakinan yang salah mungkin memainkan peran, yang teori sihir-sebagai- buruk- ilmu merebut atas; penari hujan mungkin berpikir ia meningkatkan kemungkinan hujan. Tapi itu adalah sebuah 'penyimpangan' sihir; efek magis yang benar adalah penguatan harapan dan kerja keras yang menempatkan kekeringan untuk ujian. Seni tepat sering terikat dengan magis 'seni'.
    d) Seni sebagai Amusement
    Tujuan seni hiburan adalah untuk merangsang emosi agar 'membuat percaya' , dan untuk melaksanakan itu. hiburan dan seni yang tepat dapat hidup berdampingan, yaitu dalam pekerjaan yang sama.

    o Seni sebagai Ekspresi
    Collingwood menulis dalam sebuah bagian yang sering dikutip, ketika seseorang mengekspresikan emosi,dia sadar ... sebuah kekacauan atau kegembiraan yang ia merasa terjadi di dalam dirinya, tetapi yang sifat dia bodoh. tentang emosi adalah: 'Saya merasa ... aku tidak tahu apa yang saya rasakan. "Dari kondisi tertindas tak berdaya dan ia extricates sendiri dengan melakukan sesuatu yang kita sebut mengekspresikan dirinya. Ini adalah kegiatan yang ada hubungannya dengan hal yang kita sebut bahasa: dia menyatakan dirinya dengan berbicara. Ini juga ada hubungannya dengan kesadaran: emosi diungkapkan adalah emosi yang sifat orang yang merasa tidak sedang berada di alam bawah sadar. Ini juga memiliki sesuatu untuk dilakukan dengan cara di mana ia merasakan emosi. Seperti yang terpendam, ia merasa hal itu dalam apa yang kita disebut cara tak berdaya dan tertindas.


    Tiga poin berikut ini muncul dari hal ini:
    1. Mengungkapkan adalah sadar dari emosi
    2. Ekspresi individualises; alih-alih menggambarkan emosi dalam kata- kata yang pada prinsipnya makna umum, ekspresi adalah suatu fitur dari ucapan itu sendiri.
    3. 'keringanan' yang berbicara Collingwood tidak bahwa dari katarsis, yang menyediakan saluran untuk emosi dan dapat dilakukan tanpa agen-agennya menjadi sadar akan hal itu sama sekali.

    o Seni sebagai imajinatif Penciptaan
    Demikian Collingwood:

    Aku sudah mengatakan bahwa suatu hal yang 'ada di kepala seseorang' dan tempat lain adalah alternatif yang disebut imajiner. Sebenarnya pembuatan tune adalah alternatif karena itu disebut pembuatan lagu imajiner. Ini adalah kasus penciptaan ... Oleh karena itu, membuat sebuah lagu adalah sebuah contoh dari ciptaan imajinatif. Hal yang sama berlaku untuk pembuatan sebuah puisi, atau gambar, atau karya seni lain. pada prinsipnya, yang 'total imajinatif pengalaman' yang merupakan karya seni yang layak harus dipahami sebagai satu-satunya kontingen yang berhubungan dengan kerja tubuh.

    BalasHapus
  7. o Bahasa


    Collingwood mengatakan setiap ucapan dan setiap gerakan yang kita buat adlah sebuah karya seni yang kita lakukan.

    Bahasa = dasar dan contoh pertama perilaku ekspresif.


    o Praktis Konsekuensi: Seni dan Seniman

    Seni sebagai bahasa seniman

    o Praktis Konsekuensi: The Artist dan Masyarakat
    Secara teoritis, Collingwood mengatakan, ‘artis adalah orang yang datang untuk mengetahui dirinya sendiri, untuk mengetahui emosinya sendiri. Collingwood mulai pandangannya tentang hubungan artis dan penonton dengan mengatakan bahwa penonton memahami pekerjaan tertentu hanya sejauh sebagai pengalaman imajinatif identik dengan yang telah oleh seniman dalam menciptakan itu (tidak di ketahui dengan pasti).
    Sekarang Collingwood tidak berbicara tentang identitas pemahaman, tapi benar-benar account sebenarnya.
    Teori Collingwood adalah sebuah prinsip yang menyatukan kembar definisi "Seni ungkapan" dan "Seni adalah imajinasi". Dasar teori ini adalah perbedaan antara simbolisme dan imajinatif bahasa atau bahasa yang tepat.
    Bila seseorang hendak mengekspresikan emosinya maka sebenarnya timbul kesadaran bahwa ia mempunyai emosi, tetapi ia juga tidak mengerti dan tidak sadar apa sebenarnya emosi itu yang dirasakannya hanyalah desakan dan ketegangan yang berada di dalam dan tidak di ketahui asal atau sebab-sebabnya, sebelum emoosi tersebut terungkapkan seseorang seniman merasa dirinya tidak enak, kemudian jika ia berhasil mengungkapkannya, pikirannya menjadi sangat ringan dan tujuan atau harapannya ialah dapat mengerti dan menjelaskan emosinya.

    Kesimpulan

    Collingwood akhirnya menyimpulkan bahwa suatu emosi sebenarnya menyimpan identitas selama berlangsyng proses kreatif dan karya tersebut dapt dianggap orisnil jika hal itu mendominasi proses kreatif.
    Kelemahan dalam teori ini adalah sulitnya menentukan prinsip identitas dari emosi yang telah berlangsung. Untuk meredam teorinya, Collingwood kemudian mengatakan seorang seniman yang patut diperhitungkan adalah mereka yang hanya berekspresi berdasarkan emosi pertama dan berpegang teguh kepada satu-satunya emosi yang diyakini.
    Oposisi biner adalah sebuah
    sistem yang membagi dunia dalam dua kategori yang berhubungan secara
    struktural.

    BalasHapus
  8. Lilis Nawati 2611411013

    PENGERTIAN PERIODE POSITIFISME
    (George Santayana)

    Positivisme adalah suatu aliran filsafat yang menyatakan ilmu alam sebagai satu-satunya sumber pengetahuan yang benar dan menolak aktifitas yang berkenaan dengan metafisik. Tidak mengenal adanya spekulasi, semua didasarkan pada data empiris.
    Periode Positif atau disebut juga Dewasa Ini. Periode ini dimulai satu setengah abad sejak wafatnya Kant hingga zaman kita sekarang (1804 – sekarang), dengan pembagian yang berdasar logika dan tidak begitu memperhatikan urutan waktu. Tokoh
    yang merintis adalah Fechner hingga Etienne Souriau.
    Dalam hubungannya dengan estetik, filsuf Amerika George Santayana (1863-1952) berpendapat bahwa estetik berhubungan dengan penyerapan dari nilai-nilai. Dalam bukunya The Sense of Beauty beliau memberikan batasan keindahan sebagai nilai yang positif, intrinsik dan diobyektifkan (yakni dianggap sebagai kwalita yang ada pada suatu benda).

    BalasHapus
  9. Nama : Siti Fatimah
    NIM : 26114111010

    Friedrich Nietzsche
    Nietzche melalui tulisan-tulisannya yang berjudul “ Die Geburt der Tragoedie ” (Lahirnya Tragedi), “ Der Fall Wagner ”, “ Also Sprach Zarathustra ”, dan “ Unzeitgemaesse ” dapat digolongkan sebagai penulis humanis yang banyak menulis metaestetika (estetika atas/metafisik) abad 19. Estetika ditinjau dari sudut abstraknya bukan gejalanya. Schoupenhauer sebagai gurunya sangat mempengaruhi terhadap keyakinan dan pesimisme yang mendalam (pesimisme romantis). Jalan pikiran Nietzche isinya pesimisme, artinya seni itu sebetulnya banyak mengungkapkan kesan-kesan yang bersifat kesehatan, ketidakadilan, sakit dan sebagainya, sehingga seni itu semata-mata ungkapan perasaan keputusasaan seperti dalam tragedi dan sejenisnya. Ia mencoba menerangkan jiwa kepahlawanan dan inspirasi-inspirasi geni (semangat) di dalam seni dan geni dalam metafisika (Anwar, 1980:34). Selanjutnya Nietzche masuk pada periode positivisme skeptis, yaitu mengembalikan segala sesuatu kepada “kebebasan akal”. Akhirnya periode pembangunan kembali dengan menetapkan nilai-nilai yang diperlukan oleh hidup agar terus berlangsung dan mempunyai kekuatan. Positivisme adalah suatu aliran filsafat yang menyatakan ilmu alam sebagai satu-satunya sumber pengetahuan yang benar dan menolak aktifitas yang berkenaan dengan metafisik. Tidak mengenal adanya spekulasi, semua didasarkan pada data empiris. Sesungguhnya aliran ini menolak adanya spekulasi teoritis sebagai suatu sarana untuk memperoleh pengetahuan (seperti yang diusung oleh kaum idealisme khususnya idealisme Jerman Klasik). Positivisme merupakan empirisme, yang dalam segi-segi tertentu sampai kepada kesimpulan logis ekstrim karena pengetahuan apa saja merupakan pengetahuan empiris dalam satu atau lain bentuk, maka tidak ada spekulasi dapat menjadi pengetahuan. Terdapat tiga tahap dalam perkembangan positivisme, yaitu: Pertama, Tempat utama dalam positivisme pertama diberikan pada Sosiologi, walaupun perhatiannya juga diberikan pada teori pengetahuan yang diungkapkan oleh Comte, dan tentang Logika yang dikemukakan oleh Mill. Tokoh-tokohnya Auguste Comte, E. Littre, P. Laffitte, JS. Mill dan Spencer. Kedua, Munculnya tahap kedua dalam positivisme–empirio-positivisme–berawal pada tahun 1870-1890-an dan berpautan dengan Mach dan Avenarius. Keduanya meninggalkan pengetahuan formal tentang obyek-obyek nyata obyektif, yang merupakan suatu ciri positivisme awal. Dalam Machisme, masalah-masalah pengenalan ditafsirkan dari sudut pandang psikologisme ekstrim, yang bergabung dengan subyektivisme. Ketiga, Perkembangan positivisme tahap terakhir berkaitan dengan lingkaran Wina dengan tokoh-tokohnya O. Neurath, Carnap, Schlick, Frank, dan lain-lain. Serta kelompok yang turut berpengaruh pada perkembangan tahap ketiga ini adalah Masyarakat Filsafat Ilmiah Berlin. Kedua kelompok ini menggabungkan sejumlah aliran seperti atomisme logis, positivisme logis, serta semantika. Pokok bahasan positivisme tahap ketiga ini diantaranya tentang bahasa, logika simbolis, struktur penyelidikan ilmiah dan lain-lain.

    BalasHapus
  10. Apollonian dan Dionysian adalah filsafat dikotomi paling sering dikaitkan dengan Friedrich Nietzsche , yang terinspirasi tapi tidak didasarkan pada mitologi Yunani .
    Ini adalah dualistis konsep, menurut mana ada perjuangan abadi antara dua kekuatan yang berlawanan set atau cita-cita, satu berhubungan dengan Apollo , dewa matahari, yang lain terkait dengan Dionysus (setara dengan Romawi Bacchus), dewa mabuk. Dalam Kelahirannya Tragedi, Nietzsche menulis seni yang didasarkan pada keseimbangan kritis terhadap dua kekuatan, analogizing dengan seks :
    " Pengembangan lebih lanjut seni terikat dengan dualitas dari Apollonian dan Dionysian, seperti reproduksi tergantung pada dualitas jenis kelamin. "
    Gaya Apollonian didefinisikan oleh ketergantungan pada alasan, urutan, kontrol, individualitas, dan berpikir tenang, dan berusaha untuk membawa filsafat rangka untuk alam semesta. Nietzsche, yang paling peduli dengan seni dalam perawatan dari konsep, mengidentifikasi seni visual sebagai penjelmaan kekuatan Apollonian.
    Lebih luas, modern, ilmu pengetahuan dengan yang metode ilmiah dan naturalisme metodologis bisa dilihat sebagai kekuatan Apollonian, berasal hukum tertib dan prinsip-prinsip untuk perkiraan, sedekat mungkin, operasi alam semesta. Zaman Pencerahan, dengan penekanan pada alasan, ilmu pengetahuan, dan kekuatan pikiran, didorong oleh filsafat jelas Apollonian.
    Filosofi Dionysian adalah yang mencakup mistisisme, emosi, kekacauan, "dunia harmonis", dan "kesatuan kolektif." Nietzsche umum mengambil Dionysian adalah bahwa hal itu menyenangkan seperti sedang mabuk.
    Sebagai contoh peristiwa secara menyeluruh Dionysian, mengutip Nietzsche Eropa modern awal mania menari : kerumunan besar orang menari liar melalui jalan-jalan ke titik kehancuran, tidak tahu di mana mereka pergi atau mengapa mereka menari. Contoh lain dari filsafat Dionysian adalah Romantisisme, gerakan kontra-Pencerahan yang menekankan intuisi manusia dan menentang rasionalisasi ilmiah alam.

    BalasHapus
  11. Nama : Aini Machmudah
    NIM : 2611411004

    Perkembangan Estetika
    Pada Periode Kritik Menurut BAUMGARTEN


    Istilah Estetika dipopulerkan oleh Alexander Gottlieb Baumgarten (1714 - 1762) melalui beberapa uraian yang berkembang menjadi ilmu tentang keindahan. Baumgarten menggunakan istilah estetika untuk membedakan antara pengetahuan intelektual dan pengetahuan indrawi. Dengan melihat bahwa istilah estetika baru muncul pada abad 18, maka pemahaman tentang keindahan sendiri harus dibedakan dengan pengertian estetika.

    Alexander Gottlieb Baumgarten (1714-1762), penemu ilmu estetika Jerman di pertengahan abad 18 mengatakan: "Estetika dibagi tiga:
    1. Estetika sastra- teori sastra.
    2. Estetika Alam dan
    3. Estetika Sosiologi.

    Baumgarten berpendapat bahwa seni dan keindahan tidak terpisahkan. Dalam estetika yang dicari adalah hakikat dari keindahan, Tapi orang
    sekarang sering salah mengkaitkan dengan estetika jaman Antik dan Abad
    Pertengahan atau Renaissance.

    Estetika terus berubah sesuai jamannya.
    Pada tahun 1750, Alexander Gottlieb Baumgarten melihat adanya syarat syarat tertentu dalam menafsirkan pekerjaan-pekerjaan Seni. Ia ingin mengetahui secara pasti mengapa seseorang dapat mengalami keindahan dan sanggup mengapresiasi pekerjaan Seni. Selanjutnya ia melakukan penelitian psikoogi Seni. Baumgarten tidak menggunakan lagi kata keindahan melainkan mengambil istilah "estetika" dari bahasa Yunani 'aisthekos', yang dihubungkan dengan persepsi.
    Inisiatif Baumgarten tidak dengan segera memunculkan teori yang meyakinkan. Hipotesis yang lebih baik disajikan oleh Immanuel Kant ( 1724 - 1804 ), yang membuat estetika menjadi bagian dari sejarah umum filsafat, dalam bukunya "Kritik der Urteilskraft"(1790). Mengikuti langkah Epicurus, ia menetapkan bahwa keindahan adalah segala sesuatu yang menyenangkan semua orang dan menghargai opini mereka bahwa objek yang menyenangkan adalah indah".

    Gagasan Baumgarten mengenai keindahan secara empirik telah diletakkan oleh George Th.Fechner. dalam eksperimen laboratoriumnya. Ia mengkaji preferensi dari masyarakat biasa yang tidak dilatih mengenai estetika terhadap karya Seni. Eksperimen-eksperimennya kemudian diikuti oleh peneliti lain, seperti Weber, yang menemukan bahwa terdapat beberapa ketetapan pada ulasan masyarakat mengenai keindahan objek dan bentuknya, dimana proporsi Phytagoras, dan proporsi yang disebut Golden Section tidak digunakan.

    BalasHapus
  12. FARAH NUR AFINI
    NIM.2611411018

    SEJARAH PERKEMBANGAN ESTETIKA (PERIODE POST MODERNISME)
    Estetika sebagai usaha untuk memahami keindahan mengalami tahap-tahap
    perkembangan pemikiran. Perkembangan pemikiran estetika dapat ditinjau
    dari sisi sejarah dan mengemukakannya sesuai dengan pembagian logika. Salah satu periode dalam sejarah estetika yaitu :
     Periode Post Modernisme
    Postmodernisme bila diartikan secara harafiah kata-katanya terdiri atas ‘Post’ yang artinya masa sesudah dan ‘Modern’ yang artinya Era Modern maka dapat disimpulkan bahwa Post Modern adalah masa sesudah era Modern ( era diatas tahun 1960 an ) . Postmodernisme sendiri merupakan suatu aliran baru yang menentang segala sesuatu kesempurnaan dari Modernisme, bahkan tak jarang menentang aturan yang ada dan mencampurkan berbagai macam gaya .

    BalasHapus
  13. Uripatul Aeni
    2611411005


    RELATIVISME DAN SUBJEKTIVISME MENURUT IMMANUEL KANT

    Kant, seorang filosuf berkebangsaan Jerman, mempunyai kedudukan yang sangat penting dalam sejarah filsafat Eropa. Di samping menghasilkan tulisan yang meliput secara luas dan mendalam mengenai segala bidang falsafah, ia sangat berpengaruh dalam perkembangan falsafah keindahan dan teori kesenian.
    Ia juga tidak setuju dengan pengobyektifan konsep keindahan, yang ia anggap akan menimbulkan kekeliruan dalam mencari jawaban tentang apa keindahan itu. Ia tidak membantah bahwa dengan cara empiris, dengan banyak menyelidiki senanyak mungkin orang, bisa didapatkan standard of taste, atau ukuran tentang apa yang pada umumnya dirasakan sebagai indah oleh orang-orang. Namun, dengan menemukan standard of taste itu, belum terjawab pertanyaan apakah yang disebut keindahan itu. Cara ini hanya menemukan ciri-ciri dari benda indah yang pada umumnya memberi perasaan nikmat-indah pada manusia.
    Bukan hanya terjawabnya pertanyaan itu saja, tetapi Kant lebih jauh mempersoalkan juga apa sebab adanya persamaan antara sekian banyak manusia terhadap benda yang dirasakan indah itu. Malahan bukan saja tentang persamaanya, yang menyolok juga ialah bahwa rasa indah itu terhadap obyek yang sama ternyata berbeda-beda antara golongan manusia. Oleh karena itu, ia menarik kesimpulan bahwa bukan obyek atau benda yang dinikmati, tetapi subyek, yakni manusia yang menikmatinya, yang menentukan keindahan tersebut.
    Dengan adanya persamaan dan perbedaan antara perasaan manusia terhadap sesuatu yang sama, maka Kant menyusun teori keindahan yang memakai sebagai daasar bahwa memang apriori (berarti : telah hadir dari asalnya) ada suatu unsur daya dalam budi manusia yang membuat budi peka terhadap “keindahan”. Daya ini sudah tersusun dalam struktur budinya. Konsep apriori ini merupakan hal paling mendasar dalam falsafah keindahannya dan tercermin dalam uraian selanjutnya yang membahas tentang prinsip-prinsip penangkapan keindahan oleh manusia. Menurut teorinya, Kant di dalam struktur budi manusia tersusun atas beberapa jenis “daya” atau “kemampuan” (ing : faculty) yang masing-masing berfungsi menurut hukum tersendiri. Antara lain ada kemampuan berfikir, logika, kemampuan nilai moralitas, etika dan kemampuan menikmati keindahan, sense of beauty. Untuk ini Kant mengambil alih istilah yang sudah diciptakan terlebih dahulu oleh filosuf Jerman Baumgarten (1714-1762), aesthetika (Indonesia : estetika, Ing : aesthetics, asal dari Yunani kuno : “aethanomai=menikmati). Menurut Kant pengalaman indah yang dihasilakan oleh daya estetika ini pada hakekatnya memberi kesenangan, dan rasa senang ini terletak pada si pengamat (subyek) dan tidak terletak pada benda yang dinikmati (obyek). Keindahan juga relatif pada masing-masing individu,

    BalasHapus
  14. Uripatul Aeni
    2611411005

    Daya yang menurut Kant berfungsi dalam budi manusia mempunyai ciri-ciri yang merupakan hukum khas, yakni:
    a. Disinterestedness (tanpa berkepentingan) yakni tidak dicampuri dengan keinginan-keinginan atau pertimbangan-pertimbangan lain selain menikmati keindahannya. Misalnya tidak ada keinginan untuk memilikinya, menguasainya atau mempergunakannya untuk maksud atau keperluan tertentu.
    b. Ciri universalisme diartikan bahwa berfumgsinya daya estetika itu berlaku bagi semua manusia di seluruh pelosok dunia. Kant memandang bahwa universalisme ini sebagai akibat dari sifat yang berkepentingan (disinterestedness), karena daya estetik itu dipengaruhi oleh pertimbangan yang berbeda-beda antara sesama manusia. Dan pada saat belum ada pertimbangan yang beraneka ragam yang mencampurinya, dengan sendirinya pada saat itu sifatnya universal dan berlaku dimana-mana.
    c. Ciri kemutlakan yang berarti tidak bisa tidak. Kehadirannya dalam budi manusia adalah mutlak tidak mungkin ada manusia tanpa kehadiran daya estetika, walaupun harus diakui bahwa kadar kehadirannya berbeda-beda. Kemutlakan dari kehadiran perasaan estetik itu bukan berarti bahwa kita semua akan menikmati keindahan yang sama terhadap suatu benda. Yang dimaksudkan adalah bahwa di dalam struktur budi kita semua ada suatu mekanisme, suatu alat, apparatus, yang bisa dibangkitkan untuk merasakan keindahan suatu benda yang berada di luar kita, walaupun besar nikmatnya, cara menikmatinya, dan apa yang dinikmati bisa berlainan.
    d. Ciri bertujuan. Denga ini dimaksudkan bahwa daya estetik itu secara langsung mengenal rupa yang terarah, yang seolah-olah mempunyai arti, yang bermaksud tertentu (form of purpose). Ini berarti bahwa dalam suatu benda ada hal-hal tertentu yang bisa merangsang sense of beauty pada kita, dengan sendirinya kita akan bisa menikmati keindahannya. Tentang apa hal-hal yang tertentu itu, Kant mengemukakan bahwa estetika yang ada di dalam kita masing-masing mampu mengenal atau mengentarakan di dalam benda yang indah, hal-hal yang seakan mempunyai arah, mempunyai maksud yang jelas, arti yang nyata. Form of purpose inilah yang kita kentarakan berkat fungsi “faculty-nikmat-indah” yang ada pada kita. Untuk cotoh lebih jelas mari kita coba ingat kembali pada waktu kita masih anak-anak. Contohnya ketika kita sedang asyik melihat awan-awan di langit yang bertumpuk-tumpuk dan bergumpal-gumpal, dimana kita bayangkan awan-awan itu merupakan wujud raksasa, garuda atau singa, dan lain-lain. Hal itu terjadi karena keaktifan imajenasi kita, yang mengkonstruksikan yang kita lihat menjadi seperti yang telah kita kenal dari khayalan. Imajinasi kita memberi awn-awan itu “wujud yang berarti”. Pengantaran form of purpose oleh indra estetika bersifat lebih langsung tetapi lebih mendalam dari imajinasi anak-anak saja.

    BalasHapus
  15. Uripatul Aeni
    2611411005

    Secara umum perkembangan teori estetika dalam abad ke-18 dapat disimpulkan sebagai berikut : pada permulaan abad, sekitar tahun 1700. Pokok perhatian falsafah keindahan berkisar pada benda yang indah, pada “obyek”. Yang kita sebut “keindahan” diduga bertempat pada obyek. Obyektivisme ini pada permulaan masih bersifat transcendental.
    Dengan perkembangan ilmu pengetahuan yang menonjol peran dari manusia, falsafah keindahan mengalami pergeseran, dimana perhatian tentang apa yang indah itu pindah dari obyek ke arah kemampuan manusia untuk menikmati keindahan itu. Terjadi perhatian terhadap faculty of taste yang awalnya dianggap dwitunggal, kemudian dipisahkan dari kemampuan moralitas (etika) mendapat tempat tersendiri sebagai kemampuan nikmat indah.
    Kemampua inilah yang dibahas dengan segala cara, antara lain secara empiris oleh David Hume. Tanpa membantah pentingnya empiris itu, Kant menyodorkan falsafah yang radikal, yang menempatkan bukan saja kemampuan nikmat-indah, tetapi appriori “keindahan” sebagai konsep, faham atau “idea” itu sendiri kedalam budi manusia. Dengan kata lain bahwa tanpa tanpa manusia tidak ada indra keindahan, tidak ada yang bisa menyatakan sesuatu indah, artinya tanpa manusia tidak ada keindahan. Indra keindahan itu mempunyai empat sifat mendasar, yakni tanpa berkepentingan (disinterestedness), universalisme, kemutlakan (necessity), bertujuan (form of purpose).
    Oleh karena Kant mengemukakan hal ini atas dasar “idea” keindahan, falsafahnya dianggap sebagai puncak idealisme dalam falsafah keindahan.

    BalasHapus
  16. Nama : Ahmad Alfan Rizka Alhamami
    Prodi : Sastra Jawa
    Rombel : 1
    Tugas : Estetika

    PERIODE ESTETIKA MODERNISME
    (BENEDETTO CROCE)

    Benedetto Croce (1866-1952) filsuf dari italia, karyanya berupa sejarah dan seni (estetika). Bagi Croce sejarah dan seni (estetika) berhubungan erat. Seluruh karya Croce adalah untuk menjelaskan proses perjalanan roh dan pengaruhnya dalam hidup manusia, lebih khususnya pada estetika. Oleh karena itu, dia selalu menghubungkan estetika dengan sejarah dan kesusastraan. Fokus studi estetika Croce sesungguhnya terletak pada seni sastra. Namun dalam hal ini, tidak mengabaikan seni-seni lain. Croce hanya ingin menunjukan kemiripan dengan fokus studinya. Croce sendiri tidak pernah puas dengan karya-karyanya. Dia selalu melakukan pemeriksaan pada karyanya. Bahkan, di mengritisi karya-karyanya. Dengan demikian, karya-karyanya menggambarkan evolusi pemikirannya.
    Secara garis besar, keseluruhan karya estetika benedetto croce dibagi 4 fase:
    1. Fase pertama ditandai dengan karyanya yang berjudul “Aesthetics As Science Of Expression dan General Linguistic” (1902). Dalam fase ini menekankan pada peranan intuisi dalam mengidentifikasi sebuah karya seni (art)
    2. Fase kedua ditandai dengan “Brevario Di Estetica (The Essense Of Aesthetics, 1913)” fase ini menekankan bahwa seni itu adalah sebuah aktivitas spiritual yang ada pada manusia dan berbentuk purba (primodial). Croce menghindari ekstrem rasa intelektual sambil menekankan pengetahuan.
    3. Fase ketiga mengacu pada karyanya yang berjudul “Il Carattere Di Totaliana Dell’ Espressione Artistica ( The Total Artistica Intuition)”. menekankan peranan intuisi dalam ekspresi estetis itu dalam konteks universal, yaitu sebagai ungkapan roh pribadi dalam sejarah dan bentuk konkretnya
    4. Fase keempat karyanya berjudul La Poesra (1936). Menekankan pemeriksaan ulang pada karya-karya sebelumnya, khususnya fase pertama yaitu “Aesthetics As Science Of Expression dan General Linguistic”. Disini menjelaskan bahwa sesungguhnya ada beberapa karya seni yang sesungguhnya tidaklah dapat dikatakan sebagai sebuah karya seni. Hal ini terjadi karena kemurnian intuisi pengetahuan pada manusia sudah tercemari. Seperti, demi hiburan atau intelektual dan tujuan moral.

    BalasHapus
  17. Adi Tyas Angga Rini
    2151407016
    Estetika

    Tokoh Socrates dan Penjabaran Gagasannya dalam Estetika
    Socrates (470 SM - 399 SM) adalah filsuf dari Athena, Yunani dan merupakan salah satu figur paling penting dalam tradisi filosofis Barat. Socrates lahir di Athena dan merupakan generasi pertama dari tiga ahli filsafat besar dari Yunani yaitu Socrates, Plato dan Aristoteles. Socrates adalah yang mengajar Plato. Plato pada gilirannya juga mengajar Aristoteles.
    Secara historis, filsafat Socrates mengandung pertanyaan karena Socrates sediri tidak pernah diketahui menuliskan buah pemikirannya. Apa yang dikenal sebagai pemikiran Socrates pada dasarnya adalah berasal dari catatan oleh Plato, Xenophone (430-357 SM) dan siswa-siswa lainnya. Yang paling terkenal diantaranya adalah Socrates dalam dialog Plato dimana Plato selalu menggunakan nama gurunya itu sebagai tokoh utama karyanya sehingga sangat sulit memisahkan mana gagasan Socrates yang sesungguhnya dan mana gagasan Plato yang disampaikan melalui mulut Socrates. Nama Plato sendiri hanya muncul tiga kali dalam karya-karyanya sendiri yaitu dua kali dalam Apologi dan sekali dalam Phaedrus.
    Socrates dikenal sebagai seorang yang tidak tampan, berpakaian sederhana, tanpa alas kaki dan berkeliling mendatangi masyarakat Athena berdiskusi soal filsafat. Dia melakukan ini pada awalnya didasari satu motif religius untuk membenarkan suara gaib yang didengar seorang kawannya dari Oracle Delphi yang mengatakan bahwa tidak ada orang yang lebih bijak dari Socrates. Merasa dirinya tidak bijak dia berkeliling membuktikan kekeliruan suara tersebut, dia datangi satu demi satu orang-orang yang dianggap bijak oleh masyarakat pada saat itu dan dia ajak diskusi tentang berbagai masalah kebijaksanaan. Metode berfilsafatnya inilah yang dia sebut sebagai metode kebidanan. Dia memakai analogi seorang bidan yang membantu kelahiran seorang bayi dengan caranya berfilsafat yang membantu lahirnya pengetahuan melalui diskusi panjang dan mendalam. Dia selalu mengejar definisi absolut tentang satu masalah kepada orang-orang yang dianggapnya bijak tersebut meskipun kerap kali orang yang diberi pertanyaan gagal melahirkan definisi tersebut.

    BalasHapus
  18. Pada akhirnya Socrates membenarkan suara gaib tersebut berdasar satu pengertian bahwa dirinya adalah yang paling bijak karena dirinya tahu bahwa dia tidak bijaksana sedangkan mereka yang merasa bijak pada dasarnya adalah tidak bijak karena mereka tidak tahu kalau mereka tidak bijaksana.
    Cara berfilsafat inilah yang memunculkan rasa sakit hati orang-orang yang dianggap bijak tersebut kepada Socrates karena setelah penyelidikan tersebut, diketahui bahwa mereka yang dianggap bijak oleh masyarakat ternyata tidak mengetahui apa yang sesungguhnya masyarakat duga mereka ketahui. Rasa sakit hati inilah yang nantinya akan berujung pada kematian Socrates melalui peradilan dengan tuduhan resmi merusak generasi muda, sebuah tuduhan yang sebenarnya dengan gampang dapat dipatahkan melalui pembelaannya sebagaimana tertulis dalam Apologi karya Plato. Socrates pada akhirnya wafat pada usia tujuh puluh tahun dengan cara meminum racun sebagaimana keputusan yang diterimanya dari pengadilan dengan hasil voting 280 suara mendukung hukuman mati dan 220 suara menolaknya.
    Gagasan-gagasan Socrates sulit untuk dikaji kembali karena Socrates tidak pernah menuliskan buah pemikirannya dalam bentuk tulisan. Namun Aristoteles dan Plato sebagai anak didik Socrates mulai menuliskan gagasan-gagasan mereka dalam bentuk tulisan. Sehingga dapat dipastikan bahwa buah pemikiran Aristoteles dan Plato juga merupakan buah pemikiran Socrates. Gagasan-gagasan yang dapat dikembangkan, antara lain :
    1. Mimesis
    Mimesis merupakan salah satu wacana yang ditinggalkan Plato dan Aristoteles sejak masa keemasan filsafat Yunani Kuno, hingga pada akhirnya Abrams memasukkannya menjadi salah satu pendekatan utama untuk menganalisis sastra selain pendekatan ekspresif, pragmatik dan objektif. Mimesis merupakan ibu dari pendekatan sosiologi sastra yang darinya dilahirkan puluhan metode kritik sastra yang lain.
    Mimesis berasal bahasa Yunani yang berarti tiruan. Dalam hubungannya dengan kritik sastra, mimesis diartikan sebagai sebuah pendekatan yang dalam mengkaji karya sastra selalu berupaya untuk mengaitkan karya sastra dengan realitas atau kenyataan. Perbedaan pandangan Plato dan Aristoteles menjadi sangat menarik karena keduanya merupakan awal filsafat alam, merekalah yang menghubungkan antara persoalan filsafat dengan seni.

    BalasHapus
  19. Pandangan Plato mengenai Mimesis.
    Pandangan Plato mengenai mimesis sangat dipengaruhi oleh pandangannya mengenai konsep Idea-idea yang kemudian mempengaruhi bagaimana pandangannya mengenai seni.
    Plato menganggap Idea yang dimiliki manusia terhadap suatu hal merupakan sesuatu yang sempurna dan tidak dapat berubah. Idea merupakan dunia ideal yang terdapat pada manusia. Idea oleh manusia hanya dapat diketahui melalui rasio, tidak mungkin untuk dilihat atau disentuh dengan panca indra. Idea bagi Plato adalah hal yang tetap atau tidak dapat berubah, misalnya idea mengenai bentuk segitiga, ia hanya satu tetapi dapat ditransformasikan dalam bentuk segitiga yang terbuat dari kayu dengan jumlah lebih dari satu . Idea mengenai segitiga tersebut tidak dapat berubah, tetapi segitiga yang terbuat dari kayu bisa berubah (Bertnens1979:13).
    Berdasarkan pandangan Plato mengenai konsep Idea tersebut, Plato sangat memandang rendah seniman dan penyair dalam bukunya yang berjudul Republic bagian kesepuluh. Bahkan ia mengusir seniman dan sastrawan dari negerinya. Karena menganggap seniman dan sastrawan tidak berguna bagi Athena, mereka dianggap hanya akan meninggikan nafsu dan emosi saja. Pandangan tersebut muncul karena mimesis yang dilakukan oleh seniman dan sastrawan hanya akan menghasilkan khayalan tentang kenyataan dan tetap jauh dari ‘kebenaran’. Seluruh barang yang dihasilkan manusia menurut Plato hanya merupakan copy dari Idea, sehingga barang tersebut tidak akan pernah sesempurna bentuk aslinya (dalam Idea-Idea mengenai barang tersebut). Sekalipun begitu bagi Plato seorang tukang lebih mulia daripada seniman atau penyair. Seorang tukang yang membuat kursi, meja, lemari dan lain sebagainya mampu menghadirkan Idea ke dalam bentuk yang dapat disentuh panca indra. Sedangkan penyair dan seniman hanya menjiplak kenyataan yang dapat disentuh panca indra (seperti yang dihasilkan tukang), mereka oleh Plato hanya dianggap menjiplak dari jiplakan (Luxemberg:16).
    Menurut Plato mimesis hanya terikat pada ide pendekatan. Tidak pernah menghasilkan kopi sungguhan, mimesis hanya mampu menyarankan tataran yang lebih tinggi. Mimesis yang dilakukan oleh seniman dan sastrawan tidak mungkin mengacu secara langsung terhadap dunia ideal (Teew 1984:220). Hal itu disebabkan pandangan Plato bahwa seni dan sastra hanya mengacu kepada sesuatu yang ada secara faktual seperti yang telah disebutkan di muka. Bahkan seperti yang telah dijelaskan di muka, Plato mengatakan bila seni hanya menimbulkan nafsu karena cenderung menghimbau emosi, bukan rasio (Teew 1984:221).

    BalasHapus
  20. Pandangan Aristoteles Mengenai Mimesis
    Aristoteles adalah seorang pelopor penentangan pandangan Plato tentang mimesis, yang berarti juga menentang pandangan rendah Plato terhadap seni. Apabila Plato beranggapan bahwa seni hanya merendahkan manusia karena menghimbau nafsu dan emosi. Aristoteles justru menganggap seni sebagai sesuatu yang bisa meninggikan akal budi. Teew (1984: 221) mengatakan bila Aristoteles memandang seni sebagai katarsis, penyucian terhadap jiwa. Karya seni oleh Aristoteles dianggap menimbulkan kekhawatiran dan rasa khas kasihan yang dapat membebaskan dari nafsu rendah penikmatnya.
    Aristoteles menganggap seniman dan sastrawan yang melakukan mimesis tidak semata-mata menjiplak kenyataan, melainkan sebuah proses kreatif untuk menghasilkan kebaruan. Seniman dan sastrawan menghasilkan suatu bentuk baru dari kenyataan indrawi yang diperolehnya. Dalam bukunya yang berjudul Poetica (Luxemberg 1989:17), Aristoteles mengemukakan bahwa sastra bukan copy (sebagaimana uraian Plato) melainkan suatu ungkapan mengenai “universalia” (konsep-konsep umum). Dari kenyataan yang menampakkan diri kacau balau seorang seniman atau penyair memilih beberapa unsur untuk kemudian diciptakan kembali menjadi ‘kodrat manusia yang abadi’, kebenaran yang universal. Itulah yang membuat Aristoteles dengan keras berpendapat bahwa seniman dan sastrawan jauh lebih tingi dari tukang kayu dan tukang-tukang lainnya.
    Pandangan positif Aristoteles terhadap seni dan mimesis dipengaruhi oleh pemikirannya terhadap “ada” dan Idea-Idea. Aristoteles menganggap Idea-idea manusia bukan sebagai kenyataan. Jika Plato beranggapan bahwa hanya idea-lah yang tidak dapat berubah, Aristoteles justru mengatakan bahwa yang tidak dapat berubah (tetap) adalah benda-benda jasmani itu sendiri. Benda jasmani oleh Aristoteles diklasifikasikan ke dalam dua kategori, bentuk dan kategori. Bentuk adalah wujud suatu hal sedangkan materi adalah bahan untuk membuat bentuk tersebut, dengan kata lain bentuk dan meteri adalah suatu kesatuan (Bertens.1979: 13).

    BalasHapus
  21. 2. Apriori
    Istilah apriori digunakan dalam untuk membedakan dua jenis pengetahuan, pembenaran argumen atau dikenal secara independen dari pengalaman. Dengan demikian apriori digunakan sebagai kata sifat untuk memodifikasi kata benda."kebenaran". Selain itu, filsuf sering memodifikasi menggunakan ini. Misalnya, apriority dan aprioricity kadang-kadang digunakan sebagai kata benda untuk menyebut sekitar dengan kualitas yang a priori.

    3. Katarsis
    Katarsis adalah istilah dalam seni drama yang menggambarkan pembersihan emosional, kadang-kadang digambarkan dalam bermain untuk satu atau lebih karakter, serta fenomena yang sama sebagai bagian dari pengalaman para penonton. Ini menggambarkan perubahan ekstrim dalam emosi yang terjadi sebagai akibat dari mengalami perasaan yang kuat seperti kesedihan, ketakutan, rasa kasihan atau bahkan tertawa. Aristoteles adalah yang pertama menggunakan istilah katarsis dengan mengacu pada emosi dalam karyanya Poetics. Dalam konteks itu, mengacu pada sensasi atau efek sastra yang idealnya, baik akan dialami oleh karakter dalam drama, atau tempa pada penonton pada akhir tragedi, yaitu pelepasan emosi terpendam atau energi. Dalam karya-karyanya sebelum Poetics, Aristoteles telah menggunakan istilah katarsis murni dalam arti medis (biasanya mengacu pada materi reproduksi).
    Setiap penerjemah mencoba menafsirkan makna dari istilah. Aristoteles harus mempertimbangkan bahwa Poetics sebagian besar merupakan jawaban terhadap klaim Plato bahwa puisi mendorong orang untuk menjadi histeris dan tidak terkontrol. Aristoteles berpendapat sebaliknya, efek dari puisi memungkinkan orang untuk menjadi kurang dikendalikan oleh emosi dengan yang menyediakan penyaluran yang sehat bagi perasaan mereka.
    Dalam estetika sastra, katarsis dikembangkan oleh karakter stereotip bersama dan tindakan unik atau mengejutkan atau peristiwa dari waktu ke waktu.
    Dalam estetika kontemporer, katarsis juga dapat merujuk kepada setiap membersihkan emosi yang dialami oleh penonton, dalam kaitannya dengan drama. Ini dapat dirasakan dalam komedi, melodrama dan paling dramatis bentuk lainnya.
    Katarsis sebelum abad keenam adalah tragedi untuk Dunia Barat, pada catatan kaki sejarah dengan konsepsi Aristotelian. Praktek pemurnian belum muncul di Homer, karena nanti komentator Yunani mencatat Aithiopis, set epik dalam siklus Perang Troya, menceritakan pemurnian Achilles setelah membunuh Thersites.
    Katarsis menggambarkan hasil dari tindakan yang diambil untuk membersihkan diri dari rasa bersalah (Burkert 1992:56). Suatu proses dalam pengembangan kebudayaan Hellenis di mana Oracle dari Delphi mengambil peran penting, contoh klasik : Orestes memiliki tragedi, tetapi prosedur yang diberikan oleh Aeschylus adalah darah dari babi. Hal ini diperbolehkan untuk mensucikan darah manusia yang tercemar.

    BalasHapus
  22. 4. Alur Dramatik Aristoteles
    Dalam Poetics 13 dan 14, ternyata terdiri dari tiga bagian terpisah dari plot ke plot, yaitu :
    1. Dalam Poetics 13, Aristoteles menyatakan gagasannya bahwa tujuan dari tragedi adalah gairah rasa kasihan dan ketakutan.
    2. Aristoteles mendefinisikan plot di bab 13 dari Poetics sebagai variasi dari dua jenis perubahan dan tiga tipe karakter yang berbeda. Sebuah plot yang tragis adalah gerakan atau perubahan antara titik akhir nasib baik dan buruk, karena itu ada dua macam kemungkinan perubahan, yaitu : perubahan yang dimulai di keberuntungan dan berakhir di nasib buruk dan perubahan yang dimulai di nasib buruk dan berakhir dalam keberuntungan.
    3. Aristoteles mengelompokkan empat karakter manusia, yaitu : orang biasa, orang luar biasa, orang jahat dan orang yang luar biasa dalam keunggulan dan keadilan. Aristoteles berpendapat dalam Poetics 13 bahwa plot yang paling diinginkan melibatkan orang yang berubah dari baik nasib buruk karena harta dan kesalahan. Selain itu, Aristoteles menyatakan bahwa plot di mana sebuah perubahan orang jahat dari buruk menjadi baik adalah yang paling untragic dari semua karena tidak filantropis, menyedihkan atau takut. Poetics 13 menawarkan kombinasi baik dan buruk dari jenis karakter dan perubahan tokohnya.

    BalasHapus
  23. Nama : Dzulfiqar Ade Fadjri
    NIM : 2611411015


    Susanne Katherina Langer
    “Pemikir Estetika pada Periode Modernisme”

    Susanne K. Langer lahir pada tahun 1895. Ia mendapatkan gelar sarjananya dari Radcliffe College, Cambridge, Massachussetts pada 1920, kemudian ia mendapatkan gelar master dan doktor dalam bidang filsafat dari Harvard pada tahun 1924 dan 1926. Selama 15 tahun kemudian, Langer mengajar filsafat di beberapa tempat, diantaranya Radcliffe, Wellesley, Smith dan juga beberapa tempat lainnya. Pada tahun 1942, ia bercerai dengan suaminya William L. Langer, yang menikahinya pada tahun 1921. Langer juga merupakan seorang profesor dalam bidang filsafat di Connecticut College di New London. Ia pensiun dengan hormat pada tahun 1962. Pada tahun 1945-1950, ia mengajar di Columbia University dimana ia mendapat dana bantuan dari Rockefeller Foundation untuk menulis buku Feeling and Form : A Theory of Art (1953). Langer menghabiskan tahun terakhir dari hidupnya dengan tinggal di rumahnya yang bergaya kolonial di Old Lyme on Human Feeling (1967, 1972, dan 1982) yang merupakan puncak dari kehidupan karyanya.
    Susanne K. langer adalah pemikir estetika pada periode modernisme. Dalam sebuah gagasannya, beliau membicarakan mengenai oposisi binner simbolisme. Dalam kajian maknanya, simbolisasi suatu objek estetis menjadi suatu hal yang penting, karena makna secara tajam dapat diamati pada proses penyimbolan satu fenomena atau juga penyimbolan gagas estetik. Peranan Langer di sini dalam memaparkan teori simbol-simbol menjadi lebih penting.
    Simbol yang ”diskursif” atau yang nalar dalam lingkup Neopositivisme, merupakan simbol logika modern untuk melakukan berbagai analisa pengungkapan. Simbol-simbol ini secara jelas terlihat dalam konstruksi logika kebahasaan. Tiap simbol mewakili satu nama, sehingga deretan simbol akan tersusun menurut aturan sintaksis tertentu yang menghasilkan suatu gambaran mengenai satu kenyataan tertentu. Simbol diskursif menyiratkan suatu struktur yang dibangun oleh berbagai unsur teratur yamg dapat dipahami maknanya. Tidak ditaatinya aturan yang menghubungkan unsur tersebut, akan menyebabkan tidak adanya stuktur yang jelas dan kaburnya makna simbol itu. Jika hal ini diterapkan dalam kalimat, misalnya tidak ditaatinya hukum sintaksis, maka menyebabkan kalimat tersebut kehilangan maknanya, sehingga tidak dapat dipahami.
    Langer mempertanyakan kemungkinan suatu jenis simbol lain yang pemahamannya tidak bergantung pada hukum yang mengatur perhubungan unsur-unsurnya, tetapi pada intuisi. Jenis simbol inilah yang disebut sebagai simbol ”presentasional”. Simbol macam ini tidak berupa suatu konstruksi yang dapat diuraikan ke dalam unsur-unsurnya, tetapi suatu kesatuan bulat dan utuh. Simbol tersebut dapat menjadi unsur dari suatu simbol ”diskursif”. Sebagi unsur, simbol presentasional tidak dapat diuraikan lagi ke bagian yang lain yang lebih kecil. Simbol presentasional tidak harus menjadi unsur saja, namun dapat berdiri sendiri sebagai suatu simbol yang penuh , bukan sebagai konstruksi, bukan pula sebagai unsur dari suatu susunan. Simbol semacam itulah yang yang terdapat dalam kreasi seni atau karya estetik.

    BalasHapus
  24. Nama : Afiliasi Ilafi
    NIM : 2611411001

    Sejarah perkembangan estetika pada periode klasik menurut PLATO

    Menurut plato seni hanya menyaikan suatu ilusi (khayalan) tentang kenyataan dan tetap jauh dari kebenaran. Dalam kenyataan setiap benda terwujud menurut berbagai bentuk tetapi setiap benda mencerminkan suatu ide asli, kenyataan yang dapat di amati dengan panca indera selalu kalah dengan dunia ide.
    Menurut plato : seorang tukang lebih dekat pada kebenarannya dari pada seorang pelukis atau penyair. Seorang tukang menjiplak kenyataan yang dapat disentuh dengan panca indera,sedangkan seorang pelukis atau penyair menjiplak suatu jiplakan membuat copy dari sebuah copy jiplakan tersebut tidak bermutu, satu-satunya yang dapat mereka capai ialah gambar-gambar yang kosong yang menggambang.
    Plato, seorang filusuf yunani hidup pada tahun 428-348 S.M
    Keindahan menurut pandangan plato dibagi menjadi dua :
    Pandangan pertama : mengingatkan kita akan seluruh filsfatnya tentang dunia idea. Ia mengemukakan pandangannya dalam wawancara symposion sebagai pendirih socrates.
    Pandangan kedua ada dalam philebus. Dinyatakan bahwa yang indah dan segala sumber keindahan adalah yang paling sederhana, yang dimaksud sederhana adalah bentuk dan ukuran yang dapat dibatasi lebih lanjut berdasarkan sesuatu yang lebih sederhana lagi. Pandangan ini memiliki keistimewaan karena tidak melepaskan diri dari pengalaman inderawi yang merupakan unsur konstituitif dari pengalaman estetis dan keindahan dalam pengertian sehari-hari. Menurut plato dunia empirik tidak mewakili kenyataan yang sungguh-sungguh hanya dapat melewatinya lewat misesis,peneladanan,pembayangan,atau peniruan(hal ini disebabkan terjemahan kata misesis tidaklah mudah) misalnya pikiran dan nalar kita meladani kenyataan, kata meniru benda dan bunyi meniru keselarasan ilahi, waktu meniru keabadian dan seterusnya. Bagi plato mimesis terikat pada ide pendekatan. Lewat mimesis tataran yang lebih tinggi hanya bisa disarankan. Mimesis atau sarana estetik tidak mungkin mengacu langsung pada nilai-nilai yang ideal, karena seni terpisah dari tataran Ada (different of being) yang sungguh-sungguh oleh derajat dunia nyata yang fenomental. Seni hanya dapat meniru dan membayangkan hal-hal yang ada dalam kenyataan yang tampak.unsur teoritis menyatakan bahwa : segala kenyataan yang ada didunia ini merupakan tiruan(mimesis) dari yang asli,yang terdapat didunia idea dan jauh lebih unggul dari pada kenyataan di dunia ini. Karya seni merupakan tiruan dari kenyataan (mimesis memeseos). Seni menurut plato memiliki dua segi sekaligus : “Art,therefore,has a double aspect : in direct relatio to the essential nature of things” (Vardenius 1949:19:maka itu seni mempunyai aspek ganda: dalam perwujudan yang tampak seni adalah benda yang sangat indah nilainya, bayangan, namun seni memiliki pula hubungan yang tak langsung dengan sifat hakiki benda-benda) seni yang terbaik lewat mimesis,peneldanan kenyataan mengungkapkan sesuatu makna hakiki kenyataan itu. Maka dari itu seni yang baik harus truthful (benar) dan seniman harus bersifat modest (rendah hati) dia harus tahu bahwa lewat seni itu dia hanya bisa mendekati yang ideal dari jauh dan serba salah. Seni menimbulkan nafsu sedangkan manusia yang berasio harus meredakan nafsunya. Teori memesis pada prinsipnya menganggap seni sebagai pencerminan, peniruan, atau pembayangan realitas. Dalam penilaiannya atas karya seni yang terdapat dalam bukunya tentang tata Negara, Plato tidak hanya berpendapat bahwa karya seni adalah tiruan yang jauh dari kebenaran sejati, tetap juga menyatakan bahwa dalam kenyataannya karya seni menjauhkan warga negara, terutama para remaja, dari tugasnya untuk membangun negara. Di sini ia terutama melawan karya sastra dan seni drama, karena yang dipentaskan dan disyairkan hampir senantiasa hal-hal yang tidak baik dan tidak benar. Misalnya, tingkah laku kasar para dewa, bohong-membohong, bunuh-membunuh, dan lain sebagainya

    BalasHapus
  25. Plato bersedia menerima keberadaan para seniman dan penyair yang ia idamkan, asal mereka menyajikan apa yang benar, baik, sopan dan adil, dan ikut mendidik rakyat. Tulisan-tulisan Plato mengenai keindahan banyak didasari pada doktrinnya mengenai “idea”. Menurut Plato segala kenyataan yang ada di dunia ini merupakan peniruan (mimesis) dari yang asli, dan yang asli menurutnya adalah yang terdapat di dunia atas saja idea bukan di dunia nyata ini dan adalah jauh lebih unggul daripada kenyataan di dunia ini. Selanjutnya Plato berpendapat bahwa seseorang seharusnya mencoba menemukan pengetahuuan dibelakang segalanya, yaitu pengetahuan tentang yang nyata dan permanen (Yunani ; episteme= pengetahuan) yang hadir sebagai pengertian tentang ‘idea’. Satu dari unsur/ciri ‘idea’ itu adalah keindahan (Yunani; to kalon), sifat permanen yang dimiliki oleh semua objek-objek yang indah. Plato menitikberatkan pada pengalaman awal dari dirinya dan muridnya (audience), dan juga pada maksud-maksud yang diakumulasikan pada kata-kata dari bahasa konvensional. Ketika memahami kata Yunani untuk indah, kalos, Plato mencatat bahwa kata ini pertama bermaksud ‘baik’ dan ‘pantas’. Sementara itu sudah seharusnya kita sadari bahwa karya tertulis Plato sendiri diakui sebagai salah satu karya sastra yang paling indah, menurut para ahli sastra dari berbagai zaman dan kebudayaan.

    Daftar Pustaka
    1. 1. Sutrisno, Mudji & Christ Verhaak. 1993. Estetika Filsafat Keindahan. Kanisius: Yogyakarta.
    2. 2. Djelantik, A.A.M. 1999. Estetika Sebuah Pengantar. Masyarakat Seni Perrtunjukan Indonesia: Bandung.
    3. 3. Teww, A. 1988. Sastra dan Ilmu Sastra Pengantar Teori Sastra. Pustaka Jaya: Jakarta.
    4. http//www.ndreh.2itb.com/contact

    BalasHapus
  26. Komentar ini telah dihapus oleh penulis.

    BalasHapus
  27. nama : wahyu dwi kismawarni
    nim : 2611411007

    A. Relativisme
    • Relativisme adalah suatu aliran atau paham yang mengajarkan bahwa kebenaran itu ada, akan tetapi kebenaran itu tidak mempunyai sifat mutlak.
    • Istilah relativisme di angkat dari kata relatif, berasal dari kata latin reffere : membawa,mengacu,menghubungkan. Dari situ timbullah kata relation yang artinya relasi: hubungan,ikatan. Relativisme : adanya ikatan,adanya keterbatasan, nisbi.
    Relativisme adalah konsep bahwa sudut pandang tidak memiliki absolute kebenaran atau validitas, hanya memiliki relative,nilai subyektif sesuai dengan perbedaan dalam persepsi dan pertimbangan. Istilah ini sering di gunakan untuk merujuk kepada konteks moral yang prinsip,dimana dalam mode relativistik pemikiran, prinsip dan etika dianggap sebagai berlaku hanya dalam konteks terbatas. Ada banyak bentuk relativisme yang bervariasi dalam derajat kontroversi. Istilah ini sering di merujuk kebenaran relativisme ,yang merupakan doktrin bahwa tidak ada kebenaran mutlak, yaitu kebenaran yang selalu relative terhadap berbagai frametertentu referensi, seperti bahasa atau budaya. Relativisme kadang-kadang diartikan sebagai sudut pandang yang sama-sama sah, berbeda dengan suatu absolutism yang berpendapat ada satu pandangan yang benar dan tepat. Bahkan, relativisme menyatakan contoh tertentu hanya ada dalam kombinasi dengan atau sebagai produk sampingan dari tertentu kerangka dan sudut pandang, dan bahwa tidak ada kerangka dan sudut pandang yang unik istimewa atas semua orang lain. Artinya non- universal misalnya suatu praktek tertentu,perilaku,kebiasaan,konvensi,konsep,keyakinan, persepsi,etika,kebenaran atau kerangka kerja konseptual.
    Salah satu relativisme menunjukkan bahwa kita sendiri biaskognitif mencegah kita dari mengamati sesuatu secara objektif dengan indra kita sendiri, dan bias notasi akan berlaku untuk apa pun yang kita dapat mengukur diduga tanpa menggunakan indera kita. Selain itu kita memiliki budaya bias berbagai dengan lainnya dipercaya pengamat yang kita tidak bisa menghilangkan. Sebuah argument ini menyatakan bahwa subjektif kepastian dan benda-benda konkret dan menyebabkan bagian bentuk kehidupan sehari-hari kita, dan bahwa tidak ada nilai besar dalam ide-ide membuang berguna seperti isomorfisme,objektivitas, dan akhir kebenaran. Beberapa relativis mengklaim bahwa manusia dapat memahami dan mengevaluasi keyakinan dan perilaku hanya dalam hal mereka sejarah dan budaya konteks.

    BalasHapus
  28. B. subjektivisme
    Subjektivisme atau yang terkadang sering juga dikenal dengan ” sebuah relativisme individual atau relativisme subjektif ” ini,adalah sebuah teori yang menyatakan bahwa setiap individu berhak menentukan kaidah moralnya sendiri. Meskipun, kaidah moral kebanyakan individu dalam masyarakat tertentu pada praktiknya terlihat sama, karena kemungkinan mereka mempunyai pengalaman cultural yang sama, yaitu yang berpendirian bahwa penilaian baik-buruk atau benar-salah tergantung pada masing-masing orang.
    Subjektivisme berpendapat bahwa tidak ada fakta-fakta “ moral “. Meskipun putusan-putusan tersebut pada mulanya terlihat benar atau salah secara objektif, yaitu benar atau salah terlepas dari apa yang diyakini atau diinginkan banyak orang.
    Subjektivisme berpendapat bahwa pilihan-pilihan individu menentukan validitas sebuah prinsip moral. Slogannya adalah “ moralitas bersemayam di mata orang yang melihatnya. Sebagai contoh, “ menghormayi orang tua “ itu baik karena orang yang menilai menyetujui demikian, atau “ mengambil hak milik orang lain “itu jahat karenaorang yang menilinya menganggap demikian, jadi baik buruk itu di tentukan oleh kecocokan orang yang menilainya, tapi tidak ada kata dasar atau rasional untuk membenarkan serta menyalahkan. Penilaian dan keputusan etis yang menentukan adalah orang lain yang membuat penilaian dan keputusan. Oleh karena itu, dapat saja penilaian etis orang tentang suatu perkara yang sama berbeda, tetapi perbedaan penilaianitu sah-sah dan baik-baik saja.
    Menurut relativisme subjektifdalam masalah etis, emosi dan perasaan berperan penting. Oleh karena itu pengaruh emosi dan perasaan dalam keputusan moral harus diperhitungkan. Yang baik dan buruk, yang benar dan salah tidak dapat dilepaskan dari orang yang bersangkutan dalam menilai.
    Perbedaan itu tidak hanya menyangkut perbedaan fisik, tetapi juga mental,moral, religious dan lain sebagainya. Menurut kaum relativisme subjektif, karena setiap individu manusia itu berbeda,maka berbeda pula dalam penilaian dan keputusan etisnya. Yang baik dan yang buruk, yang benar dan yang salah bukanlah perkara yang berdiri sendiri, melainkan berhubungan erat, bahkan tergantung padaorang yang mrnilainya.
    Kelebihan relativitas subjektif adalah kesadaran bahwa “ manusia itu unik dan berbeda satu sama lain “. Karena itu, setiap orang menanggapi liku-liku hidup dan menjatuhkan penilaian atas hidup secara berbeda pula. Dengan cara itu manusia dapat hidup sesuai dengan tuntunan situasinya. Ia dapat menetapkan apa yang baik dan yang buruk, yang benar dan yang salah menurut pertimbangan dan pemikirannya. Dengan demikian, bukan hanya individu manusia itu sendiri saja yang berbeda dan unik, tetapi juga berbeda dan unik dalam hidupnya.

    BalasHapus
  29. NAMA : ANA SHOFIANA
    NIM : 2611411020
    ROMBEL : 1 (SATU)
    PRODI : SASTRA JAWA

    SEJARAH PERKEMBANGAN ESTETIKA (PERIODE POSTMODERNISME)

    Jan Mukarovsky
    Mukarovsky lahir di Bohemia(1891-1975). Sebagai pengikut strukturalisme Praha, ia kemudian mengalami pergeseran perhatian dari struktur ke arah tanggapan pembaca. Aliran inilah yang disebut strukturalisme dinamik. Sebagai pengikut kelompok formalis, ia memandang bahwa aspek estetis dihasilkan melalui fungsi puitika bahasa, seperti deotomatisasi, membuat aneh, penyimpangan, dan pembongkaran norma-norma lainnya. Meskipun demikian, ia melangkah lebih jauh, aspek estetika melalui karya seni sebagai tanda, karya sastra sebagai fakta transindividual. Singkatnya, karya sastra harus dipahami dalam kerangka konteks sosial, aspek estetis terikat dengan entitas sosial tertentu.
    Ada tiga ciri aspek estetis, yaitu:
    1. Aspek estetis bukan sifat atau hak milik objek secara intrinsik, aspek estetis juga tidak secara keseluruhan berada di luarnya.
    2. Aspek estetis tidak secara keseluruhan berada di bawah kontrol subjek individual.
    3. Aspek estetis merupakan masalah yang menyangkut hubungan antara kolektivitas manusia dengan dunianya.
    Mukarovsky membedakan tiga macam nilai, yaitu nilai estetis aktual, nilai universal, dan nilai evolusi.
    Peran penting Mukarovsky adalah kemampuannya untuk menunjukkan dinamika antara totalitas karya dengan totalitas pembaca sebagai penanggap. Ia membawa karya sastra sebagai dunia yang otonom tetapi selalu dalam kaitannya dengan tanggapan pembaca yang Estetika sebagai usaha untuk memahami keindahan mengalami tahap-tahap
    perkembangan pemikiran. Perkembangan pemikiran estetika dapat ditinjau
    dari sisi sejarah dan mengemukakannya sesuai dengan pembagian logika. Salah satu periode dalam sejarah estetika yaitu :
    Periode Post Modernisme
    Postmodernisme bila diartikan secara harafiah kata-katanya terdiri atas ‘Post’ yang artinya masa sesudah dan ‘Modern’ yang artinya Era Modern maka dapat disimpulkan bahwa Post Modern adalah masa sesudah era Modern ( era diatas tahun 1960 an ) . Postmodernisme sendiri merupakan suatu aliran baru yang menentang segala sesuatu kesempurnaan dari Modernisme, bahkan tak jarang menentang aturan yang ada dan mencampurkan berbagai macam gaya .
    berubah-ubah. Menurutnya, sebagai struktur dinamik, karya sastra selalu baerada dalam tegangan antara penulis, pembaca, kenyataan, dan karya itu sendiri.
    Intuisi adalah istilah untuk kemampuan memahami sesuatu tanpa melalui penalaran rasional dan intelektualitas. Sepertinya pemahaman itu tiba-tiba saja datangnya dari dunia lain dan diluar kesadaran. Misalnya saja, seseorang tiba-tiba saja terdorong untuk membaca sebuah buku. Ternyata, didalam buku itu ditemukan keterangan yang dicari-carinya selama bertahun-tahun. Atau misalnya, merasa bahwa ia harus pergi ke sebuah tempat, ternyata disana ia menemukan penemuan besar yang mengubah hidupnya. Namun tidak semua intuisi berasal dari kekuatan psi. Sebagian intuisi bisa dijelaskan sebab musababnya.

    Sebuah penelitian menunjukkan bahwa orang-orang yang berada dalam jajaran puncak bisnis atau kaum eksekutif memiliki skor lebih baik dalam eksperimen uji indera keenam dibandingkan dengan orang-orang biasa. Penelitian itu sepertinya menegaskan bahwa orang-orang sukses lebih banyak menerapkan kekuatan psi dalam kehidupan keseharian mereka, halmana menunjang kesuksesan mereka. Salah satu bentuk kemampuan psi yang sering muncul adalah kemampuan intuisi. Tidak jarang, intuisi yang menentukan keputusan yang mereka ambil.

    Sampai saat ini dipercaya bahwa intuisi yang baik dan tajam adalah syarat agar seseorang dapat sukses dalam bisnis. Oleh karena itu tidak mengherankan jika banyak buku-buku mengenai kiat-kiat sukses selalu memasukkan strategi mempertajam intuisi.

    BalasHapus
  30. Nama : Arifudin
    NIM : 2611411009

    PERKEMBANGAN PEMIKIRAN ESTETIKA
    PERIODE POSITIVISME / ILMIAH
    “ Gustav Theodor Fechner “

    1.Sejarah perkembangan Periode Positivisme :

    Secara umum boleh dikatakan bahwa akar sejarah pemikiran positivisme dapat dikembalikan kepada masa Hume (1711-1776) dan Kant (1724-1804). Hume berpendapat bahwa permasalahan-permasalahan ilmiah haruslah diuji melalui percobaan. Sementara Kant adalah orang melaksanakan pendapat Hume ini dengan menyusun Critique of pure reason (Kritik terhadap pikiran murni). Selain itu Kant juga membuat batasan-batasan wilayah pengetahuan manusia dan aturan-aturan untuk menghukumi pengetahuan tersebut dengan menjadikan pengalaman sebagai porosnya.

    Pada paruh kedua abad XIX muncullah Auguste Comte (1798-1857), seorang filsuf sosial berkebangsaan Perancis, yang banyak mengikuti warisan pemikiran Hume dan Kant. Melalui tulisan dan pemikirannya, Comte bermaksud memberi peringatan kepada para ilmuwan akan perkembangan penting yang terjadi pada perjalanan ilmu ketika pemikiran manusia beralih dari fase teologis, menuju fase metafisis, dan terakhir fase positif.
    Istilah Estetika dipopulerkan oleh Alexander Gottlieb Baumgarten (1714 - 1762) melalui beberapa uraian yang berkembang menjadi ilmu tentang keindahan.(Encarta Encyclopedia 2001, 1999)
    Baumgarten menggunakan instilah estetika untuk membedakan antara pengetahuan intelektual dan pengetahuan indrawi. Dengan melihat bahwa istilah estetika baru muncul pada abad 18, maka pemahaman tentang keindahan sendiri harus dibedakan dengan pengertian estetik.

    Jika sebuah bentuk mencapai nilai yang betul, maka bentuk tersebut dapat dinilai estetis, sedangkan pada bentuk yang melebihi nilai betul, hingga mencapai nilai baik penuh arti, maka bentuk tersebut dinilai sebagai indah. Dalam pengertian tersebut, maka sesuatu yang estetis belum tentu ‘indah’ dalam arti sesungguhnya, sedangkan sesuatu yang indah pasti estetis. Terhadap hal ini, tugas tugas yang diberikan pada perkuliahan Nirmana 3 Dimensi adalah bentuk bentuk yang memiliki nilai betul, walaupun pada beberapa tugas tertentu sebagian siswa dapat mencapai nilai indah.

    BalasHapus
  31. 2.Pandangan Gustav Theodor Fehner

    Fehner adalah orang yang berjasa dalam merintis penggunaan eksperimen yang sistematis untuk membentuk estetika formil yang ilmiah. Dalam mempelajari pemikiran estetika Ia membagi menjadi:
    1.estetika atas yaitu penyelidikan estetika dari segi filsafat murni;
    2.estetika bawah atau eksperimental
    3. estetika masa sekarang
    • Estetika Atas ( Von Oben ) Pemikiran estetika atas merupakan penyelidikan estetika yang menggunakan pendekatan metafisika atau dari segi filsafat murni. Estetika atas bertitik tolak dari pengertian-pengertian/definisi-definisi yang berwujud konsep. Model pendekatan lebih bersifat komprehensif. Ciri-ciri pemikirannya antara lain adalah bahwa banyak masalah estetika/penghayatan, penilaian, ide, selera perasaan adalah merupakan hal-hal yang bersifat subjektif. Artinya, sangat sulit untuk dikaji secara induktif/ilmiah/dicari objektifikasinya. Oleh karena itu pengembangan estetika dari segi pendekatan filosofis tidak dapat ditinggalkan (Anwar, 1980:31). Orang yang besar sumbangannya kepada estetika teoritis ini adalah Paul Souriau , ahli pikir dari Perancis. Souriau menulis tentang filsafat seni yang berjudul “ Teori tentang Penemuan 1881”, “Estetika Gerak”, “Uraian tentang data-data langsung dari Kesadaran, 1889”, “Usul-usul mengenai Seni, 1893”, “Imaginasi Seniman, 1901”dan “Keindahan Rasionil, 1904” (Anwar, 1980:32). Selain Souriau, tokoh dari Rusia yang patut dipertimbangkan adalah Leo Tolstoy yang menulis buku “ What is Art ”. Ia memberikan definisi tentang proses seni sbb. “To evoke in oneself a feeling one has experienced, and having evoked it in oneself, then by means of movement, lines, colours, sounds, or forms expressed in words so to transmit that feeling that others experience the same feeling – this is activity or art” . Artinya, “Aktivitas seni ialah untuk membangkitkan dalam diri seseorang suatu perasaan yang pernah dialaminya, dan setelah perasaan itu timbul, maka dengan perantaraan gerak, garis, warna, suara, atau bentuk kata-kata, perasaan tadi disampaikan kepada orang-orang lain agar mereka mengalami perasaan yang sama” (Anwar, 1980:33). Menurut Tolstoy, seni ialah suatu aktivitas kemanusiaan yaitu seseorang secara sadar, dengan perantaraan lambang-lambang tertentu, menyampaikan perasaan yang pernah dialami, agar orang lain terpengaruh oleh perasaan-perasaan itu dan juga ikut mengalaminya. Faktor kemampuan penyampaian seniman atau pemindahan kepada orang lain merupakan hal yang sangat penting (Anwar, 1980:33). Pendapat ini di kritik oleh Herbert Read , fungsi seni tidaklah untuk memindahkan perasaan agar orang lain dapat mengalami perasaan yang sama tetapi sebenarnya untuk mengejawantahkan perasaan dan menyampaikan pengertian/makna tertentu. Read menyatakan bahwa seni itu lazimnya dihubungkan dengan corak-corak visual / plastis /menciptakan bentuk-bentuk ( formatif art ) (Anwar, 1980:33-34). Ruskin , seorang

    BalasHapus
  32. ffilsuf dari Inggris berpendapat bahwa seni adalah termasuk ibadah. Keindahan adalah tersingkapnya bisikan-bisikan Tuhan. Diperlukan intuisi mistik dan teleologis terhadap alam bahwa segala yang indah itu tentu harus juga baik, dan dapat ditafsirkan menurut jiwa agama. Akal dan indera tidak mampu menyingkapkan keindahan Tuhan namun dengan kehendak Tuhan manusia menjelajahi apa yang dikehendaki Tuhan (Anwar, 1980:34). Nietzche melalui tulisan-tulisannya yang berjudul “ Die Geburt der Tragoedie ” (Lahirnya Tragedi), “ Der Fall Wagner ”, “ Also Sprach Zarathustra ”, dan “ Unzeitgemaesse ” dapat digolongkan sebagai penulis humanis yang banyak menulis metaestetika (estetika atas/metafisik) abad 19. Estetika ditinjau dari sudut abstraknya bukan gejalanya. Schoupenhauer sebagai gurunya sangat mempengaruhi terhadap keyakinan dan pesimisme yang mendalam (pesimisme romantis). Jalan pikiran Nietzche isinya pesimisme, artinya seni itu sebetulnya banyak mengungkapkan kesan-kesan yang bersifat kesehatan, ketidakadilan, sakit dan sebagainya, sehingga seni itu semata-mata ungkapan perasaan keputusasaan seperti dalam tragedi dan sejenisnya. Ia mencoba menerangkan jiwa kepahlawanan dan inspirasi-inspirasi geni (semangat) di dalam seni dan geni dalam metafisika (Anwar, 1980:34). Selanjutnya Nietzche masuk pada periode positivisme skeptis, yaitu mengembalikan segala sesuatu kepada “kebebasan akal”. Akhirnya periode pembangunan kembali dengan menetapkan nilai-nilai yang diperlukan oleh hidup agar terus berlangsung dan mempunyai kekuatan (Anwar, 1980:35).


    Estetika Bawah ( Von Unten ) Estetika bawah mendasarkan pada eksperimental dengan perintisnya Gustav Theodore Fechner (1807-1887) dari Jerman. Ia mengusulkan nama Estetika Induktif “ von unten ” sebagai hal yang berlainan dari estetika metafisis lama “ von oben ” untuk menentukan konsepsi yang tepat mengenai hakikat keindahan yang objektif (Anwar, 1980:35). Untuk merumuskan keindahan dengan bereksperimen menemukan istilah-istilah baru seperti: tangga estetik, keseragaman dalam variasi, tidak ada kontradiksi, kejelasan, pertautan, pertentangan dan sebagainya. Fechner membuat langkah-langkah awal di bidang seni yang menyangkut bidang geometri dengan metode induksi komparasi yaitu dimulai dengan karya-karya yang kemudian dibanding-bandingkan dan dirumuskan. Misalnya, tiap bentuk segitiga dengan segala ukuran dinilai oleh para ahli bentuk mana yang paling pantas (Anwar, 1980:36). Sebenarnya tidak semua permasalahan estetika dapat diobjektifikasikan. Misalnya, mengenai masalah penghayatan dan konsep ide kekaryaan, ini tetap milik subjeknya. Ada cara untuk mencari objektifikasi yaitu dengan metode intersubjektif. Metode ini tercipta dengan adanya kondisi budaya yang sama, latar belakang adat istiadat yang sama, latar belakang keluarga yang sama, lingkungan yang kurang lebih sama, pendidikan yang sama (Anwar, 1980:36). Jalan pemikiran induktif ini dipengaruhi oleh psikoanalisa karena dapat dimengerti fungsi dari perilaku jiwa berusaha menjelaskan peranan jiwa dalam wujud perilaku. Tokoh psikoanalisa adalah Sigmund Freud. Menurutnya manusia ibarat es yang terapung di dalam air, yang sebagain tenggelam dan sebagian terapung. Bagian yang tenggelam lebih besar daripada yang terapung. Bagian yang terapung adalah jiwa yang sadar ( das ich ). Bagian yang tenggelam adalah jiwa bawah sadar ( das es ). Dapat disimpulkan bahwa manusia itu lebih besar bawah sadarnya dari pada sadarnya

    BalasHapus
  33. Apabila manusia menuruti hawa nafsu yang muncul adalah jiwa bawah sadarnya. Jiwa bawah sadar sangat besar kekuatannya karena tergantung kekuatan membendung dari jiwa sadar. Jiwa bawah sadar manusia yang menuruti hawa nafsu manusia selalu mengarah pada harta (menumpuk kekayaan), tahta (mencapai kekuasaan), wanita (nafsu sexual) Taine (1828-1893) menulis “Filsafat Seni” yang membahas estetika historis namun tidak bersifat dogmatis. Hasil-hasil seni yang besar adalah akibat dari tiga kekuatan yaitu lingkungan, zaman, dan bangsa. Analisanya mengenai lingkungan memperdalam pembahasan mengenai kritik sastra, akan tetapi estetikanya tetap belum teratur (Anwar, 1980:36). Sebuah laboratorium ilmu jiwa yang didirikan oleh Wundt di Leipzig tahun 1878 mencoba meniru ahli-ahli Fisika dalam mengumpulkan percobaan-percobaan/eksperimen untuk membentuk suatu sistem yang berdasar dalil dan hukum. Eksperimen yang terkenal adalah empat persegi “kertas karton putih” yang mempunyai bidang sama luasnya tetapi sisinya memiliki perbandingan yang berbeda-beda misalnya, dimulai dari 1 x 1 hingga 2 x 5, dan perbandingan 21 x 34 (Anwar, 1980:37). Bangun-bangun empat persegi panjang itu diletakkan di atas papan hitam tanpa diatur, dan diminta dari beberapa orang untuk memilih bangun mana yang paling digemari dan bangun mana yang paling tidak digemari. Fechner mencatat hasil pilihan itu dalam kolom-kolom sehingga membentuk suatu statistik yang menakjubkan. Hasil dari eksperimen itulah yang menghasilkan “ the golden section ” (bangun yang paling indah) , dari empat persegi panjang yang berperbandingan 21 x 34 (Anwar, 1980:37).

    Atau dapat kita ringkas dari pandangan Gustav Theodor Fechner adalah sebagai baerikut :
    1) Estetika atas (von oben)
    Estetika atas tidak akan dapat tersistematikan secara rapi tanpa mengabaikan beberapa keganjilan pikiran. Ahli pikir Perancis yang besar sumbangannya pada akhir abad ke-20 terhadap estetika teoritis adalah Paul Souriau. Tulisan-tulisan Souriau tentang filsafat seni sangat tajam, mendalam dan bermutu tinggi. Selain Souriau, ada juga Tolstoy dari Rusia, menurut Tolstoy seni merupakan suatu aktivitas kemanusiaan yang berproses secara sadar, seseorang dengan perantaraan lambing-lambang atau simbol-simbol tertentu, menyampaikan perasaan-perasaan yang pernah dialaminya (baik langsung mapun tidak langsung), agar orang lain terpengaruh oleh perasaan-perasaan itu, kemudian timbulimpati dan simpati.

    2) Estetika bawah (von unten)

    Gustav Theodor Fechner (1807 – 1887) dari Jerman, orang pertama yang mengusulkan nama estetika induktif (von unten) sebagai alternatif lain dari estetika metatisis lama (von oben) untuk menentukan konsepsi yang tepat mengenai hakikat dari keindahan yang objektif. Kebaikan menurut Fechner adalah orang pria yang rajin mengatur segala di rumahnya. Sedang kecantikan adalah istrinya yang selalu segar, sedap dipandang mata. Ketenangan ialah bayi sehat yang penuh aktivitas bermain dan lucu. Kegunaan adalah pelayan yang setia mengabdi pada tuannya. Kebenaran ialah

    BalasHapus
  34. 3) Estetika dari bawah ke atas (von unten nach oben)

    Estetika dari atas ke atas inilah yang diharapkan dari masa depan estetika. Aliran estetika dari bawah ke atas berupaya memadukan antara tuntutan-tuntutan pemikiran yang filosofis dengan keharusan metode penyelidikan secara positif dan terdapat dalam psikologi sosiologi, sehingga nanti muncullah “psikoestetik” dan “sosioestetik”. Estetika dari bawah ke atas memadukan antara tuntutan pemikiran filosofis dan keharusan metode penyelidikan secara positif yang terdapat dalam jiwa dan ilmu-ilmu masyarakat.







    MAKNA KEINDAHAN

    Makna keindahan menurut Fechner dari berbagai eksperimennya adalah sebagai berikut : (hasilnya masih spekulatif)

    1. Dalam arti luas, bahwa seni adalah segala yang menyenangkan secara umum.

    2. Arti lebih sempit, bahwa keindahan memberikan kesenangan yang lebih tinggi, tapi masih bersifat inderawi.

    3. Arti paling sempit, bahwa keindahan sejati tidak hanya menyenangkan, tetapi juga kesenangan yang sesungguhnya, yakni memiliki nilai – nilai dalam kesenangan tersebut yang didalamnya terkait konsep keindahan dan konsep moral, kebaikan.



    GAGASAN APOLLONIAN DAN DIONSYIAN

    Istilah apollonian dan dionsyian seperti kita ketahui dipopulerkan oleh Nitzche dalam karyanya “ The Birth of Tragedy “ lahirnya tragedi. Karya tersebut merupakan bentuk pemaparan atas dua mentalitas estetika yunani kuno diatas yang saling berlawanan. Dalam bukunya tercuplik beberapa bait yang mengisyaratkan karakter apollonian dan dionysian. Baginya apollonian “ berkuasa atas ilusi indah dunia fantasi batiniah . Musik apollo adalah arsitektur dorik yang diubah menjadi bunyi-bunyian tetapi hanya menjadi bunyi-bunyian sugestif seperti bunyi-bunyi citahara “.” Mencari moral yang tinggi bahkan kesucian , kerohanian surgawi, kemurahan hati dan belas kasih ...” dan “ yang terburuk dari semuanya adalah mati segera, hal terburuk kedua adalah mati sama sekali”. Sebaliknya dionysian dicirikan dengan “...kehidupan bersemangat bergerombolan dionysus yang bersukaria”.”kekuatan bunyi yang sangat besar , arus emlodi yang dipersatukan dan dunia harmoni yang benar-benar tidak ada bandinganya dan tidak dilahirkan tidak mengada ,menjadi tiada. Tetapi hal kedua yang terbaik bagimu adalah mati segera”.
    Dionysus dalam literatur yunani kuno merupakan dewa anggur dan kemabukan, pada dirinya terdapat filosofi “ ketin ggalan primodilisme”dimana segala jenis perbedaan semisal pria dan wanita menjadi kabur, dengan demikian mentalitas ini, mentalitas dionsyan cenderung melampaui segala batas norma dan aturan, mentalitas ini bebas mengikuti kehendak dan doronganya. Disisi lain apollo putra jupiter adalah putera matahari dan ilmu kedokteran . ia merupakan lambang pencerahan dan pengendalian diri atas dionysian .mentalitas apollonian dengan begitu condong pada keseimbangan tertib, cinta pada suatu bentuk serta pengendalian diri.secara sederhana, kita dapat mengklasifikasikan prinsip apollonian dengan karakter berfikir harafiah, rasional, dan teratur. Sedangkan prinsip dionysian berkaitan dengan kelahiran , kehewanan dan istabilitas.

    BalasHapus
  35. Kusuma Ayu Purwati
    2611411003

    Gagasan yang dapat dikembangkan dalam periode klasik menurut Aristoteles :
    APRIORI
    Menurut kant pikiran kita sebagai subyek memang tidak menciptakan objek pada dirinya, tetapi objek sebgaimana kita ketahui, distrukturkan secara apriori oleh pikian kita. Semua unsur formal atau struktural dalam objek yang diketahui, datang dari struktur pikiran. Sedangkan semua unsur material merupakan sesuatu yang pada dirinya tak dapat diketahui. Unsur-unsur formal yang secara apriori berasal dari struktur pikiran, merupakan suatu syarat yang bersifat niscaya bagi dimungkinkannya pengalaman kognitif. Dengan demikian, struktur apriori itu sendiri tidak pernah dialami syarat-syarat bagi dimungkinkannya konsep yang dapat diprediksikan pada benda atau objek fisik. Dalam arti ini kategori kant mirip dengan kategori yang dirumuskan Aristoteles. Bedanya adalah bahwa 10 kategori yang dirumuskan Aristoteles adalah klasifikasi jenis predikat. Kant menghadapi masalah bagaimana konsep itu terbentuk dan diterapkan pada objek pemikiran. Ia tidak mempunyai teori abstraksi sebagaimana Aristoteles. Penting bagi penjelasan kant tentang syarat-syarat apriori bagi dimungkinkannya pengetahuan manusia adalah skematisasi kategori. Kant berfikir bahwa harus ada sesuatu yang menghubungkan antara intuisi indrawi dan pengertian. Ketika kita membuat putusan, misalnya dalam bentuk S adalah P, subjeknya adalah sesuatu yang partikular yang secara indrawi diintuisikan dibawah bentuk apriori ruang dan waktu, sementara predikatnya adalah suatu konsep umum yang mengungkapkan pengertian kita tentang apa yang diintuisikan, dan konsep itu dimungkinkan oleh adanya kategori yang bersifat apriori. Agar supaya kategori itu menghasilakan konsep yang dapat diterapkan pada objek spasio-temporal, maka konsep itu entah bagaimana haruslah terhubung dengan ruang dan waktu. Hubungaan ini disebut skematisasi dan menurut kant terjadi berkat imajinasi. Apa persis ini artinya dan apakah secara internal pengertian ini koheren denagn pemikiran kant yang lain, merupakan butir perdebatan yang belum selesai diantara para sarjana pengkajian pemikiran kant. Untungnya kita tidak perlu terjebak dalam perdebatan tersebut. Butir gagasan yang penting untuk kita ingat, kerena kant tidak dapat mengabstraksikan konsep dari objek-objek fisik padahal perlu mengatribusikan ciri-ciri umum pada objek-objek tersebut dalam memikirkan mereka, ia harus menemukan suatu jalan bagaimana membawa ciri-ciri umum itu kedalam ruang dan waktu. Dalam arti tertentu Kant menghadapi maalah sebaliknya dari apa yang dihadapi Aristoteles. Kalau Aristoteles harus menemukan jalan bagaimana akal budi melepaskan kondisi-kondisi material dari konsep-konsep, Kant harus menemukan jalan bagaimana menghubungkan konsep-konsep dengan kondisi-kondisi material.

    BalasHapus
  36. memahami peristiwa berikutnya dalam cerita, seperti tokoh cerita, masalah, tempat dan
    waktu, dan sebagainya.
    MIMESIS
    Menurut Aristoteles, seni melukiskan kenyataan,penampakan kenyataan dan ide-ide tidak lepas dari yang satu dengan yang lainnya.Dalam setiap objek yang diamati didalam kenyataan terkandung idenya dan tidak dapat dilepaskan dari objeknya.
    Bagi Aristoteles, mimesis tidak semata-mata menjiplak kenyataan,melainkan merupakan sabuah proses kreatif penyair,sambil bertitik pangkal pada kenyataan,menciptakan sesuatu yang baru.Dengan bermimesis,penyair menciptakan kembali kenyataan.
    Aristoteles menilai sastra lebih tinggi dari pada penulisan sejarah. Dalam sejarah ditampilkan sebuah peristiwa yang hanya satu kali terjadi,sebuah fakta,tetapi dalam sastra lewat sebuah peristiwa konkret dibeberkan suatu pemandangan yang umum dan luas.
    Berbagai teori mimesis itu mempunyai satu unsur yang sama,perhatian diarahkan kepada hubungan antara gambar dan apa yang diganbarkan,tolok ukur estetik pertama ialah sejauh mana gambar itu sesuai dengan kenyataan. Apakah kenyataan itu merupakan dunia ide, dunia universal atau dunia yang khas,itu tidak begitu penting. maka Aristoteles berpendapat bahwa keindahan objek dicapai melalui keserasian bentuk yang setinggi-tingginya. Menurut Aristoteles,karya seni dinilai lebih indah dibandingkan dengan alam, meskipun dapat pula alam lebih tinggi daripada karya seni. Mimesis atau peniruan alam dipandang Aristoteles sebagai tragedi. Menurutnya, ciri seni bukanlah semata meniru akan tetapi lebih kepada membedah alam dan mengupas esensinya. Oleh sebab itu, menurut Aristoteles bahwa karya seni dibuat untuk memperbaiki sesuatu yang buruk. Tidak hanya sebagai "imitasi" alam belaka.Keindahan pada karya seni itu dapat diperoleh melalui simbol-simbol keindahan yang dijumpai pada berbagai benda dan karya sastra yang indah maupun bangunan yang mempesona.
    KHATARSIS
    Aristoteles mempertimbangkan kesenian puisi menjadi tiga jenis: tragedi, komedi dan epos. Tragedi menceritakan kehidupan kaum bangsawan. Komedi menceritakan tentang kehidupan orang jelata. Epos menceritakan tentang dewa-dewa.
    Dalam seni puisi yang dinikmati keindahannya oleh manusia, Aristoteles menerangkan bahwa ada tiga unsur yang terlibat :
    a.Obyek kesenian yaitu sasaran atau tujuan dan permasalahan yang ditampilkan kepada pendengar dan penonton.
    b.Media kesenian merupakan alat penghubung yang digunakan seniman untuk menciptakan hubungan dengan sang penonton atau pendengar, seperti suaranya, bahasanya, mimiknya, nada, ritme, irama.
    c.Penampilan kesenian yaitu cara menyampaikan puisi tsb, misalnya: menceritakan saja (naratif), secara sajak (deklamasi), percakapan (dialog).

    BalasHapus
  37. Aristoteles menegaskan bahwa tujuan dari semua kesenian adalah baik: sambil menikmati keindahan seni yang disajikan, penonton membayangkan apa yang bisa terjadi pada dirinya sendiri. Dengan ikut merasakannya, mereka mengalami pembebasan. Pembebasan dari kesulitan dan ketegangan jiwa yang sedang menekan manusia dinamakan Katharsis. Biasa juga diartikan sebagai puncak dan tujuan karya seni drama dalam bentuk tragedi Disamping menikmati keindahan dalam menyaksikan kesenian, manusia mengalami katarsis itu sebagai pembersih jiwa dirinya, yang mempunyai efek pengobatan rohaniah.
    Selama 2000 tahun lebih pandangan Aristoteles tentang Katharsis sangat mempengaruhi filsafat tentang karya seni, bahkan teori drama. Katharsis diharapakan terjadi dalam diri penonton kemudian dibawanya pulang sebagai pemahaman yang lebih mendalam tentang manusia, sebagai pembebasan batin juga dari segala pengalaman penderitaan.
    ALUR DRAMATIK
    Dalam cerita konvensional, struktur dramatik yang dipergunakan adalah struktur dramatik Aristoteles. Bagian-bagian dari struktur tersebut adalah: (Sumardjo dan Saini, 1986: 142-143)
    Eksposisi
    Eksposisi adalah bagian awal atau pembukaan dari suatu karya sastra drama. Bagian ini memberikan penjelasan atau keterangan mengenai berbagai hal yang diperlukan untuk dapat memahami peristiwa berikutnya dalam cerita, seperti tokoh cerita, masalah, tempat dan waktu, dan sebagainya.
    Komplikasi
    Bagian ini sering disebut juga penggawatan. Komplikasi merupakan lanjutan dari eksposisi dan peningkatan daripadanya. Dalam bagian ini salah seorang tokoh cerita mulai mengambil prakarsa untuk mencapai tujuan tertentu. Akan tetapi hasil dari prakarsa itu tidak pasti sehingga timbullah kegawatan.

    Klimaks
    Komplikasi kemudian disusul klimaks. Dalam bagian ini pihak-pihak yang berlawanan, berhadapan untuk melakukan perhitungan terakhir yang menentukan nasib tokoh dalam cerita.
    Resolusi
    Dalam resolusi semua masalah yang ditimbulkan oleh prakarsa tokoh terpecahkan.
    Konklusi
    Dalam bagian ini nasib tokoh cerita sudah pasti. Konklusi merupakan akhir cerita.

    BalasHapus
  38. Nama :Ika Setiyawati
    NIM :2611411006
    Prodi :Sastra Jawa

    Perkembangan Estetika
    Pada Periode Kritik Menurut Friedrick Heger
    "Gagasan Relativisme dan Subjektivisme"

    A.Relativisme
    • Relativisme adalah suatu aliran atau paham yang mengajarkan bahwa kebenaran itu ada, akan tetapi kebenaran itu tidak mempunyai sifat mutlak.

    • Istilah relativisme diangkat dari kata relatif, berasal dari kata latin reffere: membawa, mengacu, menghubungkan . dari situ timbullah kata relatio yang artinya relasi: hubungan, ikatan. Relativisme: adanya ikatan, adanya keterbatasa, nisbi.

    B.Subjektivisme
    Aliran yang membatasi pengetahuan pada hal-hal (onjek) yang dapat diketahui dan dirasa. kecenderungan dan kedudukan kemampuan pada realitas eksternal sebagai sesuatu yang bisa ditinjau dari pemikiran yang subjektif.

    Sejarah Filsafat Barat :
    Sejarah filsafat barat bisa dibagi menurut pembagian berikut : filsafat klasik, abad pertengahan, modern, dan kontemporer..

    Konsep filsafat hukum juga berkaitan dengan person.
    Menurut Friedrick Heger, dalam uraian awalnya pada konsep roh subjektif menerangkan momen terakhir dari roh subjektif adalah kehendak bebas agar berada dalam kebebasan objetifnya, kehendak mesti mengambil bentuk sukesifnya.

    Dia memberikan makna tersendiri bagi moralitas, yang dengan itu berarti mengisi kekurangan yang ada pada Aristoteles; soal transendensi, dan kekurangan yang ada pada Kant, soal realitas norma yang ada dalam masyarakat

    BalasHapus
  39. Dwi Haryadi 2611411024

    Perkembangan Estetika Periode Postmodernisme
    Secara etimologis semiotik berasal dari kata Yunani semeion yang berarti penafsir tanda atau tanda dimana sesuatu dikenal. Semiotika ialah ilmu tentang tanda atau studi tentang bagaimana sistem penandaan berfungsi. Semiotika ialah cabang ilmu dari filsafat yang mempelajari “tanda” dan biasa disebut filsafat penanda. Semiotika adalah teori dan analisis berbagai tanda dan pemaknaan.Semiotik atau semiologi merupakan terminologi yang merujuk pada ilmu yang sama. Istilah semiologi lebih banyak digunakan di Eropa sedangkan semiotik lazim dipakai oleh ilmuwan Amerika. Istilah yang berasal dari kata Yunani semeion yang berarti ‘tanda’ atau ‘sign’ dalam bahasa Inggris itu adalah ilmu yang mempelajari sistem tanda seperti: bahasa, kode, sinyal, dan sebagainya. Secara umum, semiotik didefinisikan sebagai berikut.

    Semiotika biasanya didefinisikan sebagai teori filsafat umum yang berhubungan dengan produksi tanda-tanda dan simbol-simbol sebagai bagian dari sistem kode yang digunakan untuk mengkomunikasikan informasi. Semiotika meliputi tanda-tanda taktil dan penciuman visual dan verbal serta (semua tanda atau sinyal yang dapat diakses dan dapat dirasakan oleh semua indera kita) sebagai mereka membentuk sistem kode yang secara sistematis menyampaikan informasi atau pijat di sastra setiap bidang perilaku manusia dan perusahaan .

    Semiotik biasanya didefinisikan sebagai teori filsafat umum yang berkenaan dengan produksi tanda-tanda dan simbol-simbol sebagai bagian dari sistem kode yang digunakan untuk mengomunikasikan informasi. Semiotik meliputi tanda-tanda visual dan verbal serta tactile dan olfactory.semua tanda atau sinyal yang bisa diakses dan bisa diterima oleh seluruh indera yang kita miliki. ketika tanda-tanda tersebut membentuk sistem kode yang secara sistematis menyampaikan informasi atau pesan secara tertulis di setiap kegiatan dan perilaku manusia.
    Komunikasi melibatkan tanda dan kode. Tanda adalah material atau tindakan yang menunjuk pada ‘sesuatu’, sementara kode adalah sistem di mana tanda-tanda diorganisasikan dan menentukan bagaimana tanda dihubungkan dengan yang lain. Pemahaman tentang komunikasi diadopsi dari definisi yang dikemukakan oleh John Fiske, yakni komunikasi sebagai “interaksi sosial melalui pesan”.
    Definisi komunikasi yang menyatakan bahwa ‘komunikasi adalah proses pengiriman dan penerimaan pesan.’ Aliran ini memberi perhatian utama pada bagaimana sender mentransmisikan pesan kepada receiver melalui channel. Efisiensi dan akurasi seringkali mendapat perhatian penting, sehingga ketika efektivitas komunikasi dinilai kurang atau gagal maka pemeriksaan akan segera dilakukan pada elemen-elemen proses itu untuk menemukan letak kegagalan dan kemudian memperbaikinya.
    Aliran proses memperlihatkan penguasaan makna pada sumber atau pengirim pesan, aliran semiotik justru membalik peran penguasaan makna kepada penerima pesan. Penerima pesan mempunyai otoritas mutlak untuk menentukan makna-makna yang ia terima dari pesan, peran sender cenderung terabaikan.

    BalasHapus
  40. Pesan (message) pada paradigma ini seringkali disebut sebagai teks. Seluruh pesan media dalam bentuk tulisan, visual, audio, bahkan audiovisual sekalipun akan dianggap sebagai teks. Jangkauan pemaknaan akan sangat tergantung pada pengalaman budaya dari receiver, yang dalam paradigma semiotik disebut sebagai ‘pembaca’ (reader). Tradisi semiotika tidak pernah menganggap terdapatnya kegagalan pemaknaan, karena setiap ‘pembaca’ mempunyai pengalaman budaya yang relatif berbeda, sehingga pemaknaan diserahkan kepada pembaca.
    Pusat perhatian semiotika pada kajian komunikasi adalah menggali apa yang tersembunyi di balik bahasa. semiotika sebagai “ilmu yang mengkaji tentang tanda sebagai bagian dari kehidupan sosial”. Pengaturan makna atas sebuah tanda dimungkinkan oleh adanya konvensi sosial di kalangan komunitas bahasa. Suatu kata mempunyai makna tertentu karena adanya kesepakatan bersama dalam komunitas bahasa.
    Teks dan konteks menjadi dua kata yang tak terpisahkan, keduanya berkelindan membentuk makna. Konteks menjadi penting dalam interpretasi, yang keberadaannnya dapat dipilah menjadi dua, yakni intratekstualitas dan intertekstulaitas. Intratekstualitas menunjuk pada tanda-tanda lain dalam teks, sehingga produki makna bergantung pada bagaimana hubungan antartanda dalam sebuah teks.intertekstualitas menunjuk pada hubungan antarteks alias teks yang satu dengan teks yang lain.

    BalasHapus
  41. FITRI FEBRIYANTI
    2611411023

    GAGASAN LOTMAN
    PERIODE POSTMODERNISME

    A. TEORI EKSPRESI & INTUISI
    Teori ekspresi adalah pendapat yang dikemukakan sebagai suatu keterangan mengenai sesuatu peristiwa yang bersifat menyatakan atau menjelaskan, misalnya suara, senyum, pandangan, isyarat, harapan dan kekecewaan. Sedangkan Intuisi adalah bisikan hati, gerak hati, daya batin untuk mengerti atau mengetahui sesuatu tidak dengan berpikir atau belajar.

    B. ANIMAL SYMBOLICUM (simbol-simbol pada binatang)
    Merupakan segala sesuatu yang melambangkan adanya suatu tanda/lambang pada binatang yang terbentuk atas dasar konvensi sebagai identitas diri.

    C. SEMIOTIKA
    Tokoh semiotik Rusia J.U.M. Lotman mengungkapkan bahwa … culture is constructed as a hierarchy of semantic systems (Lotman, 1971:61).
    Pernyataan itu tidaklah berlebihan karena hirarki sistem semiotik atau sistem tanda meliputi unsur (1) sosial budaya, baik dalam konteks sosial maupun situasional, (2) manusia sebagai subjek yang berkreasi, (3) lambang sebagai dunia simbolik yang menyertai proses dan mewujudkan kebudayaan, (4) dunia pragmatik atau pemakaian, (5) wilayah makna. Orientasi kebudayaan manusia sebagai anggota suatu masyarakat bahasa salah satunya tercermin dalam sistem kebahasaan maupun sistem kode yang digunakannya.
    Adanya kesadaran bersama terhadap sistem kebahasaan, sistem kode dan pemakaiannya, lebih lanjut juga menjadi dasar dalam komunikasi antar-anggota masyarakat bahasa itu sendiri. Dalam kegiatan komunikasinya, misalnya antara penutur dan pendengar, sadar atau tidak, pastilah dilakukan identifikasi. Identifikasi tersebut dalam hal ini tidak terbatas pada tanda kebahasaan, tetapi juga terhadap tanda berupa bunyi prosodi, kinesik, maupun konteks komunikasi itu sendiri. Dengan adanya identifikasi tersebut komunikasi itu pun menjadi sesuatu yang bermakna baik bagi penutur maupun bagi penanggapnya.

    BalasHapus
  42. FARAH NUR AFINI
    NIM.2611411018
    LANJUTAN
    Postmodernisme tidak hanya berada di bidang arsitektur tetapi meliputi segala bidang kehidupan seperti sosial, politik, dan budaya. Postmodernisme muncul karena budaya modern menghadapi suatu kegagalan dalam strategi visualisasinya. Kegagalan modernisasi bukan terletak pada tekstualitasnya tetapi pada strategi visualisasinya yang seragam dan membosankan. Jika sebelumnya budaya ‘barat’ didominasi oleh budaya verbal maka kini budaya visual menggantikannya. Program aplikasi komputer yang sebelumnya banyak menggunakan bahasa verbal dan sulit dihafal, kini bahasa gambar atau ikon banyak digunakan sebagai pengganti bahasa tersebut dan ternyata mudah dipahami. Kelemahan dalam postmodernisme ialah mencampurkan gramatika dan tata bahasa visual yang tidak proporsional, contoh yang paling kentara adalah suguhan acara media tayang televisi yang menawarkan berbagai hal tanpa mencermati subjek, hierarki sosial ataupun budaya masyarakat, terlihat pada tayangan iklan rokok dilihat oleh anak-anak ataupun peristiwa serius dapat menjadi dagelan konyol ketoprak humor.
    Charles Sanders Peirce (ejaan Inggris: [ˈpɜrs] purse[1]) (September 10, 1839 – April 19, 1914) adalah seorang filsuf, ahli logika, semiotika, matematika, dan ilmuwan Amerika Serikat, yang lahir di Cambridge, Massachusetts. Ia dikenal sebagai perintis ilmu semiotika (tanda) yang dalam bahasa Yunani disebut “semeion”.
    Peirce dididik sebagai seorang kimiawan dan bekerja sebagai ilmuwan selama 30 tahun. Tapi, sebagian besar sumbangan pemikirannya berada di ranah logika, matematika, filsafat, dan semiotika (atau semiologi) dan penemuannya soal pragmatisme yang dihormati hingga kini.
    Peirce melangkah lebih jauh daripada Saussure dengan latar belakang sebagai ahli filsafat, ia dapat melihat dunia di luar struktur sebagai struktur bermakna. Berbeda dengan Saussure dengan konsep diadik, Peirce menawarkan konsep triadik sehingga terjadi jeda antara oposisi biner. Pierce jugalah yang mengembangkan teori umum tanda-tanda, sebaliknya Saussure lebih banyak terlibat dalam teori linguistik umum.
    Pada dasarnya Peirce tidak banyak mempermasalahkan estetika dalam tulisan-tulisannya. Akan tetapi teori-teorinya mengenai semiotika/tanda menjadi dasar pembicaran estetika generasi berikutnya. Menurutnya makna semiotika/tanda yang sesungguhnya adalah mengemukakan sesuatu. Tanda harus diinterpretasikan agar dari tanda yang orisinil berkembang tanda-tanda yang baru. Tanda selalu terikat dengan sistem budaya, tanda-tanda tidak bersifat konvensional, dipahami menurut perjanjian, tidak ada tanda yang bebas konteks. Tanda/semiotika selalu bersifat plural, tanda-tanda hanya berfungsi kaitannya denga tanda lain. Tanda merah dalam lampu lalu lintas, selain dinyatakan melalui warna merah, juga ditempatkan pada posisi yang paling tinggi, dua tampil secara bersamaan sebagai denotatum dan interpretant. Dalam pengertian Peirce, fungsi referensial didefinisikan melalui triadik ikon, indeks, dan simbol. Tetapi interpretasi holistik juga harus mempertimbangkan tanda sebagai perwujudan gejala umum, sebagai representamen (qualisign, sinsign, dan legisign) dan tanda-tanda baru yang terbentuk dalam batin penerima, sebagai interpretant (rheme, dicent, dan argument). Tetapi Peirce membedakan ada tiga jenis tanda, diantaranya :
    1. Ikon
    Ikon merupakan tanda yang menyerupai obyek/benda yang diwakilinya atau tanda yang menggunakan kesamaan ciri-ciri dengan yang dimaksudkan.
    2. Indeks
    Adalah tanda yang sifatnya tergantung pada keberadaan suatu denotatum atau penanda.
    3. Simbol/Lambang
    Adalah tanda dimana hubungan antara tandadengan denotatum atau penanda ditentukan oleh suatu peraturan yang berlaku umum atau kesepakatan bersama (konvensi).

    BalasHapus
  43. Nama : Dany kristian agustinus
    NIM :2611411021



    TEORI EKSPRESI DAN INTUISI
    Periode post modern Hans Robert Jauss

    Teori ekspresi adalah pendapat yang dikemukakan sebagai suatu keterangan mengenai sesuatu peristiwa yang bersifat menyatakan atau menjelaskan, misalnya suara, senyum, pandangan, isyarat, harapan dan kekecewaan. Sedangkan Intuisi adalah bisikan hati, gerak hati, daya batin untuk mengerti atau mengetahui sesuatu tidak dengan berpikir atau belajarEkspresi dan intuisi.(Hans Robert Jauss)
    Hans Robert Jauss (horison harapan).Jauss menitikberatkan perhatiannya kepada bagaimana karya sastra diterima pada suatu masa tertentu berdasarkan horison penerimaan tertentu atau berdasarkan horison yang diharapkan. Karya sastra dapat hidup jika pembaca berpartisipasi dan dengan partisipasi pembaca itu, konteks sejarah terciptanya karya sastra bukan merupakan sesuatu yang faktual, tetapi hanya merupakan rangkaian peristiwa yang berdiri sendiri yang ujudnya terpisah dari embaca. Karya yang telah dipahami pembaca menjadi modal bagi resepsi. Proses resepsi menjadi perluasan semiotik yang timbul dalam
    pengembangan dan perbaikan suatu sistem. Horison penerimaan mungkin
    berubah (bahkan berkali-kali).
    Selanjutnya Jauss menyatakan bahwa pendekatannya bersifat parsial, tidak menyeluruh karena hanya melakukan hubungan hari ini dengan "virtue" sejarah. Resepsi hanya berklaitan dengan saat karya itu dibaca sehingga terdapat konvergensi antara teks dan resepsi yang berupa dialog antara subjek hari ini dengan subjek masa lampau. Tradisi berperan penting dalam hal ini. Tradisi yang dimaksud adalah wawasan yang mendasari resepsi yang dilakukan pada saat tertentu.Jika resepsi Jauss mementingkan sejarah pada suatu saat tertentu, maka Resepsi Iser bertitik tolak pada kesan(sebenarnya pada tahap akhir teori Jauss juga disebut-sebut tentang kesan). Iser mempermasalahkan konkretisasi karya sastra, yakni reaksi pembaca terhadap teks yang diresepsi. Dalam resepsi Iser, terdapat dinamika pembaca. Ia akan memilih satu di antara berbagai kemungkinan realisasi, sehingga tugas kritikus dalam pandangan Iser bukan menerangkan teks sebagai objek, tetapi menerapkan efeknya kepada pembaca. Kodrat teks itulah yang mengizinkan beraneka ragam kemungkinan pembacaan, sehingga lahir pembaca implisit(pembaca yang diciptakan sendiri oleh teks dirinya dan menjadi jaringan kerja struktur yang mengundang jawaban, yang mempengaruhi kita untuk membaca dalam cara tertentu) dan pembaca nyata (yang menerima citra mental tertentu dalam proses pembacaan yang diwarnai oleh persediaan pengalaman yang ada). Dalam resepsi Iser, ada hubungan teks dan pembaca. Hubungan itu melalui tiga langkah, yakni 1. sketsa tentang suatu teks yang membedakan dengan teks-teks sebelumnya; 2. pengenalan dan analisis terhadap kesan dasar teks; dan 3. mencari kemungkinan yang ada tentang makna karya satra. Karya sastra selanjutnya memberi kesan kepada pembaca, sehingga teori Resepsi sastra Jauss dan Iser tampaknya mendapat pengaruh Hermeunetika dari Schleiermacher dan Gadamer.
    Jika Jauss dan Iser berperan dalam resepsi sastra yang memberi kesan kepada pembaca, Edmund Husserl, seorang ahli filsafat modern terkenal dengan teori Fenomenologi-nya dalam kaitan antara karya sastra dengan pembacanya. Teori fenomenologi menuntut untuk menunjukkan kepada kita alam yang mengarisbawahi, baik kesadaran manusia maupun kesadaran fenomena.Teori ini adalah usaha untuk menghidupkan ide(setelah zaman Romantik) bahwa pikiran manusia individual adalah pusat dan asal semua arti. Teori ini tidak mendorong keterlibatan subjektif secara murni untuk struktur mental kritikus karena menggunakan berbagai lapis norma karya, tetapi tipe kritik sastra yang mencoba masuk ke dalam dunia karya seorang penulis dan sampai pada suatu pengertian tentang alam dasar atau intisari tulisan sebagaimanatampak dalam kesadaran kritikus.

    BalasHapus
  44. ANIMAL SYMBOLICUM (simbol-simbol pada binatang)
    merupakan segala sesuatu yang melambangkan adanya suatu tanda/lambang pada binatang yang terbentuk atas dasar konvensi sebagai identitas diri.
    (dari kata Yunani: semeion yang berarti tanda) adalah ilmu yang meneliti tanda-tanda, sistem-sistem tanda, dan proses suatu tanda diartikan (Hartoko, 1986: 131). Dengan kata lain, ilmu yang mempelajari berbagai objek, peristiwa, atau seluruh kebudayaan sebagai tanda (Eco, 1979: 6). Tanda itu sendiri diartikan sebagai sesuatu yang bersifat representatif, mewakili sesuatu yang lain berdasarkan konvesi tertentu. Konvensi yang memungkinkan suatu objek, peristiwa, atau gejala kebudayaan menjadi tanda itu disebut juga tanda sosial. (Yosep Yapi Yaum, 1997: 40)

    Meskipun kajian mengenai tanda dilakukan sepanjang abad, tetapi pengkajian secara benar-benar ilmiah baru dilakukan awalabad ke-20, yang dilakukan oleh dua orang ahli yang hidup pada zaman yang sama, dengan konsep dan paradigma yang hampir sama, tetapisama sekali tidak saling mengenal. Kedua sarjana tersebut adalah Ferdinand de Saussure (1857-1913) dan Charles Sanders Pierce (1839-1914). Saussure adalah ahli bahasa, sedangkan Pierce adalah ahli filsafat dan logika, tetapi disamping itu ia juga menekuni bidang ilmu kealaman, psikologi,astronomi, dan agama. Saussure menggunakan istilah semiologi (sebagai mzhab Eropah Kontinental), sedangkan Pierce menggunakan istilah semiotika (sebagai mazhab Amerika, mazhab Anglo Sakson). Dalam perkembangan berikut, istilah semiotikalah yang lebih popular.

    SEMIOTIKA
    Semiotika tidak hanya diterapkan dalam karya seni, tetapi dalam semua bidang kehidupan praktis sehari-hari, juga dalam mode show atau reklame, seperti tata busana, tata hidangan, perabot rumah tangga, asesori, seperti model, dan sebagainya.(Nyoman Kutha Ratna, 2007: 97-101)
    Semiotikus kontemporer yang cukup berwibawa adalah Umberto Eco, lahir di Italia tahun 1932. pada dasarnya Eco menjadi terkenal melalui dua novelnya yang mempermasalahkan masa lampau yang berjudul The Name of The Rose dan Foucault Pendulum. Menurut Eco (1979:7) semiotika berhubungan dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan tanda. Sebuah tanda adalah segala sesuatu yang secara signifikan dapat menggantikan sesuatu yang lain. Sesuatu yang lain tidak harus eksis atau hadir secara aktual. Jadi, semiotika adalah ilmu yang mempelajari segala sesuatu yang dapat digunakan untuk berbohong. Batu, sebagai semata-mata batubukanlah tanda, melainkan benda, material, tetapi apabila batu tersebut dimanfaatkan untuk mewakili sesuatu yang lain, misalnya, sebagai jimat, maka batu tersebut sudah berubah menjadi tanda.
    Dengan adanya tanda-tanda sebagai ciri khas yang meliputi seluruh kehidupan manusia, dari komunikasi yang paling alamiah hingga sistem budaya yang paling kompleks, maka bidang penerapan semiotika pada dasarnya tidak terbatas. Eco menyebutkan beberapa bidang penerapan yang dianggap relevan, di antaranya:
    semiotika hewan, masyarakat nonhuman,
    semiotika penciuman,
    semiotika komunikasi dengan perasa,
    semiotika pencicipan, dalam masakan,
    semiotika paralinguistik, suprasegmental,
    semiotika medis, termasuk psikiatri,
    semiotika kinesik, gerakan,
    semiotika musik,
    semitika bahasa formal: morse, aljabar,
    semiotika bahasa tertulis: alfabet kuno,
    semiotika bahasa alamiah,
    semiotika komunikasi visual,
    semiotika benda-benda,
    semiotika struktur cerita,
    semiotika kode-kode budaya,
    semiotika estetika dan pesan,
    semiotika komunikasi massa,
    semiotika teks.

    BalasHapus
  45. Kusuma Ayu Purwati 2611411003
    Gagasan yang dapat dikembangkan dalam periode klasik menurut Aristoteles :
    APRIORI
    Menurut kant pikiran kita sebagai subyek memang tidak menciptakan objek pada dirinya, tetapi objek sebgaimana kita ketahui, distrukturkan secara apriori oleh pikian kita. Semua unsur formal atau struktural dalam objek yang diketahui, datang dari struktur pikiran. Sedangkan semua unsur material merupakan sesuatu yang pada dirinya tak dapat diketahui. Unsur-unsur formal yang secara apriori berasal dari struktur pikiran, merupakan suatu syarat yang bersifat niscaya bagi dimungkinkannya pengalaman kognitif. Dengan demikian, struktur apriori itu sendiri tidak pernah dialami syarat-syarat bagi dimungkinkannya konsep yang dapat diprediksikan pada benda atau objek fisik. Dalam arti ini kategori kant mirip dengan kategori yang dirumuskan Aristoteles. Bedanya adalah bahwa 10 kategori yang dirumuskan Aristoteles adalah klasifikasi jenis predikat. Kant menghadapi masalah bagaimana konsep itu terbentuk dan diterapkan pada objek pemikiran. Ia tidak mempunyai teori abstraksi sebagaimana Aristoteles. Penting bagi penjelasan kant tentang syarat-syarat apriori bagi dimungkinkannya pengetahuan manusia adalah skematisasi kategori. Kant berfikir bahwa harus ada sesuatu yang menghubungkan antara intuisi indrawi dan pengertian. Ketika kita membuat putusan, misalnya dalam bentuk S adalah P, subjeknya adalah sesuatu yang partikular yang secara indrawi diintuisikan dibawah bentuk apriori ruang dan waktu, sementara predikatnya adalah suatu konsep umum yang mengungkapkan pengertian kita tentang apa yang diintuisikan, dan konsep itu dimungkinkan oleh adanya kategori yang bersifat apriori. Agar supaya kategori itu menghasilakan konsep yang dapat diterapkan pada objek spasio-temporal, maka konsep itu entah bagaimana haruslah terhubung dengan ruang dan waktu. Hubungaan ini disebut skematisasi dan menurut kant terjadi berkat imajinasi. Apa persis ini artinya dan apakah secara internal pengertian ini koheren denagn pemikiran kant yang lain, merupakan butir perdebatan yang belum selesai diantara para sarjana pengkajian pemikiran kant. Untungnya kita tidak perlu terjebak dalam perdebatan tersebut. Butir gagasan yang penting untuk kita ingat, kerena kant tidak dapat mengabstraksikan konsep dari objek-objek fisik padahal perlu mengatribusikan ciri-ciri umum pada objek-objek tersebut dalam memikirkan mereka, ia harus menemukan suatu jalan bagaimana membawa ciri-ciri umum itu kedalam ruang dan waktu. Dalam arti tertentu Kant menghadapi maalah sebaliknya dari apa yang dihadapi Aristoteles. Kalau Aristoteles harus menemukan jalan bagaimana akal budi melepaskan kondisi-kondisi material dari konsep-konsep, Kant harus menemukan jalan bagaimana menghubungkan konsep-konsep dengan kondisi-kondisi material.

    BalasHapus
  46. Komentar ini telah dihapus oleh penulis.

    BalasHapus
  47. KHATARSIS
    Aristoteles mempertimbangkan kesenian puisi menjadi tiga jenis: tragedi, komedi dan epos. Tragedi menceritakan kehidupan kaum bangsawan. Komedi menceritakan tentang kehidupan orang jelata. Epos menceritakan tentang dewa-dewa.
    Dalam seni puisi yang dinikmati keindahannya oleh manusia, Aristoteles menerangkan bahwa ada tiga unsur yang terlibat :
    a.Obyek kesenian yaitu sasaran atau tujuan dan permasalahan yang ditampilkan kepada pendengar dan penonton.
    b.Media kesenian merupakan alat penghubung yang digunakan seniman untuk menciptakan hubungan dengan sang penonton atau pendengar, seperti suaranya, bahasanya, mimiknya, nada, ritme, irama.
    c.Penampilan kesenian yaitu cara menyampaikan puisi tsb, misalnya: menceritakan saja (naratif), secara sajak (deklamasi), percakapan (dialog).
    Aristoteles menegaskan bahwa tujuan dari semua kesenian adalah baik: sambil menikmati keindahan seni yang disajikan, penonton membayangkan apa yang bisa terjadi pada dirinya sendiri. Dengan ikut merasakannya, mereka mengalami pembebasan. Pembebasan dari kesulitan dan ketegangan jiwa yang sedang menekan manusia dinamakan Katharsis. Biasa juga diartikan sebagai puncak dan tujuan karya seni drama dalam bentuk tragedi Disamping menikmati keindahan dalam menyaksikan kesenian, manusia mengalami katarsis itu sebagai pembersih jiwa dirinya, yang mempunyai efek pengobatan rohaniah.
    Selama 2000 tahun lebih pandangan Aristoteles tentang Katharsis sangat mempengaruhi filsafat tentang karya seni, bahkan teori drama. Katharsis diharapakan terjadi dalam diri penonton kemudian dibawanya pulang sebagai pemahaman yang lebih mendalam tentang manusia, sebagai pembebasan batin juga dari segala pengalaman penderitaan.
    ALUR DRAMATIK
    Dalam cerita konvensional, struktur dramatik yang dipergunakan adalah struktur dramatik Aristoteles. Bagian-bagian dari struktur tersebut adalah: (Sumardjo dan Saini, 1986: 142-143)
    Eksposisi
    Eksposisi adalah bagian awal atau pembukaan dari suatu karya sastra drama. Bagian ini memberikan penjelasan atau keterangan mengenai berbagai hal yang diperlukan untuk dapat memahami peristiwa berikutnya dalam cerita, seperti tokoh cerita, masalah, tempat dan waktu, dan sebagainya.
    Komplikasi
    Bagian ini sering disebut juga penggawatan. Komplikasi merupakan lanjutan dari eksposisi dan peningkatan daripadanya. Dalam bagian ini salah seorang tokoh cerita mulai mengambil prakarsa untuk mencapai tujuan tertentu. Akan tetapi hasil dari prakarsa itu tidak pasti sehingga timbullah kegawatan.

    Klimaks
    Komplikasi kemudian disusul klimaks. Dalam bagian ini pihak-pihak yang berlawanan, berhadapan untuk melakukan perhitungan terakhir yang menentukan nasib tokoh dalam cerita.
    Resolusi
    Dalam resolusi semua masalah yang ditimbulkan oleh prakarsa tokoh terpecahkan.
    Konklusi
    Dalam bagian ini nasib tokoh cerita sudah pasti. Konklusi merupakan akhir cerita.

    BalasHapus
  48. MIMESIS
    Menurut Aristoteles, seni melukiskan kenyataan,penampakan kenyataan dan ide-ide tidak lepas dari yang satu dengan yang lainnya.Dalam setiap objek yang diamati didalam kenyataan terkandung idenya dan tidak dapat dilepaskan dari objeknya.
    Bagi Aristoteles, mimesis tidak semata-mata menjiplak kenyataan,melainkan merupakan sabuah proses kreatif penyair,sambil bertitik pangkal pada kenyataan,menciptakan sesuatu yang baru.Dengan bermimesis,penyair menciptakan kembali kenyataan.
    Aristoteles menilai sastra lebih tinggi dari pada penulisan sejarah. Dalam sejarah ditampilkan sebuah peristiwa yang hanya satu kali terjadi,sebuah fakta,tetapi dalam sastra lewat sebuah peristiwa konkret dibeberkan suatu pemandangan yang umum dan luas.
    Berbagai teori mimesis itu mempunyai satu unsur yang sama,perhatian diarahkan kepada hubungan antara gambar dan apa yang diganbarkan,tolok ukur estetik pertama ialah sejauh mana gambar itu sesuai dengan kenyataan. Apakah kenyataan itu merupakan dunia ide, dunia universal atau dunia yang khas,itu tidak begitu penting. maka Aristoteles berpendapat bahwa keindahan objek dicapai melalui keserasian bentuk yang setinggi-tingginya. Menurut Aristoteles,karya seni dinilai lebih indah dibandingkan dengan alam, meskipun dapat pula alam lebih tinggi daripada karya seni. Mimesis atau peniruan alam dipandang Aristoteles sebagai tragedi. Menurutnya, ciri seni bukanlah semata meniru akan tetapi lebih kepada membedah alam dan mengupas esensinya. Oleh sebab itu, menurut Aristoteles bahwa karya seni dibuat untuk memperbaiki sesuatu yang buruk. Tidak hanya sebagai "imitasi" alam belaka.Keindahan pada karya seni itu dapat diperoleh melalui simbol-simbol keindahan yang dijumpai pada berbagai benda dan karya sastra yang indah maupun bangunan yang mempesona.

    BalasHapus
  49. TIA MUKTI FATKHUR ROKHMAH (2611411019 )

    PERKEMBANGAN PEMIKIRAN ESTETIKA PADA PERIODE POSTMODERNISME MENURUT GAGASAN JACOBSON

    seperti halnya yang terjadi pada kemunculan aliran kritisme yang mengkritik faham/aliran sebelumnya yakni klasik dogmatisme, aliran postmodernisme ini juga muncul sebagai upaya dari sebuah pergerakan pemikiran para tokoh pemikir untuk mengkritik pandangan atau pemikiran modernisme. hal ini karena dalam banyak hal, selain memperlihatkan segi-segi positif, modernisme sebagai faham yang berkembang begitu luas dalam berbagai bidang kehidupan tetapi juga memperlihatkan segi-segi negatif.

    Pengertian Aliran Postmodernisme
    Postmodernisme merupakan reaksi dan penolakan terhadap pandangan modernisme yang dianggap terlalu banyak cara. Postmodernisme menunjukkan suatu rasa yang meluas tentang merosotnya wewenang modernisme dan munculnya epistimologi baru yang dalam jangkauan khasanah kesenian dan intelektual memutuskan hubungan dan atau berlawanan dengan paradigma modernisme. Dalam faham postmodernisme, pluralitas, heterofinitas, dialog, interaksi, dan relasi dengan unsur-unsur realitas yang lain, kreativitas yang mengalir terus mendapat tempat dan lebih dihargai. Postmodernisme memberikan kebebasan kehidupan dan kreativitas untuk menemukan unsur-unsurnya sendiri atau jati dirinya. beberapa aspek sentral yang diasosiasikan dengan postmodernisme dalam seni adalah penghapusan batas antara seni dan kehidupan sehari-hari, ekologis, lebih bersentuhan dengan lingkungan alam, runtuhnya perbedaan hirarkhis antara kebudayaan populer dan kebudayaan elit, eklektisisme stilistik dan pencampuran kode atau aturan.

    Postmodernisme adalah sebuah gerakan di kebudayaan kapitalis lebih lanjut, secara khusus dalam seni, yang memberikan pemahaman baru yang berbeda atas apa-apa yang telah menjadi semacam mistifikasi atas kebenaran atau kenyataan tunggal yang dikembangkan oleh ideologi modernisme.

    Teori Ekspresi Dan Intuisi
    Teori ekspresi adalah pendapat yang dikemukakan sebagai suatu keterangan mengenai sesuatu peristiwa yang bersifat menyatakan atau menjelaskan, misalnya suara, senyum, pandangan, isyarat, harapan dan kekecewaan. Sedangkan Intuisi adalah bisikan hati, gerak hati, daya batin untuk mengerti atau mengetahui sesuatu tidak dengan berpikir atau belajar.

    BalasHapus
  50. Animal Symbolicum (simbol-simbol pada binatang).
    merupakan segala sesuatu yang melambangkan adanya suatu tanda/lambang pada binatang yang terbentuk atas dasar konvensi sebagai identitas diri.
    Manusia Sebagai Animal Symbolicum
    Pendekatan ini pertama kali diperkenalkan oleh Ernst Cassirer sebagaimana termaktub didalam bukunya yang cukup monumental, yakni “An Essay on Man”. Pendekatan simbolis ini pada dasarnya juga bersandar pada perspektif biologis. Cassirer sendiri sebagaimana diungkapkan didalam bukunya tersebut mengatakan sangat terpengaruh oleh teori biologis Von Uexkull, seorang biolog Jerman, yang berpandangan bahwa pada dasarnya organisme biologis manapun tidak dapat dilepaskan ekosistem yang melingkupinya. Ekosistem ini sangat bersifat khusus dan tepat bagi organisme yang bersangkutan. Setiap organisme mempunyai pengalamannya sendiri dan karena itu memiliki dunianya sendiri.
    Gejala-gejala yang kita lihat dalam spesies biologis tertentu tidak dapat diterapkan kepada spesies-spesies lainnya. Pengalaman-pengalaman –dan karena itu juga realitas- dari dua organisme yang berlainan tidak dapat dibanding-bandingkan satu sama lain. Dengan kata lain antara struktur biologis suatu organisme dengan lingkungan yang dihadapinya sangatlah sesuai dan tepat.
    Berangkat dari perspektif biologis gaya Von Uexkull inilah Ernst Cassirer meneliti pola kehidupan yang secara khas manusiawi. Menurut Cassirer, dunia manusiawi meskipun mengikuti hukum-hukum biologis sebagaimana semua kehidupan organisme lainnya. Namun ia memiliki karakteristik baru yang menandai ciri khas manusia. Lingkaran fungsi-onal manusia tidak hanya berkembang secara kuatitatif, tetapi juga mengalami perubahan-perubahan kualitatif. Manusia telah menemukan cara baru untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Diantara sistem reseptor dan sistem efektor yang terdapat pada semua spesies binatang, pada manusia terdapat mata rantai yang mungkin dapat kita sebut sebagai sistem simbolis.


    Dengan pencapaian baru ini, maka kehidupan manusia segera mengalami perubahan yang sangat fundamental sekali. Manusia benar-benar hidup dalam dimensi realitas yang baru. Manusia tidak lagi hanya sekedar merespon lingkungannya secara instingtual dan langsung, tetapi secara intelektif mampu mengendalikan refleks biologis menjadi respons-respons interpretatif dan bahkan manipulatif. Dengan cara ini manusia tidak semata-mata hidup dalam dunia fisik semata-mata, tetapi ia hidup juga dalam suatu dunia simbolis.

    Pemikiran simbolis dan tingkah laku simbolis merupakan ciri khas yang betul-betul khas manusiawi dan seluruh kemajuan kebudayaan manusia mendasarkan diri pada kondisi-kondisi itu. Dari sinilah manusia menyusun realitas kebudayaannya yang secara umum merupakan hasil dari proses simbolisasi dalam hidup dan kehidupannya. Oleh karenanya apabila kita ingin mengetahui realitas terdalam dari hidup dan kehidupan manusia hendaknya kita telurusi dari kemampuan simbolisnya ini. Dari dasar pandangan ini Ernst Cassirer kemudian merumuskan definisi baru terhadap hakekat manusia yakni, Animal Symbolicum (hewan yang bersimbol). Menurutnya, definisinya tersebut bukan bermaksud untuk menggantikan definisi yang telah klasik, yakni animal rationale (hewan yang berakal).

    Tetapi dengan definisi tersebut ia berusaha untuk mengoreksi dan memperluas dimensi pengertian yang dikandungnya. Rasionalitas memang sifat yang melekat pada seluruh aktifitas manusia, tetapi definisi ini banyak menyimpan kesulitan-kesulitan tersendiri terutama dalam kaitannya dengan fakta-fakta kebudayaan manusia. Fakta-fakta kehidupan manusia manusia terutama sekali kebudayaannya tidaklah semata-mata bersifat rasional, tetapi kadangkala bersifat irrasional dan emosional.

    BalasHapus
  51. Semiotika menurut Pierce adalah suatu tindakan (action), pengaruh (influence), atau kerja sama 3 subjek yaitu tanda, objek dan interpretasi. tanda adalah segala sesuatu yang ada pada seseorang untuk menyatakan sesuatu yang lain dalam beberapa hal/kapasitas. Tanda dapat berarti sesuatu bagi seseorang jika hubungan yang berarti ini diperantarai oleh interpretasi. jadi esensi tanda menurut Pierce adalah kemampuan "mewakili" dalam beberapa hal/kapasitas tertentu. Semoitika adalah studi tentang tanda dan segala yang berhubungan dengannya:cara berfungsinya, hubungannya, dengan tanda-tanda lain., pengirimannya dan penerimaannya oleh mereka yang mempergunakan.

    Petanda & Penanda
    Petanda (signifie) adalah unsur konseptual, gagasan,atau makna yang terkandung dalam penanda tersebut.Sedangkan Penanda (signifient) adalah berupa bunyi-bunyi ujaran/huruf-huruf tulisan. Misalnya bunyi 'buku', bunyi atau tulisan buku itulah yang disebut penanda, sedangkan sesuatu yang diacu itulah petanda. dalam teori Saussure, walau keduanya dapat disebut sebagai dwitunggal hubungan antara penanda dengan petanda bersifat arbiter artinya hubungan antara wujud formal bahasa dengan konsep/acuannya, bersifat "semaunya" berdasarkan kesepakatan sosial. antara keduanya tidak bersifat identik bahwa bunyi 'buku' itu mengacu pada benda itu, hal itu terjadi karena masyarakat pemakai tanda (bahasa) itu menyepakatinya. kenyataan bahwa bahasa merupakan sebuah sistem tanda yang paling lengkap dan sempurna. tanda-tanda itu dapat berupa gerakan anggota badan, mata, bentuk tulisan, warna, karya seni, dll.

    Ikon merupakan simbol yang mempunyai arti pada objek yang ditandainya. selain itu, ikon adalah tanda gambar dari wujud yang dapat diwakili.Dapat dikatakan ikon jika ia berupa hubungan kemiripan. Indeks adalah tanda yang menunjukkan adanya sesuatu yang lain seperti ada asap ada api. indeks merupakan sesuatu yang menyebabkan sutu peristiwa yang berkaitan. Disebut indeks jika ia berupa hubungan kedekatan eksistensi. SIMBOL adalah segala sesuatu yang melambangkan adanya sesuai benda yang digunakan identitas sendiri. Disebut simbol jika ia berupa hubungan sudah terbentuk secara konvensi.

    Meaning dan significance (signifikasi) merupakan proses kebudayaan sebagai proses komunikasi, jadi sistem signifikasi yang mendasarinya sangat penting untuk menghindari kesalahpahaman. Kode adalah sistem signifikasi yang merangkaikan kenyataan yang ada dengan unit-unit yang tidak ada. Jika sesuatu yang benar-benar tersaji pada persepsi orang yang dituju mewakili sesuatu yang lain, itu berarti ada signifikasi. Sistem signifikasi adalah konstruk semiotika yang otonom, yang mempunyai model eksistensi abstrak, bebas dari kemungkinan tindak komunikatif yang dimungkinkannya.

    BalasHapus
  52. Litterariness dalam bahasa latin yang berarti mengenai sastra. Sastra adalah teks-teks yang tidak melulu disusun/dipakai untuk suatu tujuan komunikatif yang praktis dan berlangsung untuk sementara waktu. Sastra merupakan sebuah ciptaan, sebuah kreasi, bukan pertama-tama sebuah imitasi. sastra merupakan suatu luapan emosi yang spontan. Sastra bersifat otonom, tidak mengacu kepada sesuatu yang lain, sastra tidak bersifat komunikatif. Karya sastra yang otonom bercirikan suatu koherensi, karena sastra menghidangkan sebuah sintesa antara hal-hal yang saling berkaitan, dan sastra mengungkapkan yang tak terungkap misalnya makna puisi itu sulit dipahami secara sekilas.

    Horison Harapan yaitu penafsiran masing-masing pembaca, dalam hal ini pembaca diminta menyelesaikan sendiri ending ceritanya.
    Dekonstruksi berarti penelitian mengenai intertekstualitas, mencari bekas-bekas teks-teks lain. seorang kritikus yang mengikuti paham dekonstruksi menguraikan struktur-struktur retorik yang dipakai mencari pengaruh-pengaruh dari teks-teks yang dulu pernah ada, meneliti etimologi kata-kata yang dipergunakan lalu berusaha agar dari teks yang sudah ada dibongkar itu disusun menjadi sebuah teks baru. Yang menjadi sasaran dekonstruksi adalah memperlihatkan sejauhmana seorang pengarang mempergunakan pola-pola bahasa dan pemikiran guna memberi bentuk kepada suatu visi tertentu. Tugas terpenting seorang dekonstruksi adalah terus-menerus melacak kembali bekas-bekas lain itu. Aliran dekonstruksi mengatakan bahwa mereka didukung oleh suatu filsafat tertentu serta sebuah pandangan mengenai bahasa.






    DAFTAR PUSTAKA
    http://estetikajawa.blogspot.com ( diunduh tanggal 17 pukul 23.24 WIB.
    Yuswadi, Saliya. 1999 ; Sejarah Estetika; Balai Pustaka, Yogyakarta.

    BalasHapus
  53. Nama :Dany Kristian Agustinus NIM: 2611411021

    TEORI EKSPRESI DAN INTUISI
    Periode post modern Hans Robert Jauss

    Teori ekspresi adalah pendapat yang dikemukakan sebagai suatu keterangan mengenai sesuatu peristiwa yang bersifat menyatakan atau menjelaskan, misalnya suara, senyum, pandangan, isyarat, harapan dan kekecewaan. Sedangkan Intuisi adalah bisikan hati, gerak hati, daya batin untuk mengerti atau mengetahui sesuatu tidak dengan berpikir atau belajarEkspresi dan intuisi.(Hans Robert Jauss)
    Hans Robert Jauss (horison harapan).Jauss menitikberatkan perhatiannya kepada bagaimana karya sastra diterima pada suatu masa tertentu berdasarkan horison penerimaan tertentu atau berdasarkan horison yang diharapkan. Karya sastra dapat hidup jika pembaca berpartisipasi dan dengan partisipasi pembaca itu, konteks sejarah terciptanya karya sastra bukan merupakan sesuatu yang faktual, tetapi hanya merupakan rangkaian peristiwa yang berdiri sendiri yang ujudnya terpisah dari embaca. Karya yang telah dipahami pembaca menjadi modal bagi resepsi. Proses resepsi menjadi perluasan semiotik yang timbul dalam
    pengembangan dan perbaikan suatu sistem. Horison penerimaan mungkin
    berubah (bahkan berkali-kali).
    Selanjutnya Jauss menyatakan bahwa pendekatannya bersifat parsial, tidak menyeluruh karena hanya melakukan hubungan hari ini dengan "virtue" sejarah. Resepsi hanya berklaitan dengan saat karya itu dibaca sehingga terdapat konvergensi antara teks dan resepsi yang berupa dialog antara subjek hari ini dengan subjek masa lampau. Tradisi berperan penting dalam hal ini. Tradisi yang dimaksud adalah wawasan yang mendasari resepsi yang dilakukan pada saat tertentu.Jika resepsi Jauss mementingkan sejarah pada suatu saat tertentu, maka Resepsi Iser bertitik tolak pada kesan(sebenarnya pada tahap akhir teori Jauss juga disebut-sebut tentang kesan). Iser mempermasalahkan konkretisasi karya sastra, yakni reaksi pembaca terhadap teks yang diresepsi. Dalam resepsi Iser, terdapat dinamika pembaca. Ia akan memilih satu di antara berbagai kemungkinan realisasi, sehingga tugas kritikus dalam pandangan Iser bukan menerangkan teks sebagai objek, tetapi menerapkan efeknya kepada pembaca. Kodrat teks itulah yang mengizinkan beraneka ragam kemungkinan pembacaan, sehingga lahir pembaca implisit(pembaca yang diciptakan sendiri oleh teks dirinya dan menjadi jaringan kerja struktur yang mengundang jawaban, yang mempengaruhi kita untuk membaca dalam cara tertentu) dan pembaca nyata (yang menerima citra mental tertentu dalam proses pembacaan yang diwarnai oleh persediaan pengalaman yang ada). Dalam resepsi Iser, ada hubungan teks dan pembaca. Hubungan itu melalui tiga langkah, yakni 1. sketsa tentang suatu teks yang membedakan dengan teks-teks sebelumnya; 2. pengenalan dan analisis terhadap kesan dasar teks; dan 3. mencari kemungkinan yang ada tentang makna karya satra. Karya sastra selanjutnya memberi kesan kepada pembaca, sehingga teori Resepsi sastra Jauss dan Iser tampaknya mendapat pengaruh Hermeunetika dari Schleiermacher dan Gadamer.
    Jika Jauss dan Iser berperan dalam resepsi sastra yang memberi kesan kepada pembaca, Edmund Husserl, seorang ahli filsafat modern terkenal dengan teori Fenomenologi-nya dalam kaitan antara karya sastra dengan pembacanya. Teori fenomenologi menuntut untuk menunjukkan kepada kita alam yang mengarisbawahi, baik kesadaran manusia maupun kesadaran fenomena.Teori ini adalah usaha untuk menghidupkan ide(setelah zaman Romantik) bahwa pikiran manusia individual adalah pusat dan asal semua arti. Teori ini tidak mendorong keterlibatan subjektif secara murni untuk struktur mental kritikus karena menggunakan berbagai lapis norma karya, tetapi tipe kritik sastra yang mencoba masuk ke dalam dunia karya seorang penulis dan sampai pada suatu pengertian tentang alam dasar atau intisari tulisan sebagaimanatampak dalam kesadaran kritikus.

    BalasHapus
  54. ANIMAL SYMBOLICUM (simbol-simbol pada binatang)
    merupakan segala sesuatu yang melambangkan adanya suatu tanda/lambang pada binatang yang terbentuk atas dasar konvensi sebagai identitas diri.
    (dari kata Yunani: semeion yang berarti tanda) adalah ilmu yang meneliti tanda-tanda, sistem-sistem tanda, dan proses suatu tanda diartikan (Hartoko, 1986: 131). Dengan kata lain, ilmu yang mempelajari berbagai objek, peristiwa, atau seluruh kebudayaan sebagai tanda (Eco, 1979: 6). Tanda itu sendiri diartikan sebagai sesuatu yang bersifat representatif, mewakili sesuatu yang lain berdasarkan konvesi tertentu. Konvensi yang memungkinkan suatu objek, peristiwa, atau gejala kebudayaan menjadi tanda itu disebut juga tanda sosial. (Yosep Yapi Yaum, 1997: 40)

    Meskipun kajian mengenai tanda dilakukan sepanjang abad, tetapi pengkajian secara benar-benar ilmiah baru dilakukan awalabad ke-20, yang dilakukan oleh dua orang ahli yang hidup pada zaman yang sama, dengan konsep dan paradigma yang hampir sama, tetapisama sekali tidak saling mengenal. Kedua sarjana tersebut adalah Ferdinand de Saussure (1857-1913) dan Charles Sanders Pierce (1839-1914). Saussure adalah ahli bahasa, sedangkan Pierce adalah ahli filsafat dan logika, tetapi disamping itu ia juga menekuni bidang ilmu kealaman, psikologi,astronomi, dan agama. Saussure menggunakan istilah semiologi (sebagai mzhab Eropah Kontinental), sedangkan Pierce menggunakan istilah semiotika (sebagai mazhab Amerika, mazhab Anglo Sakson). Dalam perkembangan berikut, istilah semiotikalah yang lebih popular.

    SEMIOTIKA
    Semiotika tidak hanya diterapkan dalam karya seni, tetapi dalam semua bidang kehidupan praktis sehari-hari, juga dalam mode show atau reklame, seperti tata busana, tata hidangan, perabot rumah tangga, asesori, seperti model, dan sebagainya.(Nyoman Kutha Ratna, 2007: 97-101)
    Semiotikus kontemporer yang cukup berwibawa adalah Umberto Eco, lahir di Italia tahun 1932. pada dasarnya Eco menjadi terkenal melalui dua novelnya yang mempermasalahkan masa lampau yang berjudul The Name of The Rose dan Foucault Pendulum. Menurut Eco (1979:7) semiotika berhubungan dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan tanda. Sebuah tanda adalah segala sesuatu yang secara signifikan dapat menggantikan sesuatu yang lain. Sesuatu yang lain tidak harus eksis atau hadir secara aktual. Jadi, semiotika adalah ilmu yang mempelajari segala sesuatu yang dapat digunakan untuk berbohong. Batu, sebagai semata-mata batubukanlah tanda, melainkan benda, material, tetapi apabila batu tersebut dimanfaatkan untuk mewakili sesuatu yang lain, misalnya, sebagai jimat, maka batu tersebut sudah berubah menjadi tanda.
    Dengan adanya tanda-tanda sebagai ciri khas yang meliputi seluruh kehidupan manusia, dari komunikasi yang paling alamiah hingga sistem budaya yang paling kompleks, maka bidang penerapan semiotika pada dasarnya tidak terbatas. Eco menyebutkan beberapa bidang penerapan yang dianggap relevan, di antaranya:
    semiotika hewan, masyarakat nonhuman,
    semiotika penciuman,
    semiotika komunikasi dengan perasa,
    semiotika pencicipan, dalam masakan,
    semiotika paralinguistik, suprasegmental,
    semiotika medis, termasuk psikiatri,
    semiotika kinesik, gerakan,
    semiotika musik,
    semitika bahasa formal: morse, aljabar,
    semiotika bahasa tertulis: alfabet kuno,
    semiotika bahasa alamiah,
    semiotika komunikasi visual,
    semiotika benda-benda,
    semiotika struktur cerita,
    semiotika kode-kode budaya,
    semiotika estetika dan pesan,
    semiotika komunikasi massa,
    semiotika teks.

    BalasHapus